NaraKabar
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Potret Kumuh Kampung Pelangi di Selatan Jakarta: Dihantui Banjir Saat Hujan Deras

Published Oktober 17, 2026 · Updated Oktober 17, 2026 · By David Moore - narakabar.com

Foto : David Moore - narakabar.com

Permukiman Kampung Pelangi Jaksel Masih Bergulat dengan Jalan Becek dan Ancaman Banjir

Narakabar.com – Warga Kampung Pelangi di Jakarta Selatan kembali menyuarakan kekhawatiran atas kondisi lingkungan tempat tinggal mereka yang dinilai belum layak dan kurang sehat, terutama ketika hujan deras turun. Genangan hingga banjir, jalan yang berlumpur atau becek, serta tata lingkungan yang belum merata menjadi persoalan yang masih dirasakan pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Di kawasan permukiman itu, hujan dengan intensitas tinggi dapat mengubah aktivitas harian warga. Banjir menjadi ancaman yang muncul ketika curah hujan membesar, sementara beberapa jalur di lingkungan tersebut belum nyaman dilalui akibat kondisi tanah dan jalan yang basah. Situasi ini bukan hanya menyulitkan mobilitas, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran bagi keluarga yang membesarkan anak-anak di kawasan tersebut.

Perbaikan Belum Menjangkau Seluruh Bagian Lingkungan

Kondisi Kampung Pelangi tidak sepenuhnya sama di setiap titik. Akses menuju musala telah terlihat lebih rapi, namun bagian lain dari permukiman masih menghadapi persoalan jalan becek. Perbedaan kondisi antarlokasi itu membuat warga merasakan manfaat penataan yang belum merata.

Anita, warga Kampung Pelangi, menggambarkan bahwa sejumlah ruas jalan masih membutuhkan perhatian. Ia menyebut jalur menuju musala telah lebih tertata, tetapi kondisi di area lain belum menunjukkan perubahan serupa.

“Ya kumuh, kalau di sini kan akses ke musala jadi jalanannya rapi. Tapi kalau di depan sana, ke belakang sana becek masih,” kata Anita saat ditemui di Kampung Pelangi, Jakarta Selatan, Sabtu (17/10/2026).

Jalan lingkungan memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari warga. Jalur tersebut dipakai untuk keluar-masuk rumah, menuju fasilitas ibadah, menjalankan kegiatan keluarga, dan menunjang pergerakan di dalam kampung. Ketika sebagian akses masih becek, warga harus menghadapi hambatan tambahan, khususnya setelah hujan mengguyur wilayah itu.

Penataan lingkungan juga berkaitan dengan rasa aman dan kenyamanan penghuni. Kawasan yang lebih rapi dapat membantu warga menjalankan aktivitas dengan lebih mudah, sedangkan titik-titik yang belum tertata berpotensi terus menjadi keluhan. Dalam konteks Kampung Pelangi, warga melihat kebutuhan perbaikan tidak cukup hanya berfokus pada satu jalur, melainkan perlu menjangkau area permukiman secara lebih menyeluruh.

Banjir Muncul Saat Hujan Berintensitas Tinggi

Selain persoalan akses jalan, banjir menjadi masalah yang paling dikhawatirkan ketika hujan turun deras. Anita menjelaskan bahwa genangan atau banjir tidak selalu muncul pada hujan biasa. Namun, saat intensitas hujan meningkat, warga menghadapi kemungkinan banjir di lingkungan mereka.

“Banjir, kalau hujannya apa lagi gede gitu, pasti banjir, kalau cuman hujan-hujan biasa enggak banjir,” ujarnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa cuaca menjadi faktor yang sangat menentukan kondisi Kampung Pelangi. Hujan ringan belum tentu menimbulkan gangguan, tetapi hujan lebat dapat segera mengubah keadaan lingkungan. Bagi warga, ketidakpastian ini membuat musim hujan menjadi periode yang perlu dihadapi dengan kewaspadaan lebih besar.

Banjir di kawasan permukiman dapat memengaruhi berbagai kebutuhan dasar warga, mulai dari akses berjalan kaki hingga kebersihan lingkungan. Ketika air menggenang bersamaan dengan jalan yang becek, kegiatan rutin menjadi lebih sulit dilakukan. Karena itu, persoalan banjir dan kondisi jalan tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan penataan lingkungan yang lebih baik.

Kekhawatiran terhadap Tumbuh Kembang Anak

Keluhan warga tidak hanya berfokus pada ketidaknyamanan fisik akibat jalan yang sulit dilalui atau banjir ketika hujan besar. Anita juga menilai keadaan lingkungan tersebut kurang mendukung bagi anak-anak yang sedang bertumbuh. Kekhawatiran ini muncul karena anak-anak menjalani banyak aktivitas di sekitar rumah dan lingkungan tempat mereka tinggal.

“Ya lingkungannya enggak sehat aja kalau buat anak lagi tumbuh kembang,” tuturnya.

Bagi keluarga, lingkungan hunian merupakan ruang pertama tempat anak belajar, bermain, dan berinteraksi setiap hari. Kondisi sekitar rumah yang bersih, aman, serta mudah diakses menjadi bagian penting dari kenyamanan hidup. Ketika warga masih melihat kawasan mereka sebagai lingkungan kumuh dan belum tertata, perhatian terhadap masa tumbuh kembang anak menjadi semakin kuat.

Di sejumlah titik Kampung Pelangi, terlihat kandang ayam dan burung berada di area permukiman. Keberadaan kandang tersebut, bersama kondisi lingkungan yang becek dan belum rapi, memperkuat gambaran persoalan kebersihan yang dirasakan warga. Penataan yang lebih baik dibutuhkan agar kawasan hunian tidak hanya lebih nyaman saat cuaca cerah, tetapi juga lebih siap menghadapi hujan deras.

Keluhan yang disampaikan warga Kampung Pelangi mencerminkan kebutuhan akan perbaikan yang menyentuh persoalan sehari-hari: akses yang layak, lingkungan yang lebih tertata, serta kondisi hunian yang terasa lebih aman bagi keluarga. Hingga Sabtu, 17 Oktober 2026, banjir saat hujan lebat dan jalan becek masih menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi warga di kawasan Jakarta Selatan tersebut.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Potret Kumuh Kampung Pelangi di Selatan?

Potret Kumuh Kampung Pelangi di Selatan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Potret Kumuh Kampung Pelangi di Selatan matter?

Potret Kumuh Kampung Pelangi di Selatan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.