NaraKabar
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

BPS Jelaskan Mengapa Bisa Masuk Desil Tinggi Meski Merasa Ekonomi Pas-pasan

Published Agustus 24, 2026 · Updated Agustus 24, 2026 · By Sarah Martinez - narakabar.com

Foto : Sarah Martinez - narakabar.com

Makna Angka Desil DTSEN: Bukan Tolok Ukur Mutlak, Melainkan Posisi Relatif

Narakabar.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mengklarifikasi bahwa angka desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) tidak boleh dibaca sebagai penanda kemiskinan absolut atau sebagai angka nominal pendapatan dan kekayaan sebuah keluarga. Menurut penjelasan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, angka tersebut semata-mata menggambarkan di mana posisi relatif suatu keluarga berada dalam skala pemeringkatan kesejahteraan.

"Desil menunjukkan posisi relatif suatu keluarga dibandingkan keluarga lainnya berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi," kata Amalia dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (23/8/2026).

Metode Statistik di Balik Penentuan Desil

Penentuan posisi desil tidak bertumpu pada satu indikator tunggal—baik penghasilan, kepemilikan satu jenis barang, daya listrik, jenis pekerjaan, maupun parameter spesifik lainnya. Sebaliknya, pemeringkatan mengintegrasikan sejumlah karakteristik sosial ekonomi secara simultan, meliputi kondisi perumahan, akses sumber air minum, bahan bakar dan energi untuk memasak, kepemilikan aset, daya serta konsumsi listrik, komposisi anggota keluarga, tingkat pendidikan, status pekerjaan, kondisi kesehatan, dan disabilitas.

Kombinasi informasi tersebut diproses melalui pendekatan statistik bernama Proxy Means Test (PMT), yang mengestimasi tingkat kesejahteraan keluarga berdasarkan karakteristik yang dapat diamati. PMT merupakan metode yang juga diterapkan secara internasional, khususnya ketika data pendapatan atau konsumsi rumah tangga sulit diperoleh maupun diverifikasi secara utuh. Dengan pendekatan ini, berbagai informasi sosial ekonomi yang teramati dapat dimanfaatkan secara sistematis untuk memperkirakan posisi kesejahteraan relatif suatu keluarga.

Karena bergantung pada kombinasi banyak variabel, satu kondisi atau satu indikator saja tidak otomatis menentukan posisi desil sebuah keluarga. Keluarga yang berada pada desil yang sama pun tidak serta-merta memiliki pendapatan, pola pengeluaran, maupun kondisi sosial ekonomi yang identik.

Cakupan DTSEN Versi 3 Tahun 2026

DTSEN Versi 3 Tahun 2026 menjangkau 290,13 juta individu yang tersebar dalam 95,98 juta keluarga, dengan datum per 10 Juli 2026. Sebagai ilustrasi, keluarga yang tercatat pada desil 3 berarti menempati kelompok ketiga dari sepuluh kelompok dalam hierarki kesejahteraan relatif tersebut.

Fungsi Desil bagi Kebijakan Publik

BPS menegaskan bahwa desil berfungsi sebagai instrumen pemeringkatan yang membantu pemerintah mengenali segmen masyarakat berdasarkan posisi kesejahteraan relatifnya. Kementerian dan lembaga dapat memanfaatkan informasi tersebut sebagai salah satu dasar dalam menetapkan sasaran atau prioritas program, sesuai tujuan dan ketentuan masing-masing.

Sehubungan dengan itu, desil bukanlah daftar penerima program tertentu, dan penggunaannya selalu harus dibaca dalam konteks program yang bersangkutan. Posisi desil suatu keluarga juga bersifat dinamis—dapat bergeser seiring perubahan kondisi sosial ekonomi keluarga maupun pergeseran posisi relatifnya dibandingkan keluarga lain.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is BPS Jelaskan Mengapa Bisa Masuk Desil?

BPS Jelaskan Mengapa Bisa Masuk Desil is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does BPS Jelaskan Mengapa Bisa Masuk Desil matter?

BPS Jelaskan Mengapa Bisa Masuk Desil matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.