NaraKabar
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Bukan Cuma Penonton, Gus Yahya Ingin NU Jadi ‘Active Player’ di Isu Strategis Global

Published Agustus 25, 2026 · Updated Agustus 25, 2026 · By Sarah Martinez - narakabar.com

Foto : Sarah Martinez - narakabar.com

Gus Yahya: NU Bukan Cuma Penonton Global

Narakabar.com – Bukan Cuma Penonton Gus Yahya ingin NU menjadi pemain aktif di panggung isu strategis dunia. Pernyataan itu diutarakan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dalam forum "Bincang-Bincang Menjelang Muktamar Ke-35 NU: NU Masa Depan dan Masa Depan NU" di Jakarta, Senin (24/8/2026). Di hadapan peserta yang terdiri dari kiai, akademisi, dan jurnalis, Gus Yahya memaparkan urgensi transformasi peran organisasi agar tidak lagi sekadar mengamati dinamika geopolitik, melainkan turut membentuk arah kebijakan global.

Erosi Batas Kultural dan Lonjakan Identitas

Gus Yahya menyoroti bahwa sekat sosial dan kultural yang dulu menjadi penanda khas warga NU telah melebur secara masif. Ia merujuk wacana Gus Dur di era 1980-an yang memosisikan pesantren sebagai subkultur tersendiri, lalu menegaskan bahwa batas-batas tersebut kini tidak lagi relevan.

"Gus Dur tahun 80-an memperkenalkan wacana tentang pesantren sebagai subkultur dan sekarang sudah enggak ada karena batas sosial, batas kultural sudah hilang semua, sudah lebur," ujar Gus Yahya dalam keterangannya, Senin (24/8/2026).

Di samping erosi kultural itu, data survei memperlihatkan lonjakan mencolok pada jumlah umat Islam yang secara eksplisit mengidentifikasi diri sebagai warga NU. Proporsi tersebut meloncat dari sekitar 27 persen pada tahun 2005 menjadi sekitar 57,2 persen pada tahun 2024, naik dalam rentang waktu hanya 18 tahun.

"Ini luar biasa. Bayangkan dalam waktu hanya 18 tahun," katanya. "Lalu NU dipersepsikan sebagai barang apa sekarang? Sementara, ya, kita menyadari realitas kehidupan NU sendiri itu juga mengalami perubahan-perubahan."

Bukan Cuma Penonton Gus Yahya ingin organisasi merespons lonjakan identitas tersebut dengan penguatan struktur, bukan dengan pelarutan makna ke dalam persepsi awam masyarakat.

Konsolidasi Struktural: Dari Kasual Menuju Formal

Menjawab pelarutan persepsi publik, Gus Yahya menilai struktur Jam'iyyah NU wajib diperkuat agar tetap berfungsi sebagai rujukan utama dalam mendefinisikan jati diri organisasi. Ia mendorong pergeseran model kepemimpinan dari pola kasual ke pola yang lebih formal dan terstruktur.

"Kalau struktur tidak bisa menjadi rujukan dari ta'rif NU, maka justru struktur ini yang kemudian larut ke dalam persepsi ke-NU-an yang awam di tengah-tengah masyarakat luas dan itu secara kultural sudah mulai terjadi," tegasnya.

"Maka itu yang saya tawarkan ketika saya mencalonkan diri di Lampung itu bahwa saya ingin melakukan konsolidasi struktural dengan mentransformasikan model struktural NU dari model kasual menjadi model yang lebih formal," tambahnya.

Ia menekankan bahwa konsolidasi ini bukan berarti menutup ruang partisipasi, melainkan memastikan setiap keputusan strategis memiliki landasan organisatoris yang jelas dan akuntabel. Tanpa fondasi tersebut, NU berisiko kehilangan kapasitas untuk berbicara di forum internasional.

Jaga Marwah: NU Tetap di Jalur Khittah

Soal dinamika politik dalam negeri, Gus Yahya menegaskan kembali komitmen NU untuk menjaga jarak dari politik kekuasaan, sejalan dengan Khittah Situbondo. Ia merujuk fakta bahwa pemilih NU tersebar di berbagai partai—mulai dari Gerindra, PDIP, Golkar, hingga PKB—sehingga organisasi tidak terikat pada satu kekuatan politik tertentu.

Bukan Cuma Penonton Gus Yahya ingin NU hadir sebagai kekuatan moral dan intelektual yang independen, mampu memberikan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah maupun masyarakat internasional tanpa kehilangan marwah sebagai organisasi keagamaan.

FAQ: Hal yang Perlu Diketahui

Apa yang dimaksud dengan "active player" menurut Gus Yahya?

Istilah tersebut merujuk pada peran NU yang tidak lagi pasif mengamati isu strategis global—seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, atau tata kelola multilateral—melainkan aktif menyuarakan posisi, menyusun kajian, dan menjalin dialog dengan pemangku kepentingan internasional.

Kapan dan di mana forum ini berlangsung?

Forum "Bincang-Bincang Menjelang Muktamar Ke-35 NU" digelar di Jakarta pada Senin, 24 Agustus 2026, sebagai bagian dari rangkaian persiapan menuju Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama.

Apa hubungan konsolidasi struktural dengan Khittah Situbondo?

Konsolidasi struktural yang diusulkan Gus Yahya bersifat komplementer dengan Khittah Situbondo. Penguatan struktur internal tidak mengubah prinsip independensi politik NU; justru dengan struktur yang formal, NU lebih mampu menjaga jarak dari kekuasaan sekaligus memperkuat kapasitas advokasi di tingkat global.

Related Reading