NaraKabar
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Di Balik Penembakan 3 ASN di Muliama: Mengapa Konflik Bersenjata Papua Tak Kunjung Reda?

Published September 14, 2026 · Updated September 14, 2026 · By Sarah Jackson - narakabar.com

Foto : Sarah Jackson - narakabar.com

Tiga ASN Tewas dalam Penembakan di Muliama

Narakabar.com – Kekerasan bersenjata kembali merenggut nyawa warga sipil di Papua Pegunungan. Tiga aparatur sipil negara dari Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya meninggal setelah ditembak di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, usai menjalankan tugas pelayanan masyarakat.

Korban adalah Aprida Rapi’ (49), Alfonsius Albinus Mehan (35), dan Wili Mbuik (24). Ketiganya sebelumnya terlibat dalam kegiatan survei, penyuluhan peternakan, serta penyaluran bantuan pangan berupa ternak babi di Kampung Kimbim, Distrik Asologaima.

Peristiwa ini diduga melibatkan Kelompok Kriminal Bersenjata Kodap III Ndugama. Penembakan tersebut kembali menyoroti risiko yang dihadapi warga sipil dan petugas pelayanan publik di tengah konflik bersenjata yang belum mereda di sejumlah wilayah Papua.

Kronologi Penyerangan terhadap Rombongan

Rombongan ASN berjumlah sebelas orang sedang dalam perjalanan setelah menyelesaikan kegiatan di Asologaima. Pada Rabu, 9 September 2026, sekitar pukul 15.53 WIB, perjalanan mereka dihentikan oleh seseorang yang membawa parang.

Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026 Kombes Yusuf Sutejo menjelaskan bahwa rombongan diminta turun dari kendaraan. Dalam situasi itu, sebagian orang dibawa ke area belakang kendaraan, sementara yang lain berupaya menyelamatkan diri.

“Ketiga korban ini digiring ke belakang kendaraan dan di situ mereka ditembak, mereka dieksekusi,” kata Yusuf kepada wartawan, Jumat (11/9/2026).

Delapan anggota rombongan berhasil selamat dan memberikan kesaksian mengenai kejadian tersebut. Penyelidikan sementara mengarah pada dugaan keterlibatan KKB Kodap III Ndugama.

Luka Tembak dan Upaya Penanganan Korban

Aprida Rapi’, Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Jayawijaya, meninggal akibat luka tembak di bagian perut. Alfonsius Albinus Mehan, yang bekerja sebagai dokter hewan, mengalami tembakan di bagian belakang kepala dan sisi kiri tubuhnya. Ia meninggal di lokasi kejadian.

Sementara itu, Wili Mbuik sempat dibawa ke RSUD Wamena setelah terkena tembakan di pinggang kanan. Nyawanya tidak tertolong saat menjalani perawatan medis.

Ketiga korban merupakan warga sipil yang sedang menjalankan mandat pelayanan pemerintahan di bidang pertanian dan peternakan. Kegiatan mereka mencakup bantuan pangan serta pendampingan yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat di wilayah tugas.

Petunjuk Senjata yang Digunakan

Keterangan para saksi mata menunjukkan para penyerang membawa dua senjata api laras panjang. Di lokasi kejadian, aparat menemukan selongsong peluru berkaliber 5,56 milimeter, yang memperkuat dugaan penggunaan senjata laras panjang dalam serangan itu.

Selain itu, ditemukan pula selongsong peluru kaliber 9 milimeter. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa senjata laras pendek juga kemungkinan dipakai dalam aksi penembakan. Rangkaian bukti ini menjadi bagian dari proses penyelidikan untuk mengungkap pelaku dan jaringan yang terlibat.

Konflik yang Terus Membebani Warga Sipil

Penembakan di Muliama bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Konflik bersenjata di Papua telah berlangsung lama dengan latar persoalan yang saling berkaitan, termasuk keamanan, identitas politik, pembangunan, dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap negara.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh aparat dan kelompok bersenjata. Warga sipil, tenaga layanan publik, keluarga, serta anak-anak turut menghadapi ketidakpastian ketika kekerasan terjadi di sekitar permukiman atau jalur mobilitas masyarakat.

Tim Papua Komnas HAM mencatat 42 peristiwa kekerasan dan konflik bersenjata sepanjang semester pertama 2026. Dalam rentang itu, 59 orang meninggal dan 50 lainnya mengalami luka-luka.

Catatan tersebut menunjukkan situasi yang masih serius. Sepanjang 2025, terdapat 97 peristiwa kekerasan dan konflik bersenjata, dengan 119 orang meninggal dunia serta 43 orang terluka.

“Dampak dari peristiwa kekerasan dan konflik bersenjata ini juga menimbulkan ribuan pengungsi yang tersebar di sejumlah wilayah di Papua antara lain Jayapura, Nabire, Mimika, Wamena, Sorong, dan Teluk Bintuni,” tulis keterangan Komnas HAM.

Pengungsian dalam jumlah besar memperluas dampak konflik melampaui lokasi terjadinya penembakan atau kontak senjata. Keluarga yang berpindah dari tempat tinggalnya menghadapi kebutuhan mendesak, mulai dari tempat berlindung, layanan kesehatan, hingga keberlanjutan pendidikan anak.

Desakan Perlindungan Pengungsi dan Penghentian Kekerasan

Komnas HAM menyoroti pentingnya penghentian serangan terhadap warga sipil. Lembaga tersebut juga mendorong langkah kebijakan yang mampu menekan kekerasan sekaligus memastikan pengungsi memperoleh perlindungan atas hak-hak dasarnya.

Dalam pertemuan di Gedung Bina Graha, Kantor Staf Kepresidenan RI, Jakarta, pada Kamis, 10 September 2026, anggota Komnas HAM Atnike Nova Sigiro dan Amiruddin Al Rahab menyampaikan kondisi Papua kepada Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman.

Komnas HAM meminta agar situasi itu dikomunikasikan kepada Presiden Prabowo. Harapannya, penanganan krisis tidak berhenti pada respons keamanan setelah peristiwa kekerasan, melainkan juga mencakup pemulihan dan perlindungan bagi masyarakat terdampak.

Hak yang perlu dijamin bagi pengungsi mencakup hunian layak, akses kesehatan, pendidikan bagi anak-anak, dan kebutuhan dasar lainnya. Komnas HAM turut mengusulkan keterlibatan lintas lembaga, meliputi TNI, Polri, Kemendikdasmen, Kemensos, Kemenkes, serta Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman.

Kasus penembakan terhadap Aprida Rapi’, Alfonsius Albinus Mehan, dan Wili Mbuik memperlihatkan bahwa eskalasi konflik memiliki konsekuensi langsung terhadap pelayanan publik di daerah. Perlindungan bagi warga sipil dan petugas yang menjalankan tugas kemanusiaan serta pelayanan pemerintahan menjadi kebutuhan mendesak di tengah situasi yang masih rapuh.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Di Balik Penembakan 3 ASN di Muliama?

Di Balik Penembakan 3 ASN di Muliama is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Di Balik Penembakan 3 ASN di Muliama matter?

Di Balik Penembakan 3 ASN di Muliama matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.