NaraKabar
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Gagal Bayar Pinjol Meningkat, Masyarakat Diduga Terpaksa Berutang untuk Biaya Hidup

Published Oktober 25, 2026 · Updated Oktober 25, 2026 · By Elizabeth Martin - narakabar.com

Foto : Elizabeth Martin - narakabar.com

Gagal Bayar Pinjol Meningkat, Masyarakat Tertekan Biaya Hidup

Narakabar.com – Gagal Bayar Pinjol Meningkat Masyarakat menjadi sorotan seiring naiknya tunggakan pinjaman online di tengah tekanan kebutuhan sehari-hari. Hingga Agustus 2026, rasio wanprestasi pinjol dengan keterlambatan lebih dari 90 hari atau TWP90 mencapai 4,73 persen, naik dari 4,32 persen pada Juli 2026.

Data tersebut tercantum dalam riset NEXT Indonesia Center berjudul “Waspadai Sinyal Tekanan Daya Beli” yang mengolah data Otoritas Jasa Keuangan. Rasio itu semakin mendekati 5 persen, angka yang dipandang penting dalam pengawasan kualitas pembiayaan digital.

Di sisi lain, outstanding pembiayaan pinjol mencapai Rp106,9 triliun pada Agustus 2026. Nilainya tumbuh 22,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan akses pinjaman digital ini berjalan bersamaan dengan meningkatnya beban pembayaran sebagian peminjam.

Pinjaman Online dan Tekanan Keuangan Rumah Tangga

Senior Analyst NEXT Indonesia Center Sandy Pramuji menilai kenaikan rasio tunggakan tidak hanya menjadi persoalan industri teknologi finansial. Kondisi tersebut juga dapat mencerminkan tekanan keuangan yang dirasakan rumah tangga berpendapatan rendah hingga menengah.

“Angka ini jelas kian mengkhawatirkan karena bergerak mendekati ambang batas toleransi psikologis dan regulasi yang ditetapkan otoritas sebesar 5 persen. Padahal pada saat bersamaan, outstanding pembiayaan pinjol mencapai Rp106,9 triliun atau tumbuh 22,07 persen dibandingkan Agustus tahun sebelumnya,” ujar Sandy di Jakarta, Minggu (25/10/2026).

Pinjaman online dapat memberi akses dana cepat ketika ada kebutuhan mendesak. Namun, penggunaan utang untuk membayar kebutuhan rutin berisiko memperlemah kondisi keuangan, khususnya apabila pendapatan tidak bertambah sementara cicilan dan pengeluaran pokok terus meningkat.

Gagal Bayar Pinjol Meningkat Masyarakat juga dapat dikaitkan dengan kemungkinan penggunaan kredit sebagai penyangga biaya hidup. Ketika dana darurat dan tabungan menipis, pinjaman dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan penting, bukan semata-mata untuk kegiatan produktif.

“Meningkatnya angka gagal bayar pinjol hingga mendekati batas aman 5 persen ini bukan sekadar persoalan teknis industri fintech, melainkan sinyal riil bahwa ketahanan keuangan masyarakat bawah hingga menengah sedang berada dalam tekanan luar biasa,” ujarnya.

Harga Pangan Menambah Beban Pengeluaran

Tekanan daya beli juga terlihat pada harga pangan. Selama April hingga September 2026, inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau secara konsisten berada di atas inflasi umum.

Pada September 2026, inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat 4,37 persen, lebih tinggi daripada inflasi umum sebesar 3,28 persen. Kenaikan ini terasa besar bagi keluarga yang mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk konsumsi harian.

Menurut Sandy, berkurangnya tabungan dan naiknya harga kebutuhan pokok dapat membuat pinjol dipandang sebagai solusi darurat. Namun, ketergantungan pada utang untuk biaya sehari-hari berpotensi menciptakan siklus pembayaran yang semakin sulit dipenuhi.

“Ketika tabungan menyusut dan harga beras terus meningkat, pinjol menjadi jalan pintas darurat yang sayangnya justru menjerat mereka dalam siklus utang,” ungkapnya.

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Bank Indonesia pada September 2026 menunjukkan harga rata-rata beras Medium II dan Super II di 32 dari 33 provinsi telah melampaui Harga Eceran Tertinggi pemerintah. Di Jawa Barat dan Jawa Tengah, harga beras Medium II berada 11,85 persen di atas HET.

Sementara itu, harga beras medium di Kalimantan Selatan mencapai Rp22.650 per kilogram, atau 61,79 persen lebih tinggi daripada HET. Perbedaan harga antarwilayah menunjukkan bahwa beban biaya hidup tidak dirasakan secara sama oleh setiap rumah tangga.

Perlu Penguatan Daya Beli dan Literasi Utang

Gagal Bayar Pinjol Meningkat Masyarakat menjadi pengingat bahwa pertumbuhan pembiayaan digital perlu diimbangi kemampuan bayar yang memadai. Penguatan pendapatan, pengendalian harga pangan, serta penggunaan pinjaman secara lebih terukur menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko tunggakan.

Masyarakat juga perlu menghitung cicilan sebelum mengajukan pinjaman dan menghindari penggunaan utang baru untuk menutup utang lama. Pinjaman sebaiknya diprioritaskan untuk kebutuhan yang benar-benar mendesak serta disesuaikan dengan kemampuan pembayaran.

FAQ

Apa itu TWP90 pada pinjaman online?

TWP90 adalah rasio pinjaman online yang mengalami keterlambatan pembayaran lebih dari 90 hari. Angka ini digunakan untuk melihat tingkat risiko gagal bayar dalam pembiayaan digital.

Mengapa biaya hidup dapat memicu gagal bayar pinjol?

Kenaikan harga kebutuhan harian dapat mengurangi ruang dalam anggaran rumah tangga. Jika tabungan tidak cukup, sebagian orang dapat menggunakan pinjaman untuk menutup kebutuhan mendesak, lalu kesulitan membayar cicilan ketika pendapatan tidak mencukupi.

Bagaimana mengurangi risiko terjerat utang pinjol?

Pastikan total cicilan sesuai kemampuan bayar, pahami biaya dan jatuh tempo pinjaman, serta hindari mengambil pinjaman baru untuk melunasi kewajiban sebelumnya. Menyiapkan dana darurat secara bertahap juga dapat membantu mengurangi ketergantungan pada utang saat kebutuhan mendadak muncul.

Related Reading