NaraKabar
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Hampir 100 Tahun Tak Terjadi, Dua Pulau Baru Tiba-Tiba Muncul di Dekat Anak Krakatau

Published Oktober 3, 2026 · Updated Oktober 3, 2026 · By Christopher Williams - narakabar.com

Foto : Christopher Williams - narakabar.com

Dua Daratan Baru Terdeteksi di Kawasan Anak Krakatau

Narakabar.com – Aktivitas erupsi yang berlangsung pada awal September 2026 memunculkan dua formasi daratan baru di sekitar Anak Krakatau, Selat Sunda. Kemunculan ini menarik perhatian karena diduga menjadi pembentukan pulau baru pertama di dalam kaldera Krakatau dalam hampir satu abad.

Dua gundukan tersebut berada pada sisi yang saling berseberangan. Satu formasi terlihat di arah barat laut Anak Krakatau, sedangkan formasi lainnya muncul di sisi tenggara. Posisi keduanya hampir membentuk lintasan lurus yang melintasi area kawah gunung api itu.

Badan Geologi mencatat formasi di barat laut terletak sekitar 760 meter dari garis pantai Anak Krakatau. Daratan yang berada di tenggara terpisah sekitar 495 meter dari sisi pulau utama. Sampai saat ini, luas area dan tinggi kedua formasi di atas muka laut belum dapat dipastikan.

Material Magma Diduga Membentuk Gundukan Baru

Penjelasan awal mengarah pada keluarnya magma yang relatif cair secara berkelanjutan dari rekahan memanjang. Rekahan itu membentang dari arah barat laut ke tenggara, sejalan dengan posisi dua daratan yang kini teramati.

Material vulkanik yang keluar dari celah tersebut diduga menumpuk di bagian dasar kaldera yang lebih dangkal. Seiring penumpukan berlangsung, material itu muncul ke permukaan dan membentuk gundukan yang menyerupai pulau kecil.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa perubahan bentuk lahan di lingkungan gunung api aktif dapat terjadi dalam waktu singkat. Namun, status kedua daratan itu sebagai pulau permanen belum dapat ditetapkan hanya dari pengamatan awal. Ketahanan formasi baru akan dipengaruhi oleh aktivitas erupsi berikutnya, gelombang laut, serta perubahan kondisi di sekitar kaldera.

Kepala Tim Gunung Api Badan Geologi, Heruningtyas Desi Purnamasari, menyampaikan bahwa asal-usul dua formasi tersebut masih memerlukan penelitian lanjutan. Pemeriksaan lebih rinci penting untuk memahami apakah keduanya benar-benar muncul akibat titik keluarnya magma yang baru atau hanya hasil timbunan material letusan.

Dua Kemungkinan Asal Formasi

Dosen Departemen Geosains Universitas Indonesia, Asri Oktavioni Indraswari, menjelaskan adanya dua kemungkinan utama. Formasi tersebut dapat terkait dengan lubang erupsi baru, atau berupa akumulasi bahan letusan pada bagian dangkal kaldera lama.

“Ada dua kemungkinan, yaitu lubang letusan baru atau akumulasi material letusan yang menumpuk di bagian dangkal kaldera lama,” kata Asri.

Apabila kedua titik itu terbukti merupakan lubang erupsi baru, aktivitas Anak Krakatau memiliki arti penting bagi pemahaman perkembangan gunung api tersebut. Jalur keluarnya magma tidak lagi hanya berpusat pada saluran utama, melainkan dapat melibatkan area lain di dalam kaldera.

Sebaliknya, jika formasi itu merupakan endapan material erupsi di zona dangkal, kemunculannya tetap menunjukkan besarnya perubahan yang dapat dipicu aktivitas vulkanik. Penelitian lapangan dan pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk membedakan kedua kemungkinan tersebut.

Awalnya Terekam Secara Tidak Sengaja

Keberadaan dua daratan baru pertama kali tertangkap secara tidak sengaja melalui drone milik seorang aktivis pariwisata dari Lampung. Rekaman udara kemudian membuka perhatian terhadap perubahan rupa kawasan di sekitar Anak Krakatau.

Dokumentasi dari udara menjadi penting karena area gunung api aktif tidak selalu mudah dijangkau secara langsung. Citra visual dapat membantu mengenali perubahan bentuk pantai, material baru yang muncul di permukaan laut, serta posisi formasi terhadap pulau utama.

Anak Krakatau berada di dalam kaldera yang terbentuk setelah letusan besar Krakatau pada 1883. Riwayat aktivitas kawasan ini menjadikan setiap perubahan morfologi sebagai hal yang perlu dicermati secara ilmiah. Kemunculan dua daratan pada 2026 tidak serta-merta mengubah status kawasan, tetapi menjadi petunjuk bahwa proses geologi di bawah dan di sekitar kaldera masih berlangsung dinamis.

Bagi masyarakat dan pihak yang beraktivitas di perairan Selat Sunda, informasi semacam ini juga relevan untuk memperhatikan keselamatan serta perkembangan kondisi gunung api. Bentuk daratan baru dapat berubah, menyusut, bertambah besar, atau kembali tenggelam, terutama ketika aktivitas erupsi dan pengaruh laut terus bekerja pada material yang masih relatif muda.

Untuk saat ini, dua formasi di sisi barat laut dan tenggara Anak Krakatau menjadi objek pengamatan lanjutan. Kepastian mengenai ukuran, ketinggian, komposisi material, dan mekanisme pembentukannya akan menentukan apakah keduanya berkembang menjadi pulau yang lebih stabil atau hanya menjadi fase sementara dalam aktivitas vulkanik Anak Krakatau.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Hampir 100 Tahun Tak Terjadi Dua Pulau?

Hampir 100 Tahun Tak Terjadi Dua Pulau is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Hampir 100 Tahun Tak Terjadi Dua Pulau matter?

Hampir 100 Tahun Tak Terjadi Dua Pulau matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.