NaraKabar
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Jusuf Kalla Ajak Dunia Utamakan Solidaritas Kemanusiaan Hadapi Bencana dan Perang

Published Oktober 26, 2026 · Updated Oktober 26, 2026 · By David Moore - narakabar.com

Foto : David Moore - narakabar.com

Jusuf Kalla Dorong Solidaritas Kemanusiaan sebagai Jawaban Krisis Global

Narakabar.com – Di tengah perang berkepanjangan, ketegangan geopolitik, dan bencana alam yang kian sering terjadi, Jusuf Kalla mengingatkan pentingnya menempatkan nilai kemanusiaan sebagai landasan utama dalam mencari jalan keluar. Mantan Wakil Presiden Indonesia itu menyampaikan pandangan tersebut dalam kuliah umum di Yale University, Amerika Serikat, pekan ini.

Di hadapan sekitar 100 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan dosen, Kalla mengajak masyarakat internasional melihat krisis dunia melampaui kepentingan negara, perbedaan etnis, agama, maupun afiliasi politik. Baginya, keselamatan manusia harus menjadi titik temu ketika berbagai konflik dan keadaan darurat meluas.

“Kemanusiaan harus menjadi paradigma utama kita dalam menghadapi krisis global. Kemanusiaan melampaui batas negara, ras, etnis, agama, dan afiliasi apa pun. Selama rasa kemanusiaan menjadi titik tolak kita, krisis global dapat kita hadapi dan atasi bersama,” kata JK.

Dialog Dinilai Lebih Penting daripada Sekadar Kekuatan Senjata

Kalla menilai penyelesaian konflik internasional tidak dapat hanya bergantung pada kekuatan militer. Persenjataan memang tetap memiliki peran dalam situasi perang, tetapi senjata semata tidak otomatis menentukan kemenangan ataupun menciptakan perdamaian yang bertahan lama.

Ia menekankan bahwa konflik modern dipengaruhi banyak unsur, termasuk ketahanan mental, kecakapan menyusun strategi, kemampuan menguasai teknologi, serta kualitas sumber daya manusia. Karena itu, negara dan masyarakat perlu memberi perhatian serius pada ilmu pengetahuan dan pengembangan kemampuan manusia.

“Perkembangan konflik saat ini menunjukkan bahwa keunggulan persenjataan saja tidak cukup. Semangat, strategi, serta kemampuan menguasai dan mengoperasikan teknologi juga sangat menentukan. Karena itu, ilmu pengetahuan dan kemampuan manusia menjadi faktor penting dalam menghadapi tantangan,” ujarnya.

Pandangan itu disampaikan di tengah perubahan karakter peperangan global. Konflik antara Rusia dan Ukraina menunjukkan bahwa perang dapat berlangsung lama meski salah satu pihak memiliki kapasitas militer besar. Kalla juga menyinggung ketahanan Iran ketika menghadapi tekanan dari luar negeri, serta ancaman kelompok bersenjata Houthi di kawasan Teluk yang memperlihatkan pengaruh strategi dan teknologi dalam konstelasi keamanan modern.

Krisis Dunia Tidak Hanya Berupa Konflik Bersenjata

Menurut Kalla, dunia saat ini sedang berada dalam tekanan yang bersifat multidimensi. Konflik bersenjata menimbulkan korban jiwa, perpindahan penduduk, dan kerusakan sosial dalam jangka panjang. Pada saat yang sama, bencana alam ekstrem memperbesar kerentanan banyak komunitas, terutama kelompok yang sudah menghadapi keterbatasan ekonomi dan akses terhadap bantuan.

Kondisi tersebut membuat respons kemanusiaan tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun perdamaian. Bantuan bagi korban perang dan bencana perlu berjalan beriringan dengan dialog untuk menyelesaikan akar persoalan. Tanpa ruang perundingan yang terbuka dan niat politik untuk menjaga perdamaian, dampak krisis berisiko terus berulang.

Penekanan pada solidaritas lintas batas juga relevan karena dampak sebuah krisis sering tidak berhenti di wilayah konflik. Gelombang pengungsi, gangguan ekonomi, ancaman keamanan, hingga tekanan terhadap layanan sosial dapat menjalar ke berbagai negara. Dalam situasi seperti ini, kerja sama internasional menjadi bagian penting dari perlindungan terhadap kehidupan manusia.

Ilmu Pengetahuan dan Empati Harus Berjalan Bersama

Pesan Kalla di Yale menempatkan kemajuan ilmu pengetahuan dalam kerangka yang lebih luas. Teknologi dapat membantu negara menghadapi ancaman, mempercepat penanganan bencana, dan memperkuat kapasitas masyarakat. Namun, pemanfaatannya tetap memerlukan pertimbangan etika agar tidak justru memperbesar penderitaan atau memperlebar jurang ketimpangan.

Karena itu, penguasaan teknologi perlu disertai kemampuan membangun kepercayaan, memahami kebutuhan korban, dan menghormati martabat manusia. Pendekatan humanis bukan sekadar seruan moral, melainkan cara untuk memastikan kebijakan keamanan, diplomasi, serta penanganan bencana benar-benar berorientasi pada perlindungan warga.

Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian, gagasan tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari alat militernya. Daya tahan masyarakat, kualitas pendidikan, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, dan kesediaan bekerja sama juga menentukan kemampuan menghadapi ancaman masa depan.

Seruan Jusuf Kalla menegaskan perlunya para pemimpin dunia mengutamakan empati dalam mengambil keputusan. Ketika kemanusiaan dijadikan dasar bersama, perbedaan kepentingan dapat dihadapi melalui dialog yang lebih terbuka, sementara bantuan bagi mereka yang terdampak perang maupun bencana dapat disalurkan dengan tujuan yang lebih jelas: menjaga keselamatan dan martabat manusia.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Jusuf Kalla Ajak Dunia Utamakan Solidaritas?

Jusuf Kalla Ajak Dunia Utamakan Solidaritas is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Jusuf Kalla Ajak Dunia Utamakan Solidaritas matter?

Jusuf Kalla Ajak Dunia Utamakan Solidaritas matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.