Kemarahan Publik Tak Hanya Soal Prabowo, tapi Akumulasi Masalah 10 Tahun Era Jokowi
Kemarahan Publik Tak Hanya Soal Prabowo
Narakabar.com – Sejak beberapa pekan terakhir, gelombang protes dan kegelisahan warga Indonesia semakin terasa di berbagai kota besar maupun daerah. Namun, pengamat politik Syukur Mandar mengingatkan bahwa kemaranan publik tak hanya soal langkah-langkah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dalam pandangannya, amarah yang menguap dari jalanan merupakan akumulasi persoalan struktural yang terbawa dari satu dekade kekuasaan Presiden Joko Widodo dan hingga kini belum menemukan jalan keluar yang memadai.
Pernyataan tersebut disampaikan Syukur melalui kanal YouTube Forum Keadilan TV pada Rabu, 19 Agustus 2026. Ia menegaskan bahwa mereduksi kemarahan rakyat semata-mata sebagai reaksi terhadap kebijakan terkini adalah cara pandang yang terlalu sempit dan mengabaikan akar masalah yang jauh lebih dalam.
Akar Masalah: Warisan Sepuluh Tahun
Syukur menjelaskan bahwa utang negara yang terus menumpuk, ketimpangan ekonomi yang melebar, serta berbagai kebijakan struktural yang ditinggalkan selama era Jokowi menciptakan beban ganda bagi pemerintahan baru. Menurutnya, Presiden Prabowo mewarisi persoalan-persoalan yang tidak pernah diselesaikan secara tuntas, sehingga setiap kebijakan baru yang diambil akan langsung diuji oleh memori kolektif masyarakat terhadap dekade sebelumnya.
"Kemarahan rakyat hari ini bukan hanya sekadar mempersoalkan kebijakan-kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo, tetapi juga kebijakan masa lalu yang menimbun masalah hari ini. Itu juga bagian persoalan oleh publik."
Ia menambahkan bahwa menghormati suara rakyat berarti mengakui bahwa masalah-masalah tersebut nyata, terukur, dan tidak bisa diabaikan dengan retorika semata. Syukur mendesak agar Prabowo menjadikan keresahan publik sebagai kompas utama dalam setiap pengambilan keputusan kebijakan, bukan sekadar catatan kaki dalam dokumen perencanaan.
Peran Strategis Mahasiswa dan Masyarakat Sipil
Di tengah situasi politik yang memanas, Syukur menilai kelompok mahasiswa serta organisasi masyarakat sipil memegang posisi yang sangat strategis dalam menjaga keseimbangan diskursus publik. Kekuatan-kekuatan tersebut, menurutnya, harus hadir secara aktif dan mengisi ruang publik dengan narasi yang merepresentasikan kondisi riil masyarakat secara lebih luas, bukan sekadar menjadi penonton dari kejauhan atau reaktif terhadap isu-isu sesaat.
"Kekuatan-kekuatan strategis seperti mahasiswa, kelompok civil society ini harus masuk dan menguasai ruang publik."
Ia menekankan bahwa tanpa kehadiran aktif kelompok-kelompok tersebut, ruang diskursus akan didominasi oleh narasi satu arah yang tidak mencerminkan kepentingan mayoritas warga dan berpotensi memperlebar jurang ketidakpercayaan terhadap institusi negara.
Peringatan: Kemarahan yang Menyala Perlahan
Syukur juga mengingatkan bahwa amarah publik tidak selalu meledak secara instan. Ia dapat merambat pelan-pelan, mencari saluran ekspresinya sendiri seiring waktu, dan menumpuk hingga mencapai titik yang sulit dikendalikan. Dalam konteks itu, ia menyinggung dinamika gerakan di Aceh serta aspirasi separatis di Papua sebagai potensi yang tidak boleh diremehkan oleh pemerintah pusat maupun daerah.
"Kemarahan publik akan diluapkan perlahan-lahan sambil mencari jalannya."
Peringatan ini menjadi pengingat bahwa respons kebijakan yang lambat, setengah hati, atau sekadar kosmetik dapat memperpanjang siklus ketidakpuasan dan membuka ruang bagi gerakan-gerakan yang lebih radikal di masa mendatang. Setiap penundaan penyelesaian masalah struktural, menurut Syukur, pada dasarnya memperpanjang daftar utang sosial yang harus dibayar oleh generasi berikutnya.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Kemarahan Publik Tak Hanya Soal Prabowo?Kemarahan Publik Tak Hanya Soal Prabowo is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Kemarahan Publik Tak Hanya Soal Prabowo matter?Kemarahan Publik Tak Hanya Soal Prabowo matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.