NaraKabar
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Korban Keracunan MBG Jadi Bahan Candaan, Pegawai SPPG Bantul Dipanggil BGN

Published September 19, 2026 · Updated September 19, 2026 · By William Williams - narakabar.com

Foto : William Williams - narakabar.com

BGN DIY Tegur Pegawai SPPG Bantul Usai Video Candaan Korban Keracunan MBG Viral

Narakabar.com – Badan Gizi Nasional Regional Daerah Istimewa Yogyakarta mengambil langkah cepat setelah sebuah video bernada candaan tentang korban dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis menjadi perhatian publik. Video itu diunggah seorang pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG di Bantul, Yogyakarta, pada Sabtu, 19 September 2026.

Dalam rekaman yang beredar luas di media sosial, seorang pria bernama Gerardus Permanaditya tampak menyantap chicken katsu sambil melontarkan komentar yang dikaitkan dengan Febiona Purba. Febiona merupakan siswi yang menjadi korban keracunan makanan program MBG di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Konten tersebut memicu kritik karena dinilai tidak menunjukkan kepekaan terhadap penerima manfaat yang terdampak persoalan kesehatan. Bagi masyarakat, peristiwa keamanan pangan bukan sekadar bahan percakapan di internet, melainkan persoalan yang menyangkut kondisi fisik, rasa aman, dan kepercayaan terhadap layanan pemenuhan gizi.

Video Memicu Sorotan Publik

Gerardus merekam dirinya ketika makan menu chicken katsu. Dalam video itu, ia menyampaikan kalimat yang kemudian menjadi sorotan warganet.

“Btw gua makan chicken katsu masakan kemarin apakah masih enak? Hmm oh tidak ingatanku hilang tujuh puluh persen,”

Ucapan tersebut disampaikan sambil tertawa. Publik mengaitkannya dengan kondisi Febiona Purba, sehingga unggahan itu dipandang sebagai olok-olok terhadap korban dugaan keracunan makanan MBG di Karo.

Reaksi terhadap video tersebut berkembang cepat di media sosial. Kritik yang muncul terutama menyoroti pentingnya sikap empati dari pihak yang berada dalam lingkungan penyelenggaraan layanan gizi. Ketika ada penerima manfaat yang diduga mengalami dampak kesehatan, respons yang diharapkan adalah keseriusan, kepedulian, serta perhatian terhadap proses penanganannya.

BGN DIY Panggil dan Klarifikasi Pegawai

Koordinator Regional BGN DIY, Wirandita Gagat Widyatmoko, membenarkan bahwa Gerardus merupakan pegawai SPPG Muntuk di Dlingo, Bantul. Posisi Gerardus di unit tersebut adalah pengawas keuangan.

“Betul (pegawai SPPG Muntuk Dlingo) yang bersangkutan berposisi sebagai pengawas keuangan, yang bersangkutan sudah diklarifikasi oleh jajaran kami dan nanti akan disampaikan kepada publik secara pribadi maupun dari SPPG yang bersangkutan,”

BGN DIY tidak hanya melakukan pemanggilan dan klarifikasi. Teguran juga telah diberikan kepada pegawai terkait serta kepada SPPG Muntuk. Langkah itu menjadi penegasan bahwa konten pribadi yang berkaitan dengan isu sensitif tetap dapat membawa dampak terhadap kepercayaan masyarakat terhadap institusi dan layanan publik.

“Betul dari kami juga sudah memberikan teguran kepada SPPG dan yang bersangkutan,”

Tindakan tersebut diambil setelah video menjadi viral. BGN DIY menilai persoalan yang menyangkut dugaan dampak keamanan pangan harus disikapi dengan tanggung jawab, terutama oleh personel yang bekerja dalam ekosistem pelayanan pemenuhan gizi.

Empati Menjadi Penekanan Utama

Dalam keterangannya, BGN DIY menyampaikan keprihatinan atas adanya pernyataan dari jajaran SPPG yang dapat dinilai tidak berempati kepada masyarakat terdampak. Lembaga itu menekankan bahwa setiap kejadian yang melibatkan penerima manfaat perlu mendapat perhatian serius, khususnya apabila berhubungan dengan kesehatan.

“Kami prihatin dan menyayangkan apabila benar terdapat pernyataan dari jajaran SPPG yang tidak menunjukkan empati terhadap masyarakat yang diduga terdampak. Dalam kondisi seperti ini, yang harus dikedepankan adalah rasa kemanusiaan, empati, sensitivitas, dan saling menghormati,”

Pesan tersebut menjadi penting karena program MBG menyentuh kelompok penerima manfaat secara langsung. Ketika muncul persoalan dugaan keracunan makanan di suatu daerah, perhatian publik tidak hanya tertuju pada kejadian setempat, tetapi juga pada bagaimana seluruh pihak yang terkait meresponsnya.

Komunikasi publik dalam situasi seperti ini perlu mempertimbangkan kondisi korban dan keluarga. Candaan yang mungkin dianggap ringan oleh pembuat konten dapat dimaknai berbeda oleh pihak yang sedang mengalami dampak kesehatan atau kecemasan akibat sebuah insiden.

Peristiwa di Karo Diminta Jadi Pembelajaran

BGN DIY menegaskan bahwa kasus yang terjadi di satu wilayah seharusnya dipakai sebagai bahan evaluasi dan pembelajaran bagi seluruh jajaran SPPG. Setiap personel diharapkan memahami bahwa komentar mengenai penerima manfaat yang terkena musibah dapat memperburuk situasi apabila tidak disampaikan dengan sensitivitas yang memadai.

Karena itu, jajaran SPPG diminta tidak menjadikan kasus yang menimpa penerima manfaat sebagai bahan lelucon ataupun pernyataan yang berpotensi menambah keresahan. Sikap profesional diperlukan bukan hanya dalam pelaksanaan tugas, tetapi juga ketika menggunakan ruang publik, termasuk media sosial.

Kasus video pegawai SPPG Muntuk ini memperlihatkan bahwa etika komunikasi memiliki peran penting dalam pelayanan publik. Penanganan terhadap dugaan persoalan keamanan pangan membutuhkan perhatian pada korban, klarifikasi yang bertanggung jawab, serta komitmen untuk menjaga rasa hormat kepada masyarakat.

Dengan adanya teguran dan proses klarifikasi dari BGN DIY, perhatian kini tertuju pada tindak lanjut dari pegawai maupun SPPG yang bersangkutan. BGN DIY menyatakan penjelasan kepada publik akan disampaikan secara pribadi oleh pihak terkait maupun melalui SPPG Muntuk.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Korban Keracunan MBG Jadi Bahan Candaan?

Korban Keracunan MBG Jadi Bahan Candaan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Korban Keracunan MBG Jadi Bahan Candaan matter?

Korban Keracunan MBG Jadi Bahan Candaan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.