Menkes Ungkap Kendala Tangani Korban Gempa NTT, Warga Masih Pilih Pengobatan Tradisional
Menkes: Tantangan Medis Pasca-Gempa NTT Masih Berat, Warga Cenderung Pilih Pengobatan Tradisional
Narakabar.com – Di hadapan Komisi IX DPR RI pada Kamis, 27 Agustus 2026, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menguraikan berbagai hambatan yang dihadapi pemerintah dalam memberikan layanan kesehatan kepada warga terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur. Rapat kerja itu berlangsung di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Rumah Sakit Lapangan Dikerahkan Setelah Fasilitas Utama Lumpuh
Dari delapan kabupaten dan kota yang terdampak gempa, tujuh di antaranya mengalami kerusakan cukup parah pada infrastruktur kesehatannya. Dua rumah sakit di wilayah Nagekeo maupun Manggarai bahkan berhenti beroperasi secara total. Kondisi itu memaksa pemerintah mengambil langkah darurat dengan menerjunkan fasilitas medis portabel.
"Dari tujuh rumah sakit di kabupaten terdampak, dua rumah sakit berhenti beroperasi total, yaitu di Nagekeo dan di Manggarai. Sejak tanggal 16 kami sudah mengidentifikasi hal tersebut, sehingga memutuskan mengirimkan rumah sakit lapangan pada tanggal 17, dan tanggal 18 malam rumah sakit lapangan di Ruteng serta Nagekeo sudah beroperasi penuh," jelasnya.
Hambatan di Tingkat Desa: Kekurangan SDM dan Budaya Lokal
Budi menegaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah menekan angka kematian lewat penerapan sistem triase yang ketat. Kendati demikian, upaya menjangkau pasien hingga ke pelosok desa masih terbentur persoalan teknis sekaligus sosiologis.
"Kendalanya, beberapa fasilitas kesehatan benar-benar tidak bisa beroperasi karena kekurangan SDM untuk masuk ke desa-desa, sehingga banyak pasien kategori merah yang merawat diri secara mandiri di rumah. Kendala kedua, budaya masyarakat di NTT masih percaya pada pengobatan tradisional, sehingga banyak kasus patah tulang lebih memilih perawatan tradisional dibandingkan perawatan medis profesional," ujar Budi.
Identifikasi Pasien Parah Mencapai Lebih dari 95 Persen
Terlepas dari berbagai kendala tersebut, Menkes memastikan bahwa pelacakan lokasi pasien terus menunjukkan kemajuan berarti. Hampir seluruh individu dengan kondisi kritis telah berhasil dilokalisasi agar segera memperoleh penanganan lanjutan.
"Namun saat ini data sudah bergerak dan hampir 95 persen lebih sudah teridentifikasi keberadaan pasien kategori merah dan kuning. Pasien kategori merah dan kuning segera dirujuk dengan berbagai sarana ke rumah sakit rujukan," lanjutnya.
Prioritas Medis: Spesialis Ortopedi dan Bedah
Budi menambahkan bahwa respons medis disesuaikan dengan profil bencana yang dihadapi. Untuk gempa bumi kali ini, Kemenkes memprioritaskan pengerahan dokter spesialis ortopedi serta bedah, mengingat kasus trauma kepala, cedera dada, dan patah tulang menjadi jenis luka yang paling dominan di antara korban di lapangan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Menkes Ungkap Kendala Tangani Korban Gempa?Menkes Ungkap Kendala Tangani Korban Gempa is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Menkes Ungkap Kendala Tangani Korban Gempa matter?Menkes Ungkap Kendala Tangani Korban Gempa matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.