Mirip Ritual Satanic, Atraksi Pentagram dan Kostum Iblis di Pekalongan Dikecam MUI
MUI Soroti Nuansa Mistik dalam Simbang Kulon Night Carnival 2026
Narakabar.com – Gelaran Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Pekalongan, Jawa Tengah, menjadi perhatian setelah sejumlah bagian pertunjukan tersebar luas di media sosial. Acara tersebut memunculkan perdebatan karena memuat tampilan kostum menyerupai iblis, simbol pentagram terbalik, obor, serta adegan penyembelihan kambing yang disaksikan publik.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai unsur-unsur itu tidak selaras dengan semangat peringatan Maulid Nabi. Wakil Ketua Umum MUI, Cholil Nafis, menekankan bahwa kegiatan seni dan karnaval dapat menjadi sarana pendidikan, namun bentuk ekspresinya tetap perlu menjaga nilai keagamaan dan kemanusiaan.
“Karnaval yang sifatnya mendidik tentu boleh, tetapi ketika itu menjadi animisme atau sesuatu yang menakutkan, tentu sangat bertentangan dengan haflah Maulid Nabi,” Kiai Cholil di Jakarta, Senin (14/9/2026).
Simbol dan Adegan yang Memicu Keresahan
Dalam rekaman yang beredar, sejumlah penampil memakai busana bertema iblis. Mereka membawa benda menyerupai kitab dengan lambang satu mata, obor, dan elemen visual lain yang dikaitkan secara luas dengan simbol satanic. Penggunaan pentagram terbalik turut memperkuat kesan mistik dalam rangkaian atraksi tersebut.
Bagian yang paling banyak mengundang reaksi adalah adegan penyembelihan seekor kambing di tengah pertunjukan. MUI memandang penyembelihan hewan yang ditampilkan dengan cara menyeramkan dan dijadikan bagian dari tontonan horor tidak dapat dibenarkan, terlebih bila dikaitkan dengan kegiatan yang berlangsung dalam suasana Maulid Nabi.
Cholil Nafis menilai tata cara penyembelihan perlu memperhatikan adab dan ketentuan syariat. Hewan tidak semestinya diperlakukan secara kasar atau dijadikan medium untuk menghadirkan sensasi ketakutan di hadapan penonton. Dalam pandangan MUI, unsur hiburan tidak boleh menghilangkan penghormatan terhadap makhluk hidup maupun pesan keagamaan yang hendak dibawa sebuah kegiatan masyarakat.
“Itu bukan ajaran Rasulullah,” ujar Kiai Cholil.
Maulid Nabi Didorong Menjadi Ruang Pendidikan
Maulid Nabi selama ini dipahami sebagai momentum untuk menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus memperkuat nilai akhlak, kepedulian sosial, dan kebersamaan. Karena itu, MUI mengingatkan agar peringatan tersebut tidak bergeser menjadi acara yang justru memunculkan ketakutan, kebingungan, atau simbolisme yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah itu mengajak panitia dan masyarakat mengisi bulan Maulid dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. Bentuknya dapat berupa pembacaan ayat suci Al Quran, lantunan shalawat, mauidhoh hasanah atau nasihat yang baik, serta penyampaian kisah-kisah keteladanan Nabi.
Selain kegiatan ibadah dan pendidikan, penyediaan makanan sebagai ungkapan syukur serta sedekah juga dinilai dapat memperkuat makna sosial peringatan Maulid. Aktivitas seperti itu membuka ruang bagi warga untuk berkumpul, berbagi, dan mengambil pelajaran tanpa mengabaikan batas-batas kepantasan.
Pesan tersebut juga menjadi pengingat bahwa kegiatan budaya di ruang publik memerlukan perencanaan yang matang. Kreativitas seni tetap dapat berkembang melalui tema lokal, karya visual, musik, pertunjukan tradisional, dan pesan kebersamaan. Namun, pemilihan konsep perlu mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat yang beragam, termasuk anak-anak dan keluarga yang hadir sebagai penonton.
Panitia Diminta Lebih Cermat Menyusun Konsep Acara
Cholil Nafis, yang juga Ketua Badan Pengurus DSN MUI, berharap penyelenggara kegiatan di berbagai daerah dapat lebih selektif ketika menentukan bentuk pertunjukan budaya. Kehati-hatian diperlukan agar sebuah acara tidak memicu polemik akibat penggunaan simbol atau adegan yang dinilai melampaui tujuan awalnya.
Karnaval pada dasarnya dapat menjadi wadah ekspresi warga dan penguat kebersamaan kampung. Nilai itu akan lebih terasa apabila konsep acara diarahkan pada pendidikan, penghormatan terhadap tradisi, dan pesan yang mudah diterima masyarakat. Pengelola kegiatan juga perlu mempertimbangkan bahwa penampilan yang viral dapat menjangkau khalayak jauh lebih luas daripada lokasi acara itu sendiri.
Kontroversi SKNC 2026 menunjukkan pentingnya dialog antara panitia, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pelaku seni sebelum sebuah acara digelar. Dengan komunikasi yang baik, unsur budaya dapat tetap hidup tanpa mengorbankan nilai yang dijunjung warga setempat. Peringatan Maulid Nabi pun dapat menjadi ruang perayaan yang hangat, mendidik, dan mencerminkan teladan Rasulullah.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Mirip Ritual Satanic Atraksi Pentagram dan Kostum?Mirip Ritual Satanic Atraksi Pentagram dan Kostum is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Mirip Ritual Satanic Atraksi Pentagram dan Kostum matter?Mirip Ritual Satanic Atraksi Pentagram dan Kostum matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.