Muktamar NU ke-35 Masuk Tahap Sidang Komisi, Laporan PBNU Diterima
Muktamar NU ke-35 di Jombang Melangkah ke Tahap Sidang Komisi Setelah Dua Pleno Rampung
Narakabar.com – Prosesi Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) edisi ke-35 yang berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, telah melewati fase paling krusial dari agenda plenonya. Pada Sabtu, 29 Agustus 2026, forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia itu resmi membuka pintu pembahasan paralel di tingkat komisi, menandai peralihan dari sidang umum menuju diskusi teknis yang jauh lebih mendalam.
Muktamar sendiri merupakan forum deliberatif tertinggi NU yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali. Di sanalah para muktamirin—wakil dari seluruh cabang, wilayah, dan lembaga NU di dalam maupun luar negeri—bersidang untuk menetapkan arah kebijakan organisasi, membahas persoalan keagamaan dan hukum Islam, serta memilih kepengurusan baru. Edisi ke-35 ini menjadi momentum strategis karena menyangkut masa bakti Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2022–2027 sekaligus merumuskan program kerja lima tahun ke depan.
Dua Agenda Pleno Telah Dilalui
Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar ke-35 NU, Prof M Nuh, mengonfirmasi bahwa kedua agenda pleno utama telah diselesaikan tanpa hambatan berarti. Pernyataan tersebut ia sampaikan pada Sabtu (29/8/2026) di hadapan para peserta dan awak media yang meliput jalannya acara.
"Alhamdulillah, two agenda utama, dua pleno sudah bisa kita lalui dengan sangat baik," ujar Prof Nuh.
Pernyataan itu menegaskan bahwa mekanisme pengambilan keputusan di tingkat pleno berjalan lancar, tanpa deadlock maupun penundaan yang berarti. Bagi organisasi dengan jutaan anggota dan ribuan cabang di seluruh Indonesia, kelancaran proses deliberatif semacam ini menjadi indikator kesehatan internal organisasi.
Laporan Pertanggungjawaban PBNU Diterima Forum
Pleno kedua menempati posisi sentral karena menjadi wadah penyampaian laporan pertanggungjawaban PBNU untuk periode 2022–2027. Sidang diawali dengan pengantar dari Rais Aam PBNU, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan langsung oleh Ketua Umum PBNU mengenai capaian, tantangan, dan dinamika organisasi selama masa bakti berjalan.
Pandangan terhadap laporan tersebut disampaikan melalui perwakilan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dari berbagai kawasan. Total sebelas perwakilan wilayah hadir di forum, mencakup Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Jawa dan Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat, hingga Nusa Tenggara Timur. Selain itu, PCI Jepang turut memberikan masukan sebagai representasi NU di luar negeri.
"Dari sampling yang menyampaikan itu, 11 termasuk PCI Jepang, semuanya menerima dengan baik. Tentu ada beberapa saran dan seterusnya, prinsipnya menerima dengan baik," kata Prof Nuh.
Setelah seluruh pandangan didengar, forum menyimpulkan bahwa laporan pertanggungjawaban PBNU—yang mencakup dua unsur utama, yakni Syuriyah (dewan syura) dan Tanfidziyah (dewan eksekutif)—dapat diterima. Penerimaan laporan ini bukan berarti tidak ada catatan; sejumlah saran dan rekomendasi tetap dicatat untuk menjadi bahan perbaikan di periode berikutnya. Namun secara substansi, forum menilai kinerja organisasi selama masa bakti berjalan sesuai koridor yang ditetapkan.
Sidang Komisi: Fase Pembahasan Paralel
Dengan rampungnya kedua agenda pleno, Muktamar ke-35 kini memasuki fase yang secara substansi merupakan inti kerja organisasi: sidang komisi. Pembahasan di tingkat ini dilakukan secara paralel, artinya beberapa komisi bekerja serentak untuk menghemat waktu dan memperdalam analisis.
Komisi-komisi yang aktif antara lain:
Bahtsul Masail ad-Diniyah al-Maudlu'iyyah, yang membahas persoalan keagamaan tematik; Bahtsul Masail ad-Diniyah al-Waqi'iyyah, yang menyoroti persoalan keagamaan kontekstual dan aktual; serta Bahtsul Masail ad-Diniyah al-Qonuniyyah, yang menangani aspek hukum Islam. Di samping tiga komisi fikih tersebut, terdapat pula komisi organisasi, komisi program, dan komisi rekomendasi yang masing-masing menangani tata kelola internal, perumusan kebijakan strategis, serta penyusunan rekomendasi kebijakan.
Materi yang dibahas dalam sidang komisi mencakup tindak lanjut hasil Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU sebelumnya, sekaligus sejumlah agenda khusus yang secara eksplisit dibawa ke forum Muktamar ke-35. Hasil pembahasan setiap komisi nantinya akan dikembalikan ke sidang pleno untuk disahkan menjadi keputusan resmi organisasi.
Salah satu agenda yang turut masuk dalam kerangka pembahasan komisi adalah tata tertib pemilihan kepengurusan PBNU. Agenda ini menjadi perhatian khusus karena menyangkut mekanisme suksesi kepemimpinan organisasi yang akan menentukan arah NU lima tahun ke depan.
Jadwal Tetap Terjaga
Prof Nuh menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan Muktamar ke-35 masih berjalan sesuai timeline yang telah ditetapkan sejak awal perencanaan. Tidak ada penundaan berarti yang menggeser jadwal.
"Ini sesuai jadwal. Alhamdulillah, on track," tegasnya.
Kelancaran jadwal ini penting mengingat Muktamar NU melibatkan ribuan peserta dari seluruh penjuru Indonesia dan negara-negara dengan komunitas NU di luar negeri. Setiap penundaan berhari-hari akan berdampak pada logistik, akomodasi, dan komitmen peserta. Fakta bahwa fase pleno telah rampung tepat waktu menjadi sinyal positif bagi kelanjutan agenda komisi dan pleno penutup.
Bagi jutaan warga NU di seluruh Indonesia, jalannya Muktamar ke-35 bukan sekadar agenda internal organisasi. Keputusan-keputusan yang lahir dari forum ini akan membentuk kebijakan keagamaan, sosial, dan politik NU untuk periode berikutnya. Oleh karena itu, transparansi proses dan kelancaran mekanisme deliberatif menjadi prasyarat agar hasil Muktamar memiliki legitimasi yang kuat di mata seluruh elemen organisasi.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Muktamar NU ke 35 Masuk Tahap?Muktamar NU ke 35 Masuk Tahap is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Muktamar NU ke 35 Masuk Tahap matter?Muktamar NU ke 35 Masuk Tahap matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.