Perempuan Adat Gelar Aksi Tolak PSN Mbay Lambo, Aparat: Wah Saya Lagi Nonton Film Porno
Protes Perempuan Adat terhadap Lokasi Bendungan Mbay Lambo Menggema di Aksi Kamisan ke-921
Narakabar.com – Pada Kamis (20/8/2026), Aksi Kamisan ke-921 kembali menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengangkat berbagai isu sosial dan politik. Salah satu sorotan utama datang dari Aurel, mahasiswi Kriminologi Universitas Indonesia (UI), yang mengangkat persoalan intimidasi dan kriminalisasi yang dialami komunitas adat di Nusa Tenggara Timur (NTT) akibat rencana pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan Mbay Lambo.
Perlawanan Para Mama dan Respons Aparat
Aurel mengisahkan bagaimana para perempuan adat, yang ia sebut sebagai "para mama", melakukan perlawanan ketika tim survei tiba di lokasi proyek. Bentuk protes yang mereka lakukan adalah membuka pakaian bagian atas sebagai penolakan terhadap kehadiran tim tersebut.
Alih-alih merespons dengan empati, aparat keamanan justru memberikan reaksi yang merendahkan. Aurel menirukan ucapan salah satu petugas di hadapan massa aksi:
"Wah saya lagi nonton film pornografi."
Ia kemudian menegaskan ketidakefektifan sikap aparat terhadap aspirasi warga:
"Bayangkan itu yang dilakukan aparat, aparat itu tidak pernah peduli pada kita."
Bukan Anti-Pembangunan, Melawan Lokasi yang Salah
Aurel menekankan bahwa penolakan warga adat tidak sama dengan penolakan terhadap pembangunan itu sendiri. Para mama, menurutnya, justru mendukung kehadiran bendungan sebagai sarana peningkatan kesejahteraan. Yang mereka tolak adalah pemilihan lokasi proyek.
"Jadi perempuan adat di sana atau bisa kita panggil para mama, penolakan yang mereka lakukan bukan karena mereka adalah orang-orang yang anti pembangunan, mereka setuju dengan kehadiran PSN Bendungan Mbay Lambo Nusa Tenggara Timur yang hadir untuk mensejahterakan hidup mereka."
Tiga Desa Terancam Tenggelam
Lokasi yang ditetapkan pemerintah berpotensi menenggelamkan tiga desa sekaligus, yaitu Desa Labolewa, Desa Ulu Pulu, dan Desa Rembutowe. Aurel menjelaskan bahwa bagi komunitas adat, hilangnya tanah bukan sekadar kehilangan tempat tinggal.
"Sedangkan bagi mereka yang merupakan masyarakat adat, kehilangan tanah bukan hanya kehilangan rumah, berarti mereka kehilangan tempat bercocok tanam, berkebun, mereka kehilangan sumber mata pencaharian mereka dan itu semua akan tenggelam karena hadirnya pembangunan bendungan."
Ia menambahkan bahwa lokasi yang dipilih pemerintah secara langsung akan merendam ketiga desa tersebut.
"Ada apa lokasi yang dipilih pemerintah, jadi lokasi tersebut yang dipilih pemerintah akan menenggelamkan 3 desa tersebut."
Wawancara Lapangan dan Kekhawatiran Regulasi
Sebelum menyampaikan orasinya, Aurel mengaku telah mewawancarai langsung warga yang melakukan penolakan pada bulan April dan Mei sebelumnya. Dari percakapan tersebut, ia memperoleh gambaran tentang intimidasi, kriminalisasi, serta pelecehan verbal yang dialami warga saat mempertahankan hak atas tanah mereka.
Lebih jauh, Aurel menilai bahwa keberadaan PSN beserta kerangka regulasi yang dirancang untuk mempercepat pembangunan justru membuka celah bagi tindakan sewenang-wenang terhadap masyarakat lokal.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Perempuan Adat Gelar Aksi Tolak PSN Mbay?Perempuan Adat Gelar Aksi Tolak PSN Mbay is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Perempuan Adat Gelar Aksi Tolak PSN Mbay matter?Perempuan Adat Gelar Aksi Tolak PSN Mbay matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.