Prabowo Didesak Banyak Mendengar, Bukan Umbar Retorika Kosong Lewat Monolog
Presiden Prabowo Diimbau Berhenti Bermonolog dan Mulai Mendengar
Narakabar.com – Setahun penuh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kini menjadi sorotan tajam. Kepala Pusat Studi Agama dan Demokrasi Universitas Islam Indonesia (PSAD UII), Masduki, menyatakan bahwa pola komunikasi politik kepala negara selama periode tersebut telah menimbulkan persoalan serius dan berulang kali memicu blunder di ruang publik.
Masduki menegaskan bahwa deretan pernyataan resmi maupun pidato di berbagai kesempatan justru berisiko merugikan diri presiden sendiri, kabinet, serta citra pemerintah secara keseluruhan.
Empat Ciri Komunikasi yang Dinilai Bermasalah
Dalam wawancara dengan Suara.com pada Jumat (21/8/2026), Masduki merinci empat karakteristik utama yang membuat komunikasi politik Prabowo problematik.
Ciri pertama adalah penyangkalan terhadap realitas. Masduki menyebut tidak ada permintaan maaf atas kesalahan data publik yang fatal.
"Pertama, itu cirinya adalah denial. Jadi, seperti tidak mengakui adanya kesalahan-kesalahan, tidak ada minta maaf, misalnya dalam kasus Londo Ireng, juga dalam kasus data mengenai pengupas bawang Rp700 ribu per kilo, dan sebagainya. Jadi, denial."
Ciri kedua berkaitan dengan kebiasaan memproduksi diksi bernada sentimen yang minim landasan data valid dan bukti ilmiah, bahkan cenderung xenofobik. Masduki menilai penggunaan bahasa semacam itu mengabaikan etika dasar hubungan antara kepala negara dan warga.
"Yang kedua, yang disebut dengan retorik. Jadi, gemar memproduksi istilah-istilah atau diksi-diksi yang sebetulnya tidak ada basis datanya atau cenderung anti-sains. Jadi, ya seperti antek asing gitu ya, seperti ya termasuk Londo Ireng itu sendiri. Jadi, tidak jelas konteksnya."
"Dan dalam kerangka hubungan kepala negara dengan warga, itu nir-etika ini, tidak ada etika komunikasi sebagai pemimpin."
Ciri ketiga menyangkut muatan pidato di ruang resmi yang dinilai tidak konsisten dan kerap melenceng dari agenda kenegaraan yang esensial.
"Jadi, cenderung kemudian merendahkan, seperti dalam pidato menjelang hari kemerdekaan kemarin kok tiba-tiba ada anak usia 10 tahun ditanya, ini kan cenderung seksis, 'ya nanti 10 tahun lagi kamu sudah bisa pacaran,' gitu. Jadi, konteksnya apa dalam ruang publik yang sakral, pidato laporan keuangan negara atau progres pembangunan?"
Ciri keempat, yang menurut Masduki paling serius, adalah pola komunikasi satu arah yang anti-dialog. Pidato berdurasi panjang tanpa membuka ruang diskusi dinilai menutup pintu masukan dari pemangku kepentingan maupun masyarakat.
"Nah, yang keempat nih yang sangat serius juga, yaitu anti-dialog, yaitu satu arah."
Sebagai ilustrasi, Masduki mengutip dua pertemuan Prabowo dengan ratusan guru besar dalam tahun berjalan, di mana presiden berbicara hingga delapan jam tanpa menyediakan kesempatan dialog.
"Jadi, ada dua kali pertemuan dengan ratusan guru besar misalnya, tahun ini saja, itu Prabowo bisa pidato 8 jam tapi tidak membuka ruang dialog. Nah, kita juga bisa melihat dalam berbagai kesempatan ya Prabowo pidato gitu aja, tidak ada diskusinya."
Sorotan Mahasiswa dan Bayangan Era Orde Baru
Kritik akademisi tersebut sejalan dengan aksi BEM UI pada 18 Agustus 2026. Mahasiswa Universitas Indonesia menilai gaya komunikasi Prabowo kerap memakai istilah yang merendahkan kelompok tertentu dan mendesak presiden untuk lebih banyak bekerja serta mendengarkan aspirasi masyarakat.
BEM UI bahkan mengaitkan kecenderungan pemusatan kekuasaan pemerintah dengan gaya pemerintahan era Soeharto.
Desak Teknis: Kurangi Monolog, Perkuat Pendengaran
Masduki menilai momentum satu tahun pemerintahan harus dimanfaatkan untuk memperbaiki komunikasi sekaligus memulihkan kepercayaan publik. Secara teknis, presiden disarankan menekan porsi pidato monolog dan mengubah pendekatan komunikasinya secara mendasar.
"Nah, oleh karena itu, dalam rangka momentum satu tahun untuk mengembalikan reputasi, ya, kepercayaan publik, ya di samping yang sifatnya teknis, Prabowo harus lebih banyak mendengar."
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Prabowo Didesak Banyak Mendengar Bukan Umbar?Prabowo Didesak Banyak Mendengar Bukan Umbar is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Prabowo Didesak Banyak Mendengar Bukan Umbar matter?Prabowo Didesak Banyak Mendengar Bukan Umbar matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.