NaraKabar
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Prabowo Tiba di Jombang, Dapat Sorban Putih dari Pengasuh Ponpes

Published Agustus 31, 2026 · Updated Agustus 31, 2026 · By Robert Wilson - narakabar.com

Foto : Robert Wilson - narakabar.com

Presiden Prabowo Menutup Muktamar ke-35 PBNU di Bahrul Ulum Jombang, Disambut Tradisi Sorban Putih

Narakabar.com – Sebuah momen penuh khidmat mewarnai kawasan Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada Senin pagi. Presiden Prabowo Subianto melangkahkan kaki ke area Pondok Pesantren Bahrul Ulum tepat pukul 10.10 WIB, membawa serta agenda penutupan Muktamar ke-35 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Peristiwa ini bukan sekadar kunjungan kenegaraan biasa; ia menandai puncak dari rangkaian sidang yang mempertemukan ribuan kiai, ulama, dan aktivis NU dari seluruh penjuru Nusantara selama beberapa hari sebelumnya.

Sambutan dari Sunroof Kendaraan Kepresidenan

Sebelum benar-benar menjejakkan kaki di halaman pesantren, Prabowo terlebih dahulu menyapa para peserta yang telah memadati area sekitar. Ia melakukan itu dari sunroof kendaraan kepresidenan berjenis Maung Pindan MV3 Garuda Limousine, melambaikan tangan kepada ribuan Nadliyin yang menunggu di sepanjang jalur kedatangan. Gestur singkat itu menjadi penanda awal interaksi langsung antara kepala negara dan komunitas pesantren yang telah menanti kehadirannya.

Setibanya di titik penerimaan, tiga tokoh sentral menyambut langsung: Rais Aam PBNU Kiai Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031, serta Pangasuh Ponpes Bahrul Ulum sendiri, Hasib Wahab Chasbullah. Ketiganya berdiri di barisan depan, menandai bahwa kunjungan ini bukan hanya agenda politik, melainkan juga pengakuan terhadap otoritas keilmuan dan spiritual yang diwakili oleh lembaga pesantren tertua di Jawa Timur tersebut.

Sorban Putih: Simbol Penghormatan dalam Budaya Pesantren

Yang paling mencuri perhatian dalam prosesi penerimaan bukan sekadar jabat tangan atau ucapan selamat datang. Hasib Wahab Chasbullah secara langsung mengalungkan sehelai sorban berwarna putih ke leher Prabowo. Gerakan itu bukan sekadar seremonial; dalam tradisi pesantren, pemberian sorban merupakan ungkapan penghormatan tertinggi yang diberikan seorang pengasuh kepada tamu kehormatan. Ia menyiratkan bahwa yang datang telah diterima sebagai bagian dari keluarga besar keilmuan Islam Nusantara.

Setelah mengalungkan sorban, Hasib Wahab kemudian membenarkan posisi kancing baju koko di bagian kerah yang dikenakan Prabowo. Detail kecil ini—menata ulang pakaian tamu agar rapi dan layak—mencerminkan etika pesantren yang menempatkan keramahan dan ketertiban busana sebagai bagian dari adab. Bagi ribuan santri dan alumni yang menyaksikan, gestur tersebut menjadi pengingat bahwa di lingkungan Bahrul Ulum, siapa pun yang datang, termasuk presiden, tetap tunduk pada norma sopan santun yang telah diwariskan lintas generasi.

Kehadiran Kabinet Lengkap di Tanah Pesantren

Skala kunjungan ini tercermin dari deretan pejabat negara yang mendampingi Prabowo. Di barisan terdepan terdapat Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa agenda penutupan Muktamar diperlakukan sebagai peristiwa kenegaraan tingkat tinggi, bukan sekadar kegiatan keagamaan internal organisasi.

Di lokasi juga tampak sejumlah menteri dan pejabat lain: Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Menteri PPPA Arifatuk Choiri Fauzi, Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro, hingga Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Konfigurasi ini menegaskan bahwa negara hadir secara penuh dalam ruang-ruang keagamaan yang menjadi tulang punggung identitas sosial-budaya mayoritas penduduk Indonesia.

Dimensi Politik dan Sosial Muktamar NU

Muktamar ke-35 PBNU bukan sekadar forum internal organisasi. Setiap lima tahun, gelaran ini menjadi arena di mana arah kebijakan NU—yang menaungi ratusan juta anggota dan jutaan santri di seluruh Indonesia—ditentukan. Keputusan-keputusan yang diambil di dalamnya kerap memengaruhi dinamika politik nasional, dari isu pendidikan hingga posisi terhadap kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, kehadiran presiden untuk menutup sidang bukan hanya bentuk penghormatan, melainkan juga sinyal bahwa negara mengakui peran strategis NU dalam membentuk wacana publik dan menjaga kohesi sosial.

Pondok Pesantren Bahrul Ulum sendiri memiliki posisi historis yang tak tergantikan. Berdiri sejak abad ke-19, lembaga ini telah melahirkan ribuan kiai dan tokoh publik yang membentuk lanskap keagamaan Jawa Timur. Ketika seorang presiden menerima sorban dari tangan pengasuhnya, yang terjadi bukan hanya pertukaran benda, melainkan pengakuan atas otoritas moral yang telah mengakar jauh sebelum negara modern hadir di wilayah tersebut.

Bagi masyarakat Jombang dan warga NU secara luas, kunjungan ini menjadi pengingat bahwa relasi antara negara dan pesantren tetap berjalan dalam koridor saling menghormati. Sorban putih yang melingkar di leher Prabowo pada pagi itu bukan sekadar aksesori; ia adalah pernyataan bahwa di tanah pesantren, kekuasaan politik tetap tunduk pada adab, dan bahwa pintu Bahrul Ulum terbuka bagi siapa pun yang datang dengan niat baik.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Prabowo Tiba di Jombang Dapat Sorban?

Prabowo Tiba di Jombang Dapat Sorban is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Prabowo Tiba di Jombang Dapat Sorban matter?

Prabowo Tiba di Jombang Dapat Sorban matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.