NaraKabar
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Satu Minggu Jelang Muktamar, 4 Nama Kandidat Ketum PBNU Mengerucut, Siapa Terkuat?

Published Agustus 21, 2026 · Updated Agustus 21, 2026 · By David Moore - narakabar.com

Foto : David Moore - narakabar.com

Empat Nama Mengerucut di Ambang Muktamar ke-35 NU

Narakabar.com – Forum tertinggi Nahdlatul Ulama, yakni Muktamar ke-35, akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026. Acara tersebut mengangkat tema "Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa" dan akan menentukan siapa yang memimpin organisasi selama lima tahun ke depan, tepatnya periode 2026–2031.

Satu minggu sebelum pembukaan forum, persaingan menuju kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah mengerucut ke empat figur yang paling diperhitungkan. Penentuan arah organisasi selama satu periode penuh bergantung pada hasil pemilihan di arena tersebut.

Siapa Saja yang Mengemuka?

M Wildan, seorang peneliti di Insantara sekaligus intelektual muda NU, merangkum empat nama yang kini mendominasi bursa kepemimpinan. Keempatnya ialah KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), KH Imam Jazuli, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), dan KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf).

"Mereka masing-masing memiliki basis dukungan, pengalaman, jaringan dan karakter kepemimpinan berbeda. Modal politik-organisasi sekaligus tantangan yang berbeda," kata Wildan dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026).

Gus Yahya: Antara Warisan Modernisasi dan Beban Evaluasi

Sebagai petahana, Gus Yahya memegang sejumlah keunggulan struktural. Pengalaman memimpin PBNU, penguasaan arsitektur organisasi, serta jejaring yang terbangun sepanjang satu periode menjadi modalitas politik yang sulit ditandingi. Agenda modernisasi tata kelola, termasuk digitalisasi melalui berbagai platform organisasi, turut menjadi bagian dari warisan kepemimpinannya.

"Dari sisi politik organisasi, pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk mempertahankan kepemimpinan," tegas Wildan.

Akan tetapi, posisi petahana membawa konsekuensi ganda. Gus Yahya tidak sekadar memaparkan program baru; ia juga harus mempertanggungjawabkan seluruh capaian satu periode sebelumnya. Wildan menyoroti bahwa polemik tata kelola, relasi antara Syuriyah dan Tanfidziyah, persoalan keuangan, pengelolaan aset dan usaha organisasi, hingga berbagai kontroversi serta kasus korupsi yang melibatkan pengurus, semuanya menjadi bahan evaluasi yang tak bisa dihindari di arena Muktamar.

"Polemik tata kelola organisasi, hubungan antara Syuriyah dan Tanfidziyah, persoalan keuangan, pengelolaan aset dan usaha organisasi, hingga berbagai kontroversi dan kasus korupsi yang melibatkan pengurus menjadi bahan evaluasi yang tidak dapat dilepaskan dari arena Muktamar," jelasnya.

Di internal NU, penilaian terhadap kepemimpinan Gus Yahya terbelah tajam. Sebagian kalangan melihatnya sebagai pembawa modernisasi yang membuka ruang baru bagi NU di panggung global. Sebagian lain justru menyoroti persoalan konsolidasi internal dan tata kelola.

"Bahkan kepemimpinan Gus Yahya oleh sebagian besar kalangan dianggap paling gagal dalam sejarah PBNU," tegasnya.

Imam Jazuli: Transformasi dari Basis Pesantren

KH Imam Jazuli, pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia di Cirebon, hadir sebagai kandidat independen dengan positioning yang berbeda. Latar belakang pesantren, rekam jejak akademik, serta gagasan transformasi NU menjadi fondasi pencalonannya. Ia menawarkan pendekatan yang berakar pada tradisi keilmuan pesantren sekaligus membawa agenda pembaruan bagi organisasi.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Satu Minggu Jelang Muktamar 4 Nama?

Satu Minggu Jelang Muktamar 4 Nama is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Satu Minggu Jelang Muktamar 4 Nama matter?

Satu Minggu Jelang Muktamar 4 Nama matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.