NaraKabar
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Sekjen PKS: Walau Masih Trauma, Warga NTT Malah Sambut Kami dengan Gembira

Published September 6, 2026 · Updated September 6, 2026 · By Robert Wilson - narakabar.com

Foto : Robert Wilson - narakabar.com

Trauma Gempa Tak Meruntuhkan Semangat: Warga Poka Sambut Rombongan PKS dengan Hangatnya

Narakabar.com – Di tengah deretan tenda darurat yang membentang di halaman Gereja Paroki Fransiskus Xaverius Poka, suasana yang diharapkan penuh duka justru berubah menjadi tawa dan tepuk tangan. Pada Sabtu, 5 September 2026, rombongan yang dipimpin Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera Muhammad Kholid tiba di lokasi pengungsian korban gempa bumi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Alih-alih menemukan kerumunan yang murung dan tertutup, para relawan dan pejabat yang datang justru disambut oleh warga yang masih menyimpan luka batin akibat guncangan dahsyat beberapa hari sebelumnya.

NTT di Garis Patahan: Mengapa Poka Rentan Gempa

Nusa Tenggara Timur selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah paling rawan seismik di Indonesia. Posisi geografis kepulauan yang berada di pertemuan lempeng tektonik membuat gempa bumi menjadi ancaman yang tak pernah benar-benar pergi. Manggarai, dengan topografinya yang berbukit dan kepadatan permukiman yang tersebar, kerap menjadi titik yang paling merasakan dampak guncangan. Ketika gempa mengguncang Poka, ribuan warga terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mencari perlindungan di area terbuka atau fasilitas umum seperti gereja dan sekolah. Kondisi ini bukan hanya soal kerusakan fisik bangunan, tetapi juga soal terputusnya akses pangan, air bersih, dan layanan kesehatan dalam hitungan jam.

Kehadiran figur publik di lokasi pengungsian, dalam konteks seperti ini, kerap dipandang sebagai bentuk pengakuan bahwa penderitaan warga tidak luput dari perhatian negara. Kholid menegaskan bahwa tujuan utama kedatangannya adalah meninjau langsung kondisi para pengungsi sekaligus menyalurkan bantuan kemanusiaan secara fisik ke tangan mereka, bukan sekadar melakukan kunjungan seremonial.

Sambutan yang Tak Direncanakan

Kholid mengungkapkan bahwa sejak malam sebelumnya, ketika rombongan pertama kali menginjakkan kaki di area Gereja Paroki Fransiskus Xaverius Poka, ia sudah meminta agar tidak ada penyambutan formal. Niatnya murni sosial: melihat keadaan, mendengar keluhan, dan memastikan bantuan sampai. Namun, warga Poka bersikeras menunjukkan penghormatan mereka dengan cara yang khas.

"Sejak tadi malam kami tiba di Gereja Paroki Fransiskus Xaverius Poka. Di situ berdiri tenda-tenda pengungsian. Kami malah disambut penuh suka cita. Walau masih ada rasa sedih, ketika ada yang datang mereka menyambut dengan gembira. Itulah kehebatan warga NTT," ujar Kholid.

Ia menambahkan bahwa permintaan untuk menghindari acara penyambutan tidak digubris oleh masyarakat setempat.

"Kami sudah minta untuk tidak disambut dengan acara-acara. Kami hanya ingin datang melihat dan mengantarkan bantuan. Tapi mereka tetap memaksa untuk menyambut," ungkap Kholid.

Teguh di Tengah Luka

Yang paling mencolok bagi Kholid bukan sekadar keramahan, melainkan ketangguhan mental yang tampak di wajah para pengungsi. Meskipun masih tinggal di bawah tenda darurat dan menyimpan trauma akibat gempa, interaksi mereka dengan para relawan yang datang justru dipenuhi keceriaan yang tulus.

"Mereka tetap tegar di tengah trauma. Selalu ceria di hadapan kami," katanya.

Ketangguhan semacam ini, menurut Kholid, merupakan modal besar dalam proses pemulihan pascabencana. Ia melihat bahwa ketika komunitas mampu mempertahankan semangat kolektif dan rasa hormat satu sama lain, proses rehabilitasi—baik fisik maupun psikologis—akan berjalan jauh lebih cepat dibandingkan ketika warga tenggelam dalam keputusasaan berkepanjangan.

Budaya Memuliakan Tamu: Warisan yang Tak Tergerus Bencana

Bagi masyarakat NTT, khususnya di wilayah Manggarai dan sekitarnya, tradisi menyambut tamu bukan sekadar sopan santun sosial, melainkan bagian dari identitas budaya yang diwariskan lintas generasi. Menghormati tamu dianggap sebagai kemuliaan yang melekat pada cara hidup, terlepas dari kondisi ekonomi maupun situasi darurat. Kholid menilai bahwa fenomena yang ia saksikan di Poka membuktikan bahwa nilai-nilai tersebut begitu mengakar, bahkan guncangan gempa pun tidak mampu melunturkannya.

"Karena bagi mereka, menyambut tamu adalah kemuliaan dari budaya yang tidak boleh lepas," pungkas Kholid.

Pandangan ini sejalan dengan pemahaman antropologis bahwa masyarakat adat di Flores dan sekitarnya menempatkan keramahan dan hospitalitas sebagai pilar kohesi sosial. Ketika struktur rumah dan infrastruktur hancur, ikatan antarwarga yang dijaga melalui ritual penyambutan dan gotong royong justru menjadi jangkar utama yang menahan komunitas agar tidak tercerai-berai.

Implikasi untuk Pemulihan Pascabencana

Kehadiran bantuan kemanusiaan yang disalurkan langsung ke lokasi pengungsian memiliki dimensi ganda: di satu sisi memenuhi kebutuhan material mendesak seperti pangan, selimut, dan obat-obatan; di sisi lain mengirimkan sinyal bahwa negara dan masyarakat luas tidak meninggalkan korban dalam isolasi. Bagi ribuan warga Poka yang kini bergantung pada tenda darurat, sinyal tersebut sama pentingnya dengan sepotong roti atau satu botol air bersih.

Proses pemulihan di wilayah pesisir dan pegunungan NTT umumnya memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, tergantung skala kerusakan dan akses logistik. Ketangguhan mental yang ditunjukkan warga Poka, sebagaimana diobservasi oleh Kholid, menjadi faktor penentu yang mempercepat transisi dari fase darurat menuju fase rehabilitasi. Tanpa semangat kolektif tersebut, bantuan eksternal—sebesar apa pun—akan kehilangan daya ungkitnya karena penerima berada dalam kondisi psikologis yang lumpuh.

Kunjungan ke Poka ini juga mengingatkan bahwa respons bencana di Indonesia tidak bisa direduksi menjadi sekadar distribusi logistik. Dimensi budaya, kepercayaan lokal, dan cara masyarakat memaknai solidaritas harus menjadi bagian integral dari setiap strategi pemulihan. Warga NTT telah menunjukkan, bahkan di tengah reruntuhan dan trauma, bahwa martabat dan keramahan bukan barang mewah yang bisa ditunda hingga situasi kembali normal.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Sekjen PKS?

Sekjen PKS is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Sekjen PKS matter?

Sekjen PKS matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.