Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Latest Program: Pengamat UMY Soal Safari Politik Jokowi dan PSI: Upaya Amankan Oligarki Lewat Politik ‘Bagi Uang’

David Moore - narakabar.com 3 mins read 7 views

Latest Program: Pengamat UMY Sebut Safari Politik Jokowi dan PSI untuk Amankan Oligarki Latest Program - Dalam upaya meningkatkan pengaruh politik di tengah

Latest Program: Pengamat UMY Soal Safari Politik Jokowi dan PSI: Upaya Amankan Oligarki Lewat Politik ‘Bagi Uang’

Latest Program: Pengamat UMY Sebut Safari Politik Jokowi dan PSI untuk Amankan Oligarki

Latest Program – Dalam upaya meningkatkan pengaruh politik di tengah persiapan Pemilu 2029, sejumlah analisis menyoroti strategi pemerintah dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang disebut sebagai ‘Latest Program’. Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir, menegaskan bahwa kunjungan politik Joko Widodo (Jokowi) bersama PSI tidak hanya bertujuan memperkuat suara partai tersebut, tetapi juga menjadi upaya untuk menjaga kekuasaan yang telah dijajah selama satu dekade terakhir. Menurut Zuly, strategi ini berpotensi memperkuat dominasi oligarki melalui metode politik ‘bagi uang’ yang masih relevan di masyarakat Indonesia.

Strategi Politik ‘Latest Program’ dan Keterlibatan PSI

Zuly Qodir menjelaskan bahwa ‘Latest Program’ yang diterapkan oleh Jokowi dan PSI merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk memastikan keberhasilan dalam pemilu mendatang. Ia menegaskan bahwa pemberian imbalan materi selama safari politik menjadi cara efektif untuk menarik dukungan dari pemilih. “Anaknya menjadi ketua PSI, jadi dia tak ingin ketinggalan jika partainya tidak menerima suara yang cukup,” kata Zuly saat diwawancara Suara.com, Senin (29/6/2026). Pernyataan ini menggarisbawahi peran penting Jokowi dalam memperkuat basis suara partainya.

“Datang ke masyarakat itu bukan sembarangan. Mereka membawa modal, membagikan duit, lalu masyarakat simpati,” ungkap Zuly.

Safari politik, menurut Zuly, memperlihatkan cara bagaimana pemimpin dan partai menggunakan kekuasaan untuk membangun relasi dengan pemilih. Ia menilai bahwa praktik ini bisa berjalan lancar karena kesadaran politik masyarakat dianggap rendah, sehingga lebih mudah tergoda oleh bentuk mobilisasi yang transaksional. “Masyarakat kita itu gampang amnesia, yang penting dibayar, selesai urusan,” tambahnya. Dengan metode ini, Zuly percaya bahwa elit politik dapat memperoleh keuntungan maksimal sementara rakyat menjadi bagian dari konsumen strategi.

Implikasi Budaya Politik Patron-Klien dalam ‘Latest Program’

Zuly menyoroti bahwa keberhasilan strategi ‘Latest Program’ bergantung pada budaya politik patron-klien yang masih kuat di Indonesia. Ia mengatakan bahwa sistem ini memungkinkan para elite untuk membangun ketergantungan yang lebih dalam dengan pemilih, sehingga mengurangi peran partai dalam proses demokrasi. “Jika masyarakat lebih kritis, mereka akan lebih memilih berdasarkan pertimbangan rasional,” pungkasnya. Hal ini mengingatkan bahwa kesadaran politik yang rendah berpotensi meningkatkan ketergantungan pada bentuk transaksi material.

Dalam konteks Pemilu 2029, Zuly menegaskan bahwa strategi politik ‘bagi uang’ bisa menjadi alat untuk memastikan kemenangan para kandidat yang memiliki hubungan erat dengan oligarki. Ia menekankan bahwa keberhasilan program ini membutuhkan koordinasi yang rapat antara pemerintah dan partai-partai yang bekerja sama. “Jika ini berlangsung terus-menerus, kepercayaan masyarakat terhadap institusi politik akan berkurang,” jelasnya. Dengan demikian, ‘Latest Program’ tidak hanya menjadi bagian dari kampanye politik, tetapi juga pengamakan struktur kekuasaan di negara ini.

Keseimbangan antara Dukungan Rakyat dan Kepentingan Elite

Zuly mengingatkan bahwa meski ‘Latest Program’ berhasil menarik perhatian masyarakat, tetapi harus diimbangi dengan upaya meningkatkan kualitas demokrasi. Ia menilai bahwa saat ini, suara rakyat lebih banyak menjadi alat untuk memperoleh keuntungan pribadi, dibandingkan memperkuat sistem politik yang transparan. “Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa kekuasaan tetap berada di tangan oligarki, terlepas dari hasil pemilu,” katanya. Hal ini menunjukkan bahwa meski ada program yang menggiurkan, keberlanjutan demokrasi tetap tergantung pada peran aktif masyarakat.

Dalam rangka memperkuat strategi ini, Zuly mengatakan bahwa sistem pendidikan politik perlu dioptimalkan agar masyarakat tidak hanya tergoda oleh imbalan materi. “Jika pendidikan politik ditingkatkan, masyarakat akan lebih mampu memilih berdasarkan ideologi, bukan hanya karena dibayar,” pungkasnya. Dengan demikian, ‘Latest Program’ tidak hanya sebagai bagian dari kampanye, tetapi juga sebagai isyarat untuk mengubah cara berpolitik di Indonesia.

Kesiapan Pemilu 2029 dan Peran PSI

Pemilu 2029 menjadi momen kritis bagi PSI dalam mengukir keberhasilan sebagai partai yang mampu bersaing di ranah nasional. Zuly menilai bahwa keterlibatan Jokowi dalam ‘Latest Program’ membantu partai tersebut memperkuat posisi di tengah persaingan yang ketat. “PSI perlu menunjukkan bahwa mereka mampu memimpin dengan berbagai kebijakan yang inklusif,” tambahnya. Ia juga menekankan bahwa partai harus memperhatikan kebutuhan masyarakat, bukan hanya mendominasi lewat cara ‘bagi uang’.

Dengan semua ini, Zuly berharap bahwa ‘Latest Program’ bisa menjadi sarana untuk memperbaiki dinamika politik Indonesia. Namun, ia juga mengingatkan bahwa perlu adanya keseimbangan antara pemberian imbalan dan penguatan kekuasaan. “Kami menginginkan demokrasi yang sehat, bukan hanya tentang siapa yang bisa menjanjikan keuntungan paling besar,” pungkasnya. Hal ini menunjukkan bahwa meski ada strategi yang efektif, keberhasilan dalam demokrasi tetap membutuhkan keterlibatan masyarakat yang lebih aktif dan kritis.

Gabung diskusi