Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Key Strategy: Pedas! Guntur Romli Sebut Kepala Kerbau Diinjak Jokowi Simbol Loyalis Terbuai Perilaku Raja

Robert Wilson - narakabar.com 2 mins read 14 views

tik Simbol Kepemimpinan Feodal Jokowi Key Strategy - Politisi PDI Perjuangan, Guntur Romli, memicu perdebatan dengan kritiknya terhadap aksi Presiden Joko

Key Strategy: Pedas! Guntur Romli Sebut Kepala Kerbau Diinjak Jokowi Simbol Loyalis Terbuai Perilaku Raja

Key Strategy: Pedas! Guntur Romli Kritik Simbol Kepemimpinan Feodal Jokowi

Key Strategy – Politisi PDI Perjuangan, Guntur Romli, memicu perdebatan dengan kritiknya terhadap aksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam prosesi adat di Lampung. Tindakan Jokowi menginjak kepala kerbau, yang dianggap sebagai simbol kekuasaan, dianggapnya sebagai bukti dari kebijakan kepemimpinan feodal dan populis. Kritik ini menyentuh teori yang diusung oleh Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, yang menilai Jokowi sebagai representasi kombinasi “the triangle of authoritarian populism”.

Teori Kepemimpinan Feodal dan Populisme

Kritik Guntur Romli berakar dari analisis terhadap paradigma kepemimpinan yang digambarkan oleh Hasto Kristiyanto. Menurut teori ini, Jokowi dianggap membangun identitas sebagai seorang raja, dengan menempatkan keluarga dalam posisi sentral untuk memperkuat dominasi kekuasaan. Feodalisme, populisme, dan Machiavelianisme menjadi tiga elemen yang saling berkaitan, menggambarkan strategi politik yang diduga mengorbankan keadilan untuk keuntungan keluarga. Guntur Romli menegaskan bahwa tindakan menginjak kepala kerbau dalam video yang beredar segera menjadi simbol dari kebijakan ini.

PDI Perjuangan, partai yang diusung Jokowi, telah lama mengusung konsep kepemimpinan yang menggabungkan elemen konservatif dan liberal. Namun, menurut Guntur Romli, konsep ini mulai berubah menjadi lebih berbobot feodal, dengan para pendukung loyalitas terjebak dalam struktur kekuasaan yang terkesan membeda-bedakan antara pemimpin dan pengikut. Hal ini membuatnya semakin merusak citra partai sebagai representasi perjuangan rakyat.

Implementasi Kebijakan Kepemimpinan Feodal

Kritik yang lebih dalam mengarah pada keterlibatan keluarga Jokowi dalam berbagai posisi politik strategis. Guntur Romli menyoroti bahwa tindakan Jokowi menempatkan anaknya, Gibran, sebagai wakil presiden, menantunya, Bobby, sebagai gubernur Sumatera Utara, dan Kaesang sebagai ketua umum PSI, memperkuat anggapan bahwa kekuasaan dikelola melalui pengaruh keluarga. Ini dianggap sebagai bentuk strategi politik yang menekankan loyalitas daripada kapasitas kualitas individu.

Menurut Guntur Romli, kebijakan Jokowi dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan tanda-tanda kepemimpinan feodal. Penyaluran bantuan langsung kepada rakyat, meski bernilai positif, bisa berubah menjadi alat untuk membangun koneksi dengan kelompok tertentu. Selain itu, kebijakan ekonomi yang cenderung menekankan kepentingan keluarga juga dituduh menyimpang dari prinsip keadilan. “Key Strategy Jokowi adalah menghimpun kekuasaan melalui simbol-simbol adat dan permainan politik keluarga,” kata Guntur Romli.

Guntur Romli menambahkan bahwa simbol-simbol seperti kepala kerbau dalam prosesi adat bukan hanya untuk menunjukkan kekuasaan, tetapi juga untuk membangun kedekatan emosional dengan basis suporter. Ini menunjukkan bahwa Key Strategy Jokowi dirancang untuk memperkuat persepsi sebagai seorang raja yang mengatur negara seperti kerajaan. “Kepala kerbau yang diinjak menunjukkan dominasi yang lengkap, termasuk dalam lingkaran kekuasaan politik dan ekonomi,” imbuhnya.

Reaksi kritik terhadap Key Strategy ini semakin kuat karena menggambarkan pola kekuasaan yang menimbulkan ketidakseimbangan. Guntur Romli menyebut bahwa aksi Jokowi dalam video tersebut bukan hanya simbol, tetapi juga pernyataan jelas tentang struktur kekuasaan yang ingin dibangun. Dengan menginjak kepala kerbau, Jokowi dinilai memperkuat wajah feodalnya, sementara loyalitas yang terjebak dalam ketergantungan menimbulkan ketimpangan di tengah masyarakat.

Gabung diskusi