Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Solving Problems: GERD Kambuh, Dokter Tifa Pakai Kursi Roda usai Pemeriksaan di RS Polri

Robert Wilson - narakabar.com 3 mins read 10 views

GERD Kambuh, Dokter Tifa Gunakan Kursi Roda di RS Polri Solving Problems menjadi fokus utama dalam perjalanan Dokter Tifa setelah mengalami kambuhnya penyakit

Solving Problems: GERD Kambuh, Dokter Tifa Pakai Kursi Roda usai Pemeriksaan di RS Polri

GERD Kambuh, Dokter Tifa Gunakan Kursi Roda di RS Polri

Solving Problems menjadi fokus utama dalam perjalanan Dokter Tifa setelah mengalami kambuhnya penyakit GERD pada Jumat (19/6/2026). Ia menginap di Rumah Sakit Polri Kramat Jati karena kondisi kesehatannya memburuk setelah menghadiri agenda akademik pagi hari. Pemeriksaan yang dilakukan di institusi tersebut menunjukkan bahwa GERD, atau gastroesophageal reflux disease, memainkan peran signifikan dalam mengganggu kebugaran fisik dan mentalnya.

Pemicu Kambuh GERD dan Konteks Kasus Hukum

Menurut kuasa hukum Dokter Tifa, Refly Harun, penyakit GERD kambuh disebabkan oleh faktor fisik yang melelahkan, stres tinggi, dan kurangnya istirahat dari aktivitas sebelumnya. “Dokter Tifa memiliki kondisi bawaan, salah satunya GERD yang kambuh karena tidak makan sejak pagi dan tekanan dari proses hukum yang sedang dihadapinya,” jelas Refly di Jakarta, Jumat malam, mengutip dari ANTARA. Kasus ini tidak hanya berkaitan dengan penyelesaian masalah hukum, tetapi juga dengan penyelesaian masalah kesehatan yang memengaruhi kinerjanya.

Kambuhnya GERD memperparah kondisi Dokter Tifa, yang telah dihimpit oleh tuntutan terkait keaslian ijazah Presiden Joko Widodo. Pemeriksaan di RS Polri dianggap sebagai langkah penting dalam menyelesaikan masalah keterlibatannya dalam kasus tersebut. Tim medis mengungkapkan bahwa kondisi kesehatannya membutuhkan perawatan intensif agar tidak mengganggu proses penyelidikan yang sedang berlangsung.

Di samping itu, Dokter Tifa dirawat bersama Roy Suryo, tersangka lain dalam kasus dugaan fitnah dan pencemaran nama baik. Roy Suryo ditahan Polda Metro Jaya pada Jumat pagi sekitar pukul 07.00 WIB, sementara Dokter Tifa ditangkap di apartemennya sekitar pukul 06.47 WIB. Kedua pihak menghadapi tantangan serupa dalam menyelesaikan masalah hukum mereka, termasuk kelelahan fisik dan mental dari rutinitas pemeriksaan.

Proses Pemeriksaan dan Dukungan Tim Pembela

Tim Pembela Dokter Tifa (TPDT) menjelaskan bahwa kambuhnya penyakitnya adalah konsekuensi langsung dari agenda akademik yang padat. “Seminar disertasi yang dihadiri Dokter Tifa membutuhkan fokus tinggi, dan kondisi ini memperparah masalah kesehatannya,” tambah Refly. Selama pemeriksaan, Dokter Tifa menggunakan kursi roda untuk memudahkan pergerakan, yang menunjukkan bagaimana kesehatan memengaruhi kemampuannya dalam menyelesaikan tugas sehari-hari.

Proses hukum yang dihadapi Dokter Tifa juga menjadi sorotan publik. Banyak netizen dan akademisi mengkritik penggunaan penyakit GERD sebagai alasan untuk menghambat proses pemeriksaan. Namun, TPDT mempertahankan bahwa kondisi kesehatan harus menjadi pertimbangan dalam menyelesaikan masalah secara adil. Pemeriksaan di RS Polri dianggap sebagai bukti bahwa keadilan tetap bisa dicapai meski dalam situasi yang tidak menyenangkan.

Dalam pemeriksaan, Dokter Tifa tampak membutuhkan dukungan dari tim medis untuk tetap fokus. “Alhamdulillah ujian tetap berjalan melalui Zoom, meski dalam kondisi tekanan dan ketidaknyamanan,” ujar Refly. Hal ini menunjukkan bagaimana proses pemeriksaan diatur agar tidak mengganggu kesehatannya, sekaligus menggambarkan upaya menyelesaikan masalah secara fleksibel.

Di IGD RS Polri, Roy Suryo dan Dokter Tifa diperlihatkan dalam kondisi yang berbeda. Roy Suryo mengenakan pakaian biru-putih dan celana pendek abu-abu gelap, sementara Dokter Tifa mengenakan rompi tahanan berwarna oranye. Kedua pihak tetap menjalani pemeriksaan hingga Jumat malam, menunjukkan komitmen mereka dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Kasus ini tidak hanya menguji ketahanan fisik, tetapi juga mental mereka dalam menghadapi tekanan publik.

Gabung diskusi