Meeting Results: Banjir Keluhan Mitra hingga Ancaman Gebok Nasional, BGN Buka Suara Tata Kelola MBG
Meeting Results: Banjir Keluhan Mitra hingga Ancaman Gebok Nasional, BGN Buka Suara Tata Kelola MBG Meeting Results - Dalam meeting results yang digelar di
Meeting Results: Banjir Keluhan Mitra hingga Ancaman Gebok Nasional, BGN Buka Suara Tata Kelola MBG
Meeting Results – Dalam meeting results yang digelar di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada Jumat (17/7/2026), Deputi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Trenggono membuka suara terkait keluhan mitra dan ancaman penghentian operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menjelaskan bahwa langkah sementara penghentian 27.000 titik dapur MBG diambil sebagai bagian dari evaluasi tata kelola untuk menjadikan program lebih optimal dan efektif.
Perkembangan RDP dan Penjelasan Pihak BGN
Rapat Dengar Pendapat (RDP) tersebut menjadi ajang diskusi penting antara BGN dan Komisi IX DPR RI, yang mengupas anggaran MBG 2025. Dalam meeting results, Trenggono menjawab berbagai keluhan mitra, termasuk masalah logistik dan keterlibatan pihak ketiga. “Kita datang ke sini untuk menyampaikan unek-unek mitra, serta meninjau kembali kebijakan yang dianggap kurang tepat,” tuturnya. Ia menekankan bahwa hasil meeting results ini menjadi dasar untuk merevisi kebijakan MBG guna menghindari pengulangan kesalahan.
Keluhan mitra mencakup kesan tidak adil dalam distribusi bantuan dan kurangnya komunikasi yang transparan. Trenggono mengakui adanya kekurangan dalam proses tata kelola MBG, terutama terkait pengelolaan dapur di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Pihak BGN berkomitmen untuk terus berkoordinasi dengan mitra, meski ada ancaman pembatalan kerja sama dari beberapa pihak.
“Meeting results kali ini adalah bukti bahwa BGN tetap terbuka menerima masukan. Tapi kita juga perlu memastikan bahwa program ini bisa terus berjalan dengan baik,” ujar Trenggono. Ia menambahkan bahwa penghentian sementara dapur MBG tidak berarti penolakan total, melainkan untuk memperbaiki sistem distribusi agar lebih merata dan mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang lebih luas.
Menurut Trenggono, evaluasi yang dilakukan sejak awal tahun 2026 sudah menunjukkan hasil signifikan. Namun, ada beberapa titik dapur yang dinilai tidak sesuai dengan standar kinerja, sehingga harus ditinjau kembali. “Kita ingin membuat tata kelola MBG yang lebih fleksibel dan bisa beradaptasi dengan dinamika lapangan,” tuturnya. Ia juga menyebutkan bahwa ada rencana untuk mengembangkan kerja sama dengan mitra baru guna memperkuat jaringan distribusi.
Syawaluddin, Ketua Umum Asosiasi Mitra BGN, mengkritik cara kerja MBG yang dianggap tidak adil. Ia menilai BGN cenderung memaksa mitra tanpa mempertimbangkan kepentingan mereka secara maksimal. “Dalam meeting results ini, kita berharap ada penyesuaian yang lebih baik, bukan hanya mengurangi jumlah dapur, tapi juga memperbaiki pola kerja sama,” katanya. Syawaluddin juga memperingatkan bahwa jika tata kelola MBG tidak diperbaiki, ada kemungkinan mitra akan memutus hubungan atau melakukan aksi ‘gebok nasional’ untuk menekan program tersebut.
Sebagai respons, BGN menjanjikan bahwa hasil meeting results akan diolah secara transparan. Mereka berencana mengundang mitra untuk mengikuti rapat lanjutan dan menyusun mekanisme komunikasi yang lebih baik. Trenggono juga meminta masyarakat untuk bersabar hingga evaluasi selesai, karena rencananya akan ada penyesuaian kebijakan yang menyeimbangkan kebutuhan pemerintah dan mitra. “Ini bukan akhir dari MBG, tapi langkah awal untuk perbaikan bersama,” pungkasnya. Dengan revisi ini, diharapkan program MBG bisa berjalan lebih baik dan menghindari konflik yang mungkin terjadi.
