Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Alarm Diabetes Indonesia: Skrining BPJS Belum Mampu Menjangkau Jutaan Kasus Tersembunyi?

William Williams - narakabar.com 3 mins read 5 views

Alarm Diabetes Indonesia kembali terdengar keras. Data terbaru menunjukkan bahwa lebih dari tiga perempat penderita diabetes di Indonesia masih belum

Alarm Diabetes Indonesia: Skrining BPJS Belum Mampu Menjangkau Jutaan Kasus Tersembunyi?

Alarm Diabetes Indonesia: Jutaan Kasus Tersembunyi

Narakabar.com – Alarm Diabetes Indonesia kembali terdengar keras. Data terbaru menunjukkan bahwa lebih dari tiga perempat penderita diabetes di Indonesia masih belum menyadari kondisi mereka. Prof. Em Yunir, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menyampaikan temuan ini dalam Forum Jurnalis Kesehatan pada pertengahan Juli 2026. Angka ini menjadi peringatan penting bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Jutaan orang Indonesia hidup dengan kadar gula darah tinggi tanpa pengetahuan. Mereka baru mencari pertolongan medis ketika komplikasi serius sudah muncul. Stroke, gagal ginjal, serangan jantung, hingga kebutaan akibat retinopati diabetik menjadi konsekuensi yang sering terlambat dicegah. Kondisi ini menunjukkan betapa pentingnya deteksi dini dalam penanganan diabetes.

Posisi Indonesia di Kancah Global

Ironisnya, negara ini memiliki potensi besar untuk mengatasi masalah tersebut. BPJS Kesehatan bersama jaringan puskesmas yang menjangkau daerah terpencil menjadi modal penting. Namun, deteksi dini masih belum optimal menjangkau sebagian besar penyandang diabetes. Banyak kasus yang tersembunyi dan tidak terdeteksi oleh sistem kesehatan nasional.

Menurut Survei Kesehatan Indonesia, satu dari sepuluh penduduk kini mengidap diabetes. International Diabetes Federation mencatat angka tersebut sudah melampaui 20 juta jiwa. Proyeksi menunjukkan angka ini akan mencapai lebih dari 30 juta orang pada tahun 2045. Pertumbuhan ini mengkhawatirkan jika tidak ditangani dengan serius.

Laporan terbaru IDF menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dunia untuk kasus diabetes tidak terdiagnosis. Sekitar 15 juta orang dewasa hidup dengan kondisi ini tanpa menyadarinya. Angka ini menjadi bukti bahwa sistem skrining saat ini belum mampu menjangkau jutaan kasus tersembunyi.

Tiga Faktor Utama Keterlambatan Deteksi

Prof. Yunir menggambarkan proses kerusakan organ pada diabetes yang tak terkendali seperti argometer taksi yang terus berjalan makin cepat seiring tingginya kadar gula darah. Kerusakan ini terjadi secara bertahap dan sering kali tidak disadari oleh penderita.

Satu, diabetes sering datang tanpa gejala mencolok. Stereotipe gejala seperti sering haus, sering buang air kecil hingga berat badan turun drastis, sebenarnya baru muncul pada tahap yang sudah cukup lanjut. Banyak penyandang diabetes tipe 2 di fase awal justru merasa sehat-sehat saja, sehingga tidak ada dorongan untuk memeriksakan diri.

Prof. Yunir menegaskan, mayoritas orang yang tidak terdiagnosis benar-benar tidak menyadari kondisinya. Mereka tidak merasakan gejala apapun meskipun kadar gula darah sudah tinggi. Kondisi ini membuat diabetes menjadi silent killer yang berbahaya.

“Hingga akhirnya terdeteksi saat berobat penyakit lain atau masuk kondisi gawat darurat,” tutur Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PP PERKENI) itu.

Dua, budaya berobat saat sakit, bukan sebelum sakit. Kebiasaan medical check-up rutin belum jadi norma di masyarakat Indonesia. Pola pikir yang masih dominan adalah “ke dokter kalau sudah sakit,” bukan “cek kesehatan supaya tidak sakit.” Akibatnya, banyak orang baru menyentuh fasilitas kesehatan ketika penyakitnya sudah berat dan komplikasi sudah berjalan.

“Jangan ke dokter, nanti ketahuan. Jangan diperiksa, nanti ketahuan. Mendingan nggak diperiksa. Kan kita nggak tahu. Itu pola pikir yang harus diubah,” kata Prof. Yunir lagi.

Tiga, skrining belum menjadi kebiasaan rutin di layanan primer. Pemeriksaan gula darah pada kelompok berisiko seperti orang dengan obesitas, hipertensi, atau riwayat keluarga diabetes, belum berjalan secara sistematis di banyak puskesmas dan klinik.

Fokus pelayanan primer secara historis masih condong ke arah kuratif, yakni menangani pasien yang sudah datang dengan keluhan, bukan secara proaktif menjaring orang-orang berisiko yang belum merasa sakit. Perubahan paradigma ini diperlukan untuk meningkatkan deteksi dini.

Dampak Fiskal dan Kesehatan Jangka Panjang

Diabetes jarang berjalan sendiri, karena kerap disertai hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, hingga kebiasaan merokok yang memperberat risiko komplikasi. Kombinasi penyakit-penyakit ini menciptakan beban ganda bagi sistem kesehatan nasional.

Jika deteksi dini tetap macet, konsekuensinya bukan hanya soal kesehatan individu, tapi juga beban fiskal. Sebab, semakin banyak kasus yang baru ketahuan saat sudah masuk stadium komplikasi, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung sistem kesehatan. BPJS Kesehatan akan menghadapi tantangan besar dalam menanggung biaya pengobatan jangka panjang.

“Tujuan pengobatan diabetes bukan sekadar membuat gula darah normal, tetapi menjaga fungsi organ tubuh tetap baik dan meningkatkan kualitas hidup pasien dalam jangka panjang,” kata Prof. Yunir.

Skrining yang lebih intensif melalui BPJS Kesehatan dan puskesmas menjadi kunci untuk menjangkau jutaan kasus tersembunyi. Deteksi dini bukan hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga mengurangi beban ekonomi negara di masa depan. Alarm Diabetes Indonesia harus segera ditanggapi dengan tindakan nyata.

Gabung diskusi