Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Internasional

Rusia Rekrut Warga Miskin Jadi Tentara Perang, Dijanjikan Uang Melimpah

Emily Moore - narakabar.com 3 mins read 15 views

Moskow terus memperkuat barisan militernya di Ukraina dengan cara yang semakin agresif. Rusia Rekrut Warga Miskin Jadi tentara perang melalui berbagai

Rusia Rekrut Warga Miskin Jadi Tentara Perang, Dijanjikan Uang Melimpah

Rusia Rekrut Warga Miskin Jadi Tentara Perang: Strategi Memanfaatkan Ekonomi Global untuk Konflik Ukraina 2026

Narakabar.com – Moskow terus memperkuat barisan militernya di Ukraina dengan cara yang semakin agresif. Rusia Rekrut Warga Miskin Jadi tentara perang melalui berbagai strategi yang memanfaatkan kondisi ekonomi lemah di negara-negara berkembang. Puluhan ribu warga asing dari berbagai belahan dunia telah ditarik masuk ke dalam konflik ini melalui modus-modus yang dirancang khusus untuk menarik mereka. Para rekruter memanfaatkan keterbatasan informasi serta kebutuhan ekonomi yang mendesak dari calon pekerja asing.

Metode perekrutan yang digunakan sangat beragam dan semakin sophisticated. Mulai dari penawaran gaji menggiurkan hingga penipuan yang menyamar sebagai lowongan pekerjaan sipil biasa. Banyak individu yang awalnya percaya akan mendapatkan pekerjaan stabil dengan penghasilan layak, namun akhirnya dipaksa bergabung dengan pasukan tempur Rusia. Situasi ini telah menarik perhatian komunitas internasional dan memicu serangkaian kecaman terhadap praktik perekrutan yang dianggap tidak etis tersebut.

Kisah Tragis Keluarga Korban dari Berbagai Negara

Charles Mutoka, seorang veteran asal Kenya yang kini berusia 72 tahun, harus menghadapi kenyataan pahit setelah kehilangan putra tunggalnya. Oscar Khagola Mutoka berangkat menuju Rusia pada pertengahan tahun 2025 dengan harapan menemukan peluang kerja yang lebih baik. Namun, sang putra tidak pernah kembali ke rumah setelah dikirim ke zona konflik.

“Yang paling menyakitkan adalah saya tidak tahu apakah dia benar-benar dimakamkan, di mana makamnya, atau jangan-jangan jasadnya begitu saja dibuang di hutan di Rusia,” kata Charles Mutoka dikutip dari DW Jerman, Jumat (24/7/2026).

Sementara itu, Yoan Viondi Mendoza, pemuda asal Kuba, juga menjadi salah satu korban yang terjerat janji manis para perekrut. Ia memutuskan untuk meninggalkan negerinya pada September 2023 setelah tergiur dengan tawaran upah bulanan sebesar USD 2.000. Angka tersebut jauh melampaui pendapatan rata-rata masyarakat Kuba saat itu, membuat Yoan merasa ini adalah kesempatan emas untuk membantu keluarganya.

“Saya melakukan ini agar tidak mati kelaparan di Kuba,” kata Yoan saat bersiap berangkat ke Rusia bersama sekelompok pemuda lainnya.

Sebelum akhirnya dilaporkan tewas, Yoan sempat menghubungi keluarganya melalui pesan dari perekrut yang menyebutkan kemungkinan pemberian kewarganegaraan Rusia. Michael Duro, kakak Yoan, menceritakan bahwa adiknya pernah menelepon dan menyatakan telah menemukan jalan keluar dari zona konflik. Ia juga menyebutkan adanya sebuah “proyek” besar yang sedang dikerjakan di wilayah Rusia.

Modus Penipuan yang Semakin Sistematis

Penyelidikan mendalam mengungkap adanya pola terstruktur dalam perekrutan warga asing oleh pihak berwenang Rusia. Banyak calon pekerja yang awalnya dijanjikan posisi di bidang logistik, konstruksi, maupun pertanian. Namun, setelah tiba di Rusia, mereka dipaksa menandatangani dokumen militer tanpa pemahaman yang memadai tentang apa yang mereka tanda tangani.

Arman Mondol, pemuda asal Bangladesh, mengalami nasib serupa dengan banyak korban lainnya. Ia terbang ke Moskow menggunakan visa turis dengan keyakinan akan bekerja sebagai pengepak barang di sebuah gudang. Sesampainya di sana, Mondol harus menandatangani berbagai dokumen berbahasa Rusia tanpa bisa membaca isinya sama sekali. Tak lama kemudian, ia dikirim ke garda terdepan bersama tentara asing lainnya.

“Setiap ada operasi, kami selalu dikirim paling depan, sementara mereka tetap berada di belakang. Kami dijadikan tameng hidup dan didorong langsung ke tengah pertempuran,” ungkap Mondol dengan suara bergetar.

Nasib buruk Mondol berubah menjadi keberuntungan ketika ia berhasil selamat dari ledakan ranjau yang menghancurkan kendaraan tempatnya berada. Sebagian besar rekan-rekannya tewas dalam insiden tersebut. Setelah melarikan diri dari rumah sakit militer, Mondol dibantu oleh Kedutaan Besar Bangladesh untuk kembali ke tanah airnya dengan selamat.

“Saya masih melihat semua itu: orang-orang yang sekarat, tatapan mata mereka, wajah yang hancur, tubuh yang diterbangkan ranjau, serangan drone tanpa henti, dan anggota tubuh yang tercerai-berai. Itu mengerikan,” kenang Mondol.

Fenomena ini semakin diperkuat oleh kesaksian keluarga korban serta laporan dari lembaga pemantau hak asasi manusia internasional. Ribuan pemuda dari negara berkembang kini terjebak dalam situasi yang tidak mereka harapkan, menjadi bagian dari mesin perang yang terus berputar di garis depan Ukraina. Dengan Rusia Rekrut Warga Miskin Jadi tentara secara masif, dunia internasional semakin khawatir tentang dampak jangka panjang dari strategi ini.

Gabung diskusi