Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Metropolitan

Apa Arti Kota Global Jika Betawi Kehilangan Akar? FBR Tagih Pergub Lembaga Adat ke Pramono

Robert Wilson - narakabar.com 3 mins read 4 views

Apa Arti Kota Global Jika Betawi kehilangan identitasnya di tengah gempuran modernisasi? Forum Betawi Rempug (FBR) secara resmi mendorong Pemerintah Provinsi

Apa Arti Kota Global Jika Betawi Kehilangan Akar? FBR Tagih Pergub Lembaga Adat ke Pramono

FBR Tagih Pergub Lembaga Adat Betawi ke Pramono

Narakabar.com – Apa Arti Kota Global Jika Betawi kehilangan identitasnya di tengah gempuran modernisasi? Forum Betawi Rempug (FBR) secara resmi mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk segera menerbitkan Peraturan Gubernur mengenai Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi. Langkah strategis ini dinilai sangat penting untuk menjaga keberlangsungan akar budaya masyarakat Betawi yang semakin tergerus oleh pesatnya pembangunan Jakarta sebagai kota global.

Imam Besar FBR, Lutfi Hakim, menyampaikan desakan tersebut dalam acara peringatan ulang tahun ke-25 organisasi di Area Parkir C3 Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Sabtu (1/8/2026). Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa proses modernisasi kota tidak boleh mengikis ruang hidup maupun akar budaya Betawi yang telah ada sejak lama.

Jakarta Menuju Era Baru dengan Identitas Kuat

Lutfi mengingatkan bahwa Jakarta akan segera merayakan usia 500 tahun sekaligus bertransformasi menjadi kota global. Menurutnya, kemajuan fisik harus berjalan beriringan dengan pelestarian nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tanpa identitas yang kuat, kemajuan kota hanya akan menjadi hampa.

“Betawi lahir dari perjumpaan. Betawi tumbuh karena keterbukaan. Betawi besar karena mampu hidup berdampingan dengan siapa pun,” tegas Lutfi.

Ia kemudian mempertanyakan makna pembangunan apabila budaya lokal justru tersisih di tengah kemajuan ibu kota. Menurut Lutfi, kekuatan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh gedung-gedung tinggi, tetapi juga oleh nilai dan kebudayaan yang menjadi jiwanya. Pertanyaan ini menjadi relevan ketika kita membahas Apa Arti Kota Global Jika Betawi kehilangan akarnya.

“Apa arti sebuah kota global apabila anak-anak kandungnya kehilangan rasa memiliki? Apa arti gedung-gedung yang menjulang tinggi mencakar langit apabila akar kebudayaannya perlahan menghilang? Apa arti kemajuan ekonomi apabila kebudayaan hanya menjadi dekorasi pada perayaan tahunan?” ujarnya.

“Saya percaya, sebuah kota tidak hanya dibangun dengan beton. Ia dibangun dengan ingatan, dibangun dengan nilai, ia dibangun oleh kebudayaan. Dan selama Jakarta masih berdiri, Betawi akan selalu menjadi jiwanya,” katanya.

Regulasi sebagai Fondasi Pelestarian Budaya

Atas dasar pertimbangan tersebut, FBR meminta Pemprov DKI segera menindaklanjuti amanat undang-undang melalui penerbitan Pergub tentang Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi. Regulasi ini bukan sekadar aturan administratif, melainkan instrumen hukum untuk melindungi ekosistem budaya Betawi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Lutfi menjelaskan bahwa dalam lembaran-lembaran kertas tersebut, mengalir urat nadi perlindungan budaya dan ekonomi budaya masyarakat Betawi. Pergub ini diharapkan menjadi payung hukum bagi sanggar budaya, pengrajin, seniman, dan budayawan Betawi, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi generasi muda.

Karena itu, FBR menilai penerbitan Pergub tersebut menjadi langkah penting agar budaya Betawi tidak hanya hadir sebagai simbol seremonial, tetapi benar-benar menjadi bagian dari pembangunan Jakarta ke depan. Hal ini sejalan dengan pertanyaan mendasar tentang Apa Arti Kota Global Jika Betawi kehilangan identitasnya.

Visi Kota Aman dan Hijau dari Pramono

Sementara itu, terkait aspek keamanan dan keindahan kota, Pramono meminta pusat perbelanjaan untuk mengganti pagar tinggi dengan tanaman pohon. Hal ini bertujuan agar Jakarta terlihat lebih aman dan hijau bagi warganya. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menciptakan kota yang tidak hanya modern, tetapi juga nyaman dan berkelanjutan.

Kombinasi antara pelestarian budaya Betawi melalui Pergub dan transformasi fisik kota menjadi visi yang holistik. Dengan demikian, Jakarta dapat menjadi kota global yang tidak hanya dikenal dari sisi ekonomi, tetapi juga dari kekayaan budayanya.

Gabung diskusi