Skip to content
Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Pengangguran Tinggi di Papua Picu Gerakan Sipil dan Instabilitas

Emily Moore - narakabar.com 3 mins read

Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai melontarkan peringatan serius bahwa pengangguran tinggi di Papua picu potensi gerakan sipil yang dapat mengancam

Pengangguran Tinggi di Papua Picu Gerakan Sipil dan Instabilitas

Pengangguran Tinggi di Papua Picu Kekhawatiran Gerakan Sipil dan Instabilitas Nasional

Narakabar.com – Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai melontarkan peringatan serius bahwa pengangguran tinggi di Papua picu potensi gerakan sipil yang dapat mengancam stabilitas kawasan hingga tatanan nasional. Pernyataan tersebut ia sampaikan usai rangkaian kunjungan kerja di Provinsi Papua Tengah, yang sekaligus diwarnai keikutsertaannya pada Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Konteks Kunjungan dan Serapan Aspirasi Masyarakat

Agenda kunjungan kerja Pigai di Papua Tengah mencakup penyerapan aspirasi langsung dari warga setempat. Dalam interaksi tersebut, keluhan utama yang ia terima berkisar pada keterbatasan akses masyarakat adat terhadap sumber daya ekonomi, politik, dan birokrasi pemerintahan. Kondisi ini, menurut Pigai, menciptakan perasaan termarjinalkan yang mengakar dalam struktur sosial Papua.

Ia menegaskan bahwa minimnya peluang kerja bagi angkatan kerja lokal bukan sekadar persoalan statistik ketenagakerjaan, melainkan akar dari ketegangan sosial yang terus membesar. Warga Papua, kata Pigai, merasa tidak memperoleh bagian yang setara dalam distribusi kekuasaan, baik di ranah politik, pemerintahan, maupun sektor bisnis.

Tensi Gerakan Sipil dari Kalangan Usia Produktif

Pigai menyorot fenomena meningkatnya gerakan masyarakat sipil di Papua yang berlatar situasi keamanan dan konflik bersenjata belum sepenuhnya mereda. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar inisiatif gerakan tersebut datang dari kalangan usia produktif yang belum terserap pasar kerja.

“Maka mayoritas orang Papua cenderung jobless, penganggur. Situasi ini kami rasakan, di mana gerakan-gerakan sipil di Papua mulai dilakukan oleh mereka yang jobless tersebut, angkatan kerja,” ungkap Pigai.

Ia menjelaskan bahwa frustrasi sosial akibat pengangguran tinggi di Papua picu dinamika baru dalam pola gerakan sipil. Ketika peluang ekonomi tertutup dan perasaan termarjinalkan menumpuk, munculnya berbagai bentuk aksi kolektif menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.

Dampak yang Melampaui Dimensi Ekonomi

Dalam keterangannya di Jakarta pada Senin (24/8/2026), Pigai menegaskan bahwa persoalan ketenagakerjaan di Papua tidak boleh direduksi sebagai isu ekonomi semata. Lonjakan angka pengangguran, menurutnya, berisiko mengganggu stabilitas kawasan hingga menyentuh tatanan nasional secara keseluruhan.

“Tingginya pengangguran di Papua itu bisa menyebabkan dampak yang paling buruk dalam instabilitas wilayah dan bisa terganggu instabilitas nasional,” ujarnya.

Pigai juga mengutip langsung keluhan yang ia terima dari masyarakat setempat: “Apa yang saya lihat, orang Papua sampaikan kepada saya, orang Papua saat ini merasa tidak mendapatkan sumber daya kekuasaan, baik itu di politik maupun juga di pemerintahan atau juga di dunia bisnis.”

Tuntutan Percepatan Pemberdayaan Ekonomi

Berdasarkan temuan di lapangan, Pigai mendesak seluruh kementerian, lembaga pemerintah pusat, serta pemerintah daerah untuk memprioritaskan program pemberdayaan ekonomi yang benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat asli Papua. Pembukaan akses ekonomi dan penciptaan lapangan kerja bagi warga lokal dinilai menjadi langkah krusial guna meredam potensi frustrasi sosial sekaligus menjaga stabilitas keamanan di wilayah Papua.

Ia menekankan pentingnya memperluas kesempatan bagi masyarakat asli Papua agar dapat berpartisipasi secara setara di bidang politik, pemerintahan, dan dunia usaha. Tanpa intervensi kebijakan yang cepat dan terarah, risiko eskalasi konflik sosial akan terus meningkat seiring membesarnya angkatan kerja yang tidak terserap.

FAQ: Pengangguran Tinggi di Papua Picu Apa Saja Dampaknya?

Apakah pengangguran di Papua hanya persoalan ekonomi? Menurut Natalius Pigai, persoalan ini melampaui dimensi ekonomi karena berpotensi memicu gerakan sipil dan mengganggu stabilitas kawasan hingga nasional.

Siapa yang paling terdampak oleh kondisi ini? Kalangan usia produktif yang belum terserap pasar kerja, khususnya masyarakat adat Papua yang merasa tidak memperoleh akses setara terhadap sumber daya kekuasaan di politik, pemerintahan, dan bisnis.

Apa langkah yang didesak oleh Menteri HAM? Pigai mendesak kementerian, lembaga pusat, dan pemerintah daerah untuk mempercepat program pemberdayaan ekonomi, membuka akses ekonomi, dan menciptakan lapangan kerja bagi warga lokal Papua.

Gabung diskusi