Skip to content
Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Mengejar Brain Gain Indonesia, Pendidikan Tinggi Perlu Perluas Akses Global

Sandra Martin - narakabar.com 3 mins read

Di tengah ketatnya perebutan talenta di panggung internasional, Indonesia menghadapi tugas ganda: tidak sekadar melahirkan lulusan yang cakap, melainkan juga

Mengejar Brain Gain Indonesia, Pendidikan Tinggi Perlu Perluas Akses Global

Brain Gain Indonesia: Pendidikan Tinggi Diarahkan Memperluas Gerbang Kolaborasi Global

Narakabar.com – Di tengah ketatnya perebutan talenta di panggung internasional, Indonesia menghadapi tugas ganda: tidak sekadar melahirkan lulusan yang cakap, melainkan juga menjamin bahwa mereka membawa pulang pengalaman, jejaring, dan peluang untuk berkontribusi pada pembangunan domestik. Untuk menjawab tantangan itu, sektor pendidikan tinggi dipandang perlu menjadi jembatan yang menyambungkan mahasiswa serta peneliti dalam negeri dengan arus perkembangan ilmu pengetahuan dan komunitas akademik dunia.

Forum Diskusi Terfokus di Jakarta

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), bekerja sama dengan Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Indonesia dan Yayasan Bicara Data Indonesia (YBDI), menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Menghubungkan Talenta Global dan Riset Berdampak Berbasis Kolaborasi Kemitraan Pentahelix: Penguatan Joint Degree dan Joint Research untuk Brain Gain Indonesia” di Jakarta, Kamis (27/8/2026). Agenda utama forum ini adalah memperkuat mekanisme Joint Degree dan Joint Research sebagai instrumen strategis pembangunan SDM nasional.

Hambatan yang Terungkap dari Data Survei

Hasil survei Katadata Insight Center (KIC) yang dipresentasikan dalam forum mengungkap gambaran yang kontradiktif. Sebanyak 94,5 persen institusi responden mengaku telah menjalankan program mobilitas internasional dan menilai program tersebut memberi manfaat nyata bagi mutu lulusan. Namun, hanya 21,1 persen yang menyatakan program kerja sama internasionalnya benar-benar beroperasi secara penuh, meskipun 89,7 persen sudah membentuk unit atau tim khusus untuk mengurus urusan tersebut.

Beberapa faktor penghambat yang paling dominan antara lain: perbedaan standar akademik lintas negara yang dikeluhkan 68,4 persen responden, keterbatasan biaya yang menghambat mobilitas internasional menurut 69 persen responden, serta kelangkaan sumber daya manusia yang dihadapi 53,2 persen responden.

Pandangan Para Pengambil Kebijakan

Ojat Darojat, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Kemenko PMK, menegaskan bahwa sekadar meningkatkan kompetensi individu belum memadai.

“Pengembangan talenta tidak hanya berkaitan dengan talent development, tetapi juga bagaimana talenta yang telah dikembangkan dapat berkontribusi bagi kemajuan Indonesia. Karena itu, ekosistem pendidikan tinggi dan riset perlu mampu mendukung talent retention dan talent acquisition.”

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menempatkan Joint Degree dan Joint Research sebagai komponen integral dalam membangun ekosistem talenta nasional.

“Joint Degree dapat memperkuat pengalaman akademik internasional sekaligus membantu meningkatkan reputasi perguruan tinggi. Sementara Joint Research dapat memperkuat produksi pengetahuan dan kolaborasi riset yang lebih relevan dengan kebutuhan pembangunan.”

Dari sisi regulasi, Fajar Priyautama, perwakilan Ditjen Diktiristek Kemdiktisaintek, menyampaikan bahwa pemerintah telah memangkas sejumlah aturan yang sebelumnya menyulitkan kerja sama lintas negara, termasuk memfasilitasi pengakuan kredit bagi mahasiswa yang menempuh mata kuliah di institusi mitra luar negeri. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada skema pendanaan khusus yang ditujukan untuk program Joint Degree; pembiayaan masih ditanggung oleh perguruan tinggi dan mahasiswa secara mandiri.

Ekosistem Riset sebagai Penopang Brain Gain

Deputi Bidang SDM Iptek BRIN, Prof. Edy Giri Rachman Putra, menekankan bahwa penguatan talenta global harus berjalan beriringan dengan pengembangan ekosistem riset nasional. BRIN, menurutnya, memiliki talent pool yang siap dikembangkan guna memperluas jejaring talenta serta memperkuat kapasitas riset dan inovasi dalam negeri.

“BRIN juga tengah mendorong pengembangan platform kolaborasi riset atau konsorsium riset untuk memperkuat talenta riset dan inovasi nasional. Sejumlah skema kerja sama pendanaan, termasuk dengan LPDP, turut dikembangkan untuk mendukung agenda tersebut.”

Inti dari agenda brain gain bukan semata-mata menarik atau menahan talenta Indonesia agar tidak berpindah ke luar negeri. Lebih dari itu, pendidikan tinggi dituntut merancang ekosistem yang menghubungkan talenta dengan pengetahuan mutakhir dan jejaring global, sekaligus membuka jalur agar kompetensi yang diperoleh kembali menghasilkan dampak nyata bagi Indonesia.

Frequently Asked Questions

What is Mengejar Brain Gain Indonesia Pendidikan Tinggi?

Mengejar Brain Gain Indonesia Pendidikan Tinggi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Mengejar Brain Gain Indonesia Pendidikan Tinggi matter?

Mengejar Brain Gain Indonesia Pendidikan Tinggi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Gabung diskusi