Skip to content
Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Tanpa Kartu dan Ponsel, PolPay Buatan Mahasiswa UGM Tawarkan Transaksi Praktis Lewat Biometrik

William Williams - narakabar.com 3 mins read

Bayangkan menyelesaikan pembelian di warung tanpa mengeluarkan ponsel, tanpa menyetel kartu, dan tanpa memindai kode QR apa pun. Itulah inti dari konsep Tanpa

Tanpa Kartu dan Ponsel, PolPay Buatan Mahasiswa UGM Tawarkan Transaksi Praktis Lewat Biometrik

PolPay: Transaksi Tanpa Kartu dan Ponsel

Narakabar.com – Bayangkan menyelesaikan pembelian di warung tanpa mengeluarkan ponsel, tanpa menyetel kartu, dan tanpa memindai kode QR apa pun. Itulah inti dari konsep Tanpa Kartu dan Ponsel PolPay, sistem pembayaran biometrik yang dikembangkan lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Proyek ini lahir dari keresahan sederhana: jutaan transaksi harian di Indonesia masih bergantung pada koneksi internet dan perangkat genggam, dua hal yang tidak selalu tersedia atau aman. Dengan mengganti seluruh mekanisme autentikasi menjadi sidik jari yang diproses secara lokal, tim mahasiswa tersebut berupaya menghapuskan titik lemah tersebut secara fundamental.

Bagaimana PolPay Bekerja

Perangkat PolPay memanfaatkan sensor sidik jari yang tertanam pada unit Electronic Data Capture (EDC), terminal kecil yang lazim dipasang di kasir atau pos pembayaran. Berbeda dengan sistem QRIS yang mengirim data ke server pusat, PolPay memproses seluruh verifikasi secara lokal melalui teknologi edge computing. Data biometrik dienkripsi dengan standar AES-256—algoritma simetris yang sama dengan yang dipakai sektor perbankan dan militer global—sebelum transaksi dicatat. Artinya, pengguna cukup menempelkan jari pada sensor; tidak ada ponsel yang diangkat, tidak ada kode yang dipindai, dan tidak ada prasyarat koneksi internet.

Perlu ditegaskan bahwa PolPay masih berstatus purwarupa. Target jangka pendek tim adalah mengintegrasikan prototipe ini ke dalam infrastruktur perbankan nasional agar dapat diuji pada skala terbatas.

Tim, Pendanaan, dan Asal Gagasan

Proyek ini didanai melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Karsa Cipta, skema yang dikelola Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Lima anggota tim memiliki pembagian peran yang tegas: Tiara Ramadhani sebagai koordinator, M. Rakhma Aifil Indira untuk desain visual dan media sosial, Marcelino Budi Prakasya untuk perangkat lunak, Muhammad Fakhri Ghonim Setyanda untuk komponen elektronis, serta Al Farabi Obiansyah untuk perancangan perangkat keras dan pemodelan tiga dimensi.

Koordinator Tiara Ramadhani menjelaskan bahwa tim terbentuk secara organik dari pertemuan selama orientasi mahasiswa baru (ospek) di lingkungan UGM. Setelah resmi berdiri pada September 2025, mereka mulai merangkum gagasan untuk diajukan ke PKM. Pengembangan teknis sendiri dimulai pada Februari 2026.

“Jadi kita mengkaji dulu sebenarnya masalah apa sih yang ada terutama di pembayaran,” ujar Tiara saat ditemui di UGM, Selasa (1/9/2026).

Sebelum mengerucut pada pendekatan biometrik, tim sempat mengumpulkan sekitar sepuluh ide berbeda. Titik balik datang secara tidak terduga dari percakapan kasual antar anggota. Fakhri mengingat momen itu: seorang teman menyebut bahwa pembayaran tanpa QRIS, cukup dengan sidik jari, akan terasa “keren.” Gagasan tersebut kemudian dibawa ke dosen pendamping dan kakak tingkat; respons positif membuka jalan ke tahap pengembangan.

Tiga Masalah yang Ingin Dijawab

Kerangka kerja PolPay dibangun di atas tiga persoalan utama—keamanan, kecepatan, dan kenyamanan (disebut “3K” oleh tim). Penggunaan QR maupun kartu, menurut analisis mereka, masih menyimpan ketergantungan dan risiko yang belum terselesaikan. Salah satu yang paling krusial adalah ketergantungan transaksi berbasis QR terhadap ketersediaan jaringan internet.

Infrastruktur telekomunikasi Indonesia belum merata. Di wilayah pedesaan, pegunungan, atau kawasan dengan cakupan seluler terbatas, sinyal sering tidak stabil. Dalam skenario QR, gangguan jaringan berarti transaksi terhenti total. Dengan pendekatan edge computing yang dipakai PolPay, verifikasi sidik jari berlangsung sepenuhnya lokal, sehingga transaksi tetap dapat diselesaikan bahkan di lokasi dengan sinyal lemah atau tanpa koneksi sama sekali.

“Jadi kalau misal kita ngomongin problem, itu ada tiga utama yang pertama terkait dengan tadi ada 3K: keamanan, kecepatan, dan juga kenyamanan,” kata Rakhma.

FAQ: Pertanyaan Praktis tentang PolPay

Apakah PolPay sudah bisa digunakan oleh masyarakat umum? Belum. Saat ini PolPay masih berupa purwarupa (prototype) yang dikembangkan dalam kerangka PKM. Integrasi ke infrastruktur perbankan nasional merupakan target jangka pendek sebelum uji coba skala terbatas.

Apakah data sidik jari dikirim ke server pusat? Tidak. Seluruh pemrosesan dilakukan secara lokal pada perangkat EDC melalui edge computing. Data dienkripsi dengan AES-256 sebelum dicatat, sehingga tidak ada pengiriman biometrik ke server eksternal.

Apakah transaksi tetap berjalan saat tidak ada sinyal internet? Ya. Karena verifikasi berlangsung lokal, transaksi dapat diselesaikan tanpa koneksi internet. Inilah keunggulan utama konsep Tanpa Kartu dan Ponsel PolPay dibanding sistem QRIS yang bergantung pada jaringan.

Siapa yang mengembangkan proyek ini? Lima mahasiswa UGM yang didanai melalui PKM Karsa Cipta. Tim dipimpin Tiara Ramadhani sebagai koordinator, dengan pembagian peran di bidang perangkat lunak, elektronis, perangkat keras, dan desain visual.

Gabung diskusi