Skip to content
Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Soal Beras Fortifikasi Palsu: Pakar UGM Sebut Tak Bisa Dibedakan dengan Mata dan Lidah

Robert Wilson - narakabar.com 3 mins read

Soal Beras Fortifikasi Palsu, masyarakat tidak dapat mengandalkan penglihatan, aroma, maupun rasa untuk memastikan kandungan gizi mikro dalam produk. Guru

Soal Beras Fortifikasi Palsu: Pakar UGM Sebut Tak Bisa Dibedakan dengan Mata dan Lidah

Beras Fortifikasi Palsu Tidak Bisa Dibedakan dengan Indra

Narakabar.com – Soal Beras Fortifikasi Palsu, masyarakat tidak dapat mengandalkan penglihatan, aroma, maupun rasa untuk memastikan kandungan gizi mikro dalam produk. Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Sri Raharjo, menyebut perbedaan antara beras fortifikasi yang sesuai ketentuan dan produk dengan kandungan yang tidak semestinya tidak mudah dikenali di rumah.

Isu ini mencuat pada Kamis, 17 September 2026, menyusul dugaan peredaran 25 merek beras fortifikasi yang tidak memenuhi standar mutu dan kandungan zat gizi mikro. Menurut Sri, persoalan tersebut menunjukkan pentingnya pengawasan pangan yang berjalan efektif sebelum produk sampai ke tangan pembeli.

Pemeriksaan Visual Tidak Memberikan Kepastian

Fortifikasi adalah proses penambahan zat gizi mikro ke bahan pangan. Pada beras, zat gizi tersebut dirancang agar tidak membuat perubahan mencolok pada warna, bentuk butir, tekstur, atau rasa setelah dimasak. Karena itu, beras yang memenuhi standar dapat terlihat serupa dengan produk yang kandungan fortifikannya tidak sesuai.

Pemeriksaan dengan mata atau lidah tidak cukup untuk mengetahui jenis maupun kadar zat gizi yang terdapat dalam beras. Kepastian hanya dapat diperoleh melalui pengujian laboratorium menggunakan metode pemeriksaan yang tepat.

“Ketidaksesuaian dari dua macam ini, baik jenisnya maupun kadarnya, itu memang secara visual atau secara sensoris, hanya mengandalkan pemeriksaan lewat mata atau mungkin bahkan dengan dicicipi apakah teksturnya berbeda atau tidak, itu sama sekali tidak bisa mendeteksi adanya pemalsuan,” kata Sri kepada Suara.com, Kamis (17/9/2026).

Sri menjelaskan bahwa ketentuan fortifikasi mengatur rentang kadar zat gizi tertentu. Takaran tersebut harus mendukung kebutuhan gizi harian, tetapi tetap tidak boleh mengubah karakter beras secara mencolok. Kondisi inilah yang membuat pembeli tidak bisa menilai keaslian klaim gizi hanya dari bentuk atau ukuran butir beras.

Pengawasan Pemerintah Jadi Kunci Perlindungan Konsumen

Dalam kasus Soal Beras Fortifikasi Palsu, konsumen tetap dapat memilih produk dengan informasi kemasan yang jelas dan membelinya melalui jalur penjualan yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun, langkah tersebut bukan pengganti pemeriksaan kandungan gizi dan tidak berarti masyarakat wajib mampu mengidentifikasi produk bermasalah sendiri.

“Masyarakat jangan dibebani dengan harus punya kemampuan membedakan. Dalam kondisi ini sulit,” tegasnya.

Persoalan ini berbeda dengan beras oplosan yang terkadang memiliki tanda fisik tertentu. Pada dugaan pemalsuan fortifikasi, masalah utamanya berada pada kandungan zat gizi mikro yang tidak dapat dipastikan secara kasatmata. Produk tiruan pun dapat dibuat menyerupai beras fortifikasi tanpa benar-benar memiliki kandungan yang dijanjikan.

Karena itu, verifikasi bahan baku, pengujian kandungan, pemeriksaan berkala, dan penindakan atas pelanggaran menjadi bagian penting dari perlindungan konsumen. Pengawasan yang kuat membantu memastikan produsen dapat membuktikan klaim fortifikasi secara ilmiah, bukan sekadar melalui label kemasan.

Kesiapan Infrastruktur Pengujian Perlu Diperkuat

Sri menilai pemerintah terlambat menyiapkan sarana pengawasan ketika Standar Nasional Indonesia untuk beras fortifikasi mulai diterapkan. Kesenjangan antara pemberlakuan standar dan kesiapan pemeriksaan di lapangan berpotensi memberi ruang bagi produsen yang tidak bertanggung jawab.

Standar pangan memerlukan dukungan alat uji, metode laboratorium, tenaga kompeten, serta sistem pengawasan yang mampu menjangkau produk di pasaran. Tanpa unsur tersebut, aturan mengenai kandungan gizi akan sulit menjamin bahwa beras yang beredar benar-benar sesuai dengan klaimnya.

“Nah harus dari sisi pemerintah harus memperkuat dari sisi pengawasan, iya toh? Pemeriksaannya itu,” ucapnya.

FAQ Seputar Beras Fortifikasi

Apakah beras fortifikasi palsu dapat dikenali dari warna atau rasanya?

Tidak. Menurut Sri Raharjo, perbedaan jenis dan kadar zat gizi mikro tidak dapat dideteksi hanya dengan melihat, mencium, atau mencicipi beras. Pengujian laboratorium diperlukan untuk memastikan kesesuaiannya.

Apa yang dapat dilakukan konsumen saat membeli beras fortifikasi?

Konsumen dapat memeriksa informasi pada kemasan dan memilih produk dari jalur penjualan yang jelas. Meski demikian, pembuktian kandungan gizi tetap menjadi tanggung jawab sistem pengawasan dan pemeriksaan berwenang.

Mengapa pengawasan beras fortifikasi penting?

Pengawasan memastikan klaim penambahan zat gizi mikro dapat dibuktikan dan produk yang beredar memenuhi standar. Dalam Soal Beras Fortifikasi Palsu, pengawasan laboratorium menjadi perlindungan utama karena konsumen tidak dapat memeriksanya sendiri.

Gabung diskusi