Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Visit Agenda: Dulu Kontraktor Kini ‘Gelandangan’, Kisah Jafar Ali Setahun Bertahan di Trotoar Depan UNHCR

Sandra Martin - narakabar.com 3 mins read 18 views

Dari Kontraktor ke Gelandangan: Kisah Jafar Ali yang Bertahan di Trotoar Depan UNHCR Selama Setahun Visit Agenda: Jafar Ali Husaini, seorang pengungsi

Visit Agenda: Dulu Kontraktor Kini ‘Gelandangan’, Kisah Jafar Ali Setahun Bertahan di Trotoar Depan UNHCR

Dari Kontraktor ke Gelandangan: Kisah Jafar Ali yang Bertahan di Trotoar Depan UNHCR Selama Setahun

Visit Agenda: Jafar Ali Husaini, seorang pengungsi Afghanistan, telah tinggal sementara di trotoar depan kantor Komisioner Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Pengungsi (UNHCR) di Kuningan, Jakarta Selatan, selama hampir setahun. Ia masih menunggu kepastian tentang penempatan ke negara ketiga, meskipun sudah berada di Indonesia sejak 2024. Jafar menjadi salah satu dari ratusan pengungsi yang terdampak penertiban ruang publik oleh Pemerintah Kota Jakarta Selatan, yang memicu krisis kehidupan bagi kelompok ini.

Penertiban Trotoar dan Kehilangan Kekhawatiran

Penertiban trotoar oleh Pemerintah Kota Jakarta Selatan pada Juli 2026 mengakibatkan Jafar kehilangan barang-barang dan tempat tinggalnya. Saat itu, petugas mengambil tenda, terpal, pakaian, serta uang tunai sekitar Rp2 juta. Dalam penahanan selama 15 hari, ia dijanjikan akan dipindahkan ke Rumah Detensi Imigrasi Jakarta Barat, tapi janji itu belum terwujud. Jafar pun mengalami dilema ekonomi, dengan kondisi kehidupannya semakin memburuk.

“Visit Agenda: Tidak ada tempat yang layak bagi kami,” ujar Jafar saat ditemui di belakang kantor UNHCR Jakarta, Jumat (3/7/2026).

Kehilangan tempat tinggal dan benda-benda kecil membuat Jafar merasa terisolasi. Ia mengakui sulit mencari pekerjaan karena tidak memiliki dokumen kependudukan yang diperlukan. Situasi ini menimbulkan kritik terhadap proses Visit Agenda yang menurutnya terlalu lambat dan tidak memadai. Jafar pun menyampaikan kekecewaannya bahwa penempatan ke negara ketiga bisa memakan waktu hingga tujuh tahun.

Latar Belakang dan Alasan Tinggal di Indonesia

Selama hampir 18 tahun, Jafar bekerja sebagai kontraktor di Afghanistan sebelum memutuskan mengungsi ke Pakistan. Keputusan itu diambil lantaran ketidakamanan di negara asalnya. “Visit Agenda: Saya datang ke sini karena tidak memiliki keamanan. Saya tidak aman di negara saya,” tuturnya. Namun, ia memilih Indonesia sebagai tempat transit karena kemudahan akses ke pengungsi lain dan layanan bantuan dari UNHCR.

Dalam masa awal tinggal di Indonesia, Jafar berharap bisa segera dibantu untuk menetap di negara ketiga. Ia mengatakan telah menerima informasi bahwa proses Visit Agenda membutuhkan waktu tiga tahun, tetapi sampai saat ini belum ada kejelasan. Jafar pun terus berharap agar bisa menjalani kehidupan yang lebih stabil, meskipun sekarang ia hanya tinggal di trotoar depan kantor UNHCR.

Pengungsi Lainnya dan Proses Hukum

Pemerintah Kota Jakarta Selatan menertibkan puluhan pengungsi asing yang menduduki trotoar depan kantor UNHCR. Tindakan ini bertujuan mengembalikan fungsi trotoar sebagai jalur pejalan kaki dan menjaga ketertiban kawasan. Hingga kini, UNHCR masih mencari lokasi baru bagi 32 pengungsi yang terkena dampak penertiban.

Visit Agenda: Peraturan Presiden Nomor 125 Tahun 2016 yang mengatur penanganan pengungsi masih dalam proses peninjauan kembali (judicial review) di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan. Ini menjadi sorotan bagi Jafar dan pengungsi lainnya yang menunggu kepastian tentang nasib mereka. Perubahan aturan diharapkan bisa mempercepat proses Visit Agenda dan memberikan solusi yang lebih adil.

Pengalaman Harian di Trotoar UNHCR

Setiap hari, Jafar berusaha membangun kehidupan sederhana di trotoar depan kantor UNHCR. Ia mengumpulkan sampah atau menjual benda-benda bekas untuk mengisi kebutuhan sehari-harinya. Jafar juga sering berinteraksi dengan pengungsi lainnya, berbagi cerita, dan memperkuat komunitas kecil yang terbentuk. Meskipun hidupnya susah, ia tetap berharap ada kesempatan untuk pulang ke negara ketiga.

“Visit Agenda: Saya hanya ingin tetap hidup di sini sampai ada keputusan. Jika tidak bisa, saya akan tinggal di trotoar ini hingga akhir hayat,” ungkap Jafar dengan nada penuh harapan.

Perkembangan Terkini dan Harapan Masa Depan

Sejak penertiban trotoar, Jafar terus menerima bantuan dari pihak UNHCR, meskipun jumlahnya terbatas. Ia berharap ada kejelasan mengenai relokasi dan agar pemerintah bisa memberikan perlindungan yang lebih kuat. Jafar mengungkapkan, kisahnya bukan hanya tentang ketahanan individu, tetapi juga tentang kebijakan Visit Agenda yang seharusnya melayani kebutuhan pengungsi.

Kondisi Jafar mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh pengungsi lainnya di Indonesia. Meski jumlah pengungsi tidak terlalu besar, proses Visit Agenda yang lambat mengakibatkan banyak dari mereka memilih bertahan di trotoar depan UNHCR sebagai tempat sementara. Jafar berharap kebijakan ini bisa diperbaiki, agar pengungsi tidak terlalu lama mengalami kesulitan.

Gabung diskusi