Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Topics Covered: Irma Suryani: Program MBG Bisa Jadi Mudarat Jika Salah Sasaran dan Tak Dikelola Profesional

Sarah Martinez - narakabar.com 3 mins read 18 views

alah Sasaran dan Tak Dikelola Profesional Topics Covered dalam artikel ini membahas kritik yang dilontarkan Irma Suryani Chaniago, anggota Komisi IX DPR RI

Topics Covered: Irma Suryani: Program MBG Bisa Jadi Mudarat Jika Salah Sasaran dan Tak Dikelola Profesional

Irma Suryani: Program MBG Bisa Jadi Mudarat Jika Salah Sasaran dan Tak Dikelola Profesional

Topics Covered dalam artikel ini membahas kritik yang dilontarkan Irma Suryani Chaniago, anggota Komisi IX DPR RI, terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengingatkan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada pengelolaan yang profesional dan kejelasan prioritas sasaran. Topics Covered juga menyoroti peran SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) dalam mendistribusikan bantuan pangan, serta ancaman yang muncul jika program tersebut tidak diarahkan secara tepat.

Kritik terhadap Pengelolaan MBG

Irma Suryani Chaniago menegaskan bahwa MBG memiliki potensi besar untuk mengurangi masalah gizi buruk dan stunting di Indonesia. Namun, ia memperingatkan bahwa program ini bisa jadi mudarat jika tidak dikelola dengan baik. Dalam wawancara dengan Suara.com, Jumat (19/6/2026), ia menyebutkan bahwa salah satu risiko utama adalah ketika pihak yang menyalurkan bantuan tidak memiliki pengalaman atau kompetensi yang memadai. Hal ini bisa menyebabkan pengadaan makanan yang tidak sehat atau tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat target.

“MBG bagus jika disasar dengan tepat, tetapi bisa menjadi beban jika dikelola secara tidak profesional. Misalnya, jika vendor katering yang dipilih tidak memenuhi standar kelayakan, maka program ini justru bisa memperburuk masalah gizi yang ada,” ujar Irma.

Kritiknya ini juga menyangkut perbandingan antara MBG dengan program katering industri. Menurut Irma, SPPG seharusnya dianggap sebagai sistem yang sama dengan bisnis katering, yang memiliki prinsip manajemen dan kontrol mutu. Tanpa itu, dana yang dialokasikan untuk MBG bisa bocor atau tidak tepat sasaran, terutama jika tidak ada pengawasan yang ketat dari pemerintah.

Prioritas Sasaran MBG

Menurut Irma, penyaluran MBG harus difokuskan pada kelompok yang paling rentan secara ekonomi, seperti ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, dan peserta didik di daerah miskin. Ia menolak usulan memangkas anggaran program untuk memprioritaskan wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), karena masalah gizi buruk menyebar luas dan tidak hanya terbatas pada daerah pelosok. Topics Covered ini juga menyoroti kebutuhan akan pengelolaan yang transparan, agar bantuan tidak disalahgunakan.

“Anak usia TK hingga SMA yang berada di daerah miskin adalah kelompok yang paling membutuhkan MBG. Jika targetnya diubah menjadi kelompok yang ekonominya lebih baik, maka akan terjadi pemborosan anggaran yang tidak seharusnya terjadi,” tambah Irma.

Irma menekankan bahwa Topics Covered dalam pengelolaan MBG harus mencakup evaluasi berkelanjutan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa setiap langkah yang diambil dalam penyaluran bantuan memenuhi standar kualitas, tidak hanya dari segi fisik tetapi juga dari segi manfaat yang diberikan. Tanpa pendekatan ini, program MBG bisa terjebak dalam kegagalan.

Struktur dan Kinerja MBG

Program MBG dibuat sebagai upaya pemerintah untuk meningkatkan akses masyarakat miskin terhadap makanan bergizi secara gratis. Namun, Irma menyoroti bahwa keberhasilan program ini tergantung pada struktur yang jelas dan kinerja SDM yang mengelolanya. Topics Covered dalam penyaluran MBG juga mencakup pemilihan vendor katering yang berkualitas, pelatihan pihak terlibat, serta pengawasan terhadap penerapan standar nutrisi.

“Jika SDM yang mengelola MBG tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang kebutuhan gizi, maka program ini bisa jadi alat pengabur dan bukan solusi,” jelas Irma.

Menurutnya, penilaian yang baik tentang MBG tidak hanya berdasarkan jumlah makanan yang disalurkan, tetapi juga dampak positifnya terhadap kesehatan masyarakat. Topics Covered dalam program ini juga mencakup evaluasi partisipasi kelompok sasaran, kualitas nutrisi yang diberikan, dan kepuasan masyarakat terhadap layanan yang diterima. Tanpa data yang akurat, sulit menilai apakah MBG benar-benar memberikan manfaat yang maksimal.

Implikasi dan Solusi

Kritik yang dilontarkan Irma Suryani Chaniago terhadap MBG menunjukkan perlunya reformasi dalam pengelolaannya. Topics Covered ini mencakup ancaman potensial seperti korupsi, tidak adanya transparansi, dan ketidakseimbangan antara anggaran dengan kebutuhan masyarakat. Untuk menghindari risiko tersebut, Irma menyarankan adanya peningkatan kompetensi pengelola program, serta penggunaan teknologi untuk memudahkan pemantauan dan laporan.

“Dengan mengintegrasikan teknologi dan kebijakan yang transparan, MBG bisa menjadi program yang efektif dan berkelanjutan. Topics Covered dalam pengelolaannya harus mencakup data real-time, penilaian terhadap kinerja SDM, serta feedback dari masyarakat penerima bantuan,” papar Irma.

Irma berharap pemerintah dan lembaga terkait bisa mengevaluasi MBG secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi anggaran tetapi juga dari segi implementasi. Topics Covered ini menjadi refleksi penting dalam menilai keberhasilan program nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi di tengah masyarakat. Dengan penyesuaian strategi, MBG bisa menjadi solusi yang optimal dan tidak hanya sekadar bantuan yang tidak tepat sasaran.

Gabung diskusi