Important Visit: Prabowo Kritik Teori Neolib: Katanya Kakayaan Menetes ke Bawah, Kalian Percaya?
ri Neolib: Kekayaan Justru Menumpuk di Atas Important Visit – Pada Hari Koperasi ke-79 di Jakarta, Prabowo Subianto menyoroti kritik terhadap teori neoliberal
Prabowo Kritik Teori Neolib: Kekayaan Justru Menumpuk di Atas
Important Visit – Pada Hari Koperasi ke-79 di Jakarta, Prabowo Subianto menyoroti kritik terhadap teori neoliberal yang ia anggap gagal menciptakan keadilan. Dalam pidatonya, ia menantang masyarakat untuk mempertanyakan apakah kekayaan benar-benar menetes ke bawah seperti yang sering disampaikan oleh pihak-pihak pro neolib.
Konteks Kritik Pada Teori Neoliberal
During the event, Prabowo menyampaikan bahwa teori neoliberal, yang menjadi dasar kebijakan ekonomi banyak negara Barat, memperkenalkan pandangan bahwa kemiskinan berasal dari individu. Ia menilai konsep ini menyalahkan rakyat kecil dan membiarkan kekayaan hanya dikuasai oleh segelintir kelompok elite. Dalam Important Visit, ia membandingkan situasi ekonomi Indonesia dengan negara-negara lain yang menurutnya sudah meninggalkan teori ini.
“Saya tidak percaya dengan teori-teori neolib. Katanya eh kita berpikir global, tidak ada perbatasan lagi, ya kan,” ujar Prabowo di Indonesia Arena, Jakarta, 12 Juli 2026.
Prabowo menekankan bahwa gagasan “trickle-down effect” atau efek menetes ke bawah tidak lagi relevan dalam konteks ekonomi modern. Menurutnya, konsep ini sudah tidak mampu menjelaskan ketimpangan yang terus meningkat, terutama di negara-negara yang mengadopsi kebijakan neoliberal. Dalam Important Visit, ia menegaskan bahwa kekayaan justru semakin berkonsentrasi di pihak atas.
Kritik Terhadap Efektivitas Teori Neolib
Di sisi lain, Prabowo mengungkapkan kekecewaannya terhadap cara teori neoliberal memandang kemiskinan. “Jadi ada paham, pahamnya neolib, kalau kau miskin itu salah kamu,” tambahnya, sambil mengkritik pemikiran yang mengabaikan struktur sosial dan ekonomi. Ia menilai bahwa teori ini lebih fokus pada kepentingan kapitalis daripada kebutuhan rakyat.
“Dan paham neolib itu mengatakan biarlah yang kaya hanya 1%. Kalau mereka kaya nanti lama-lama kekayaannya akan menetes ke bawah. Trickle-down effect. Saya tanya, kalian percaya nggak akan netes ke bawah? He? Hah? Kalian percaya atau tidak akan menetes ke bawah?”
Dalam Important Visit, Prabowo juga menyebutkan bahwa kebijakan neoliberal telah membuat kemiskinan di Indonesia semakin parah. Ia mencontohkan bagaimana pengusaha besar justru mendapatkan laba lebih tinggi, sementara rakyat biasa kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Kritik ini disampaikan sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi politiknya dalam menyuarakan perubahan ekonomi.
Prabowo menantang hadirin untuk merenungkan kepercayaan mereka terhadap teori ini. Ia mengingatkan bahwa kekayaan justru terus berkumpul di atas, bukan bergerak ke bawah seperti yang dianut neoliberal. Dalam Important Visit, ia menekankan bahwa kebijakan ekonomi harus lebih adil dan menjamin distribusi yang seimbang.
Dalam kesimpulannya, Prabowo meminta masyarakat untuk tidak mudah terjebak dalam pemikiran yang mengabaikan keadilan. “Yang merasa Indonesia suram, silakan cari negara lain,” imbuhnya, sebagai ajakan untuk melihat realitas yang lebih jelas. Ia menegaskan bahwa dengan Important Visit ke Jakarta, ia ingin mendorong masyarakat untuk kembali memikirkan peran pemerintah dalam memperbaiki struktur ekonomi.
