Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Pengamat Cium Aroma Perlawanan Balik Koruptor di Balik Isu Febrie Adriansyah: Corruptor Fights Back

Karen Martinez - narakabar.com 2 mins read 12 views

Mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, kini tengah menghadapi gelombang narasi negatif. Menurut pengamat hukum

Pengamat Cium Aroma Perlawanan Balik Koruptor di Balik Isu Febrie Adriansyah: Corruptor Fights Back

Pengamat Mendeteksi Strategi Koruptor Melawan Balik Melalui Isu Febrie Adriansyah

Narakabar.com – Mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, kini tengah menghadapi gelombang narasi negatif. Menurut pengamat hukum Kamilov Sagala, hal ini merupakan konsekuensi dari ketegasannya dalam mengungkap berbagai kasus korupsi berskala besar di Indonesia.

Peristiwa yang terjadi pada hari Minggu, 26 Juli 2026, tersebut dianggap sebagai bagian dari taktik serangan balik. Kelompok-kelompok koruptor dinilai memanfaatkan momen ini untuk melemahkan kredibilitas Kejaksaan Agung di mata masyarakat.

Isu Aset sebagai Senjata Propaganda

Berbagai pihak menilai bahwa hantaman isu yang menyasar Febrie Adriansyah tidak terlepas dari rekam jejaknya yang tegas. Selama memimpin lini Pidsus, Kejaksaan Agung berhasil menyelamatkan ratusan triliun rupiah dari kerugian negara melalui penanganan kasus-kasus raksasa.

Isu mengenai dugaan penemuan aset yang terus diperbincangkan di ruang publik ini ternyata dimanfaatkan oleh pengacara koruptor serta kelompok berkepentingan. Mereka melancarkan strategi corruptor fights back untuk meruntuhkan marwah Korps Adhyaksa.

Kamilov Sagala menilai fenomena ini sebagai serangan balik yang lazim terjadi ketika lembaga penegak hukum mencapai puncak prestasinya. “Dari berbagai kasus besar yang ditangani Pidsus, Kejaksaan bisa menyita hingga ratusan triliun rupiah. Prestasi ini mengungguli penegak hukum lain. Maka ketika timbul narasi yang menyerang figur sentralnya seperti Febrie, ini jelas dimanfaatkan lawan untuk membendung agresivitas Kejaksaan,” ujar Kamilov dalam keterangannya, Minggu (26/7/2026).

Mengganggu Zona Nyaman Mafia Hukum

Menurut pengamat tersebut, gebrakan Pidsus Kejagung dalam beberapa tahun terakhir telah mengusik zona nyaman para mafia hukum dan pelaku korupsi kelas kakap. Momentum munculnya isu Febrie dijadikan panggung bagi para tersangka maupun terdakwa korupsi untuk membangun opini publik seolah-olah penegakan hukum yang dilakukan Kejaksaan cacat moral.

“Ini adalah upaya membendung keberhasilan yang selama ini diraih. Ibarat kata, prestasi besar yang dibangun bertahun-tahun coba digoyang lewat propaganda dalam sekejap,” tegasnya.

Fenomena counter attack ini disinyalir sengaja didesain untuk meruntuhkan psikologis para penyidik Pidsus agar tidak lagi agresif membongkar skandal-skandal besar yang melibatkan oligarki dan pejabat tinggi.

Solusi: Konsistensi Penegakan Hukum

Kamilov memberikan saran agar Kejaksaan tetap konsisten menegakkan hukum secara substansial. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat kepercayaan publik sekaligus mematahkan propaganda yang dilancarkan.

“Langkah paling nyata untuk menjawab serangan ini adalah dengan konsistensi penegakan hukum. Jika di tingkat banding Jaksa Jampidsus mampu membuktikan secara lugas dan substansial kesalahan para terdakwa, maka kepercayaan publik akan semakin menguat dan serangan balik tersebut akan mentah dengan sendirinya,” kata Kamilov.

Gabung diskusi