Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Kenaikan Harga Beras dan Rokok Dorong Warga Hampir Miskin Jatuh ke Jurang Kemiskinan

Sandra Martin - narakabar.com 4 mins read 3 views

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru yang menunjukkan bagaimana Kenaikan Harga Beras dan Rokok menjadi pendorong utama masyarakat berstatus hampir

Kenaikan Harga Beras dan Rokok Dorong Warga Hampir Miskin Jatuh ke Jurang Kemiskinan

Kenaikan Harga Beras dan Rokok Dorong Kemiskinan

Narakabar.com – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru yang menunjukkan bagaimana Kenaikan Harga Beras dan Rokok menjadi pendorong utama masyarakat berstatus hampir miskin terjerumus ke dalam jurang kemiskinan. Kombinasi kedua komoditas vital ini secara signifikan menggerus daya beli keluarga, sekaligus mengurangi alokasi gizi untuk anak-anak. Fenomena ini mengindikasikan bahwa tekanan inflasi terhadap kebutuhan pokok dan kebiasaan konsumsi rokok semakin memperlebar kesenjangan ekonomi.

Data terkini dari BPS menegaskan bahwa beras dan rokok tetap bertahan sebagai dua faktor dominan yang menyeret masyarakat ke bawah garis kemiskinan. Kenaikan harga pangan pokok bersumber dari impor, sementara ketergantungan pada tembakau semakin tinggi. Kondisi ini melemparkan kelompok “hampir miskin” ke dalam kategori miskin yang lebih dalam. Kemiskinan yang meningkat ini mencerminkan tantangan struktural dalam kebijakan ekonomi nasional.

Dinamika Harga Beras dan Dampaknya

Pengamat Ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y. Sri Susilo, menjelaskan bahwa beras termasuk dalam kelompok kebutuhan pokok atau necessities goods. Masyarakat akan tetap membelinya terlepas dari fluktuasi harga yang terjadi. Hal ini membuat beras menjadi beban tetap bagi rumah tangga berpenghasilan rendah.

“Beras merupakan kebutuhan pokok masyarakat (neccesities goods). Intinya berapapun harga beras, masyarakat akan tetap membelinya,” kata Sri Susilo kepada Suara.com pada Kamis (6/8/2026).

Menurutnya, dinamika harga beras domestik sangat dipengaruhi oleh siklus panen raya serta ketergantungan pada rantai pasok global. Ketergantungan impor membuat stabilitas harga pangan pokok ini rentan bergejolak setiap kali mata uang domestik tertekan. Beras impor menjadi salah satu faktor yang memperparah volatilitas harga di pasar domestik.

“Di samping itu, sebagian beras masih diimpor. Jadi jika nilai tukar Rp terhadap dolar AS melemah maka harga beras di pasar juga naik,” ucapnya.

Perilaku Konsumsi Rokok yang Mengubah Prioritas

Tekanan ekonomi rumah tangga miskin tidak hanya dipicu oleh bahan pangan. Melainkan juga diperparah oleh perilaku konsumsi rokok. Kebiasaan merokok pada kelompok masyarakat miskin dan hampir miskin telah bergeser dari sekadar konsumsi sekunder menjadi kebutuhan harian yang mendesak. Rokok menjadi prioritas yang sering kali mengalahkan kebutuhan gizi keluarga.

“Jadi baik harga beras dan rokok cenderung naik. Kenaikan tersebut menjadikan daya beli masyarakat yang termasuk kategori ‘hampir miskin’ kemudian masuk dalam kategori ‘miskin’. Dengan demikian kemiskinan meningkat atau jumlah penduduk miskin naik,” ungkapnya.

Bagi para perokok, menunda merokok dianggap lebih sulit daripada menunda makan. Perilaku destruktif ini berdampak langsung pada pengalihan alokasi anggaran rumah tangga. Ketika kenaikan tarif cukai mendorong harga rokok melambung setiap tahun, para perokok alih-alih menghentikan konsumsi. Mereka justru tetap memilih mengurangi porsi belanja kebutuhan pokok pangan yang bergizi bagi keluarga.

Jika mereka mempunyai anak yang masih membutuhkan pangan yang gizi untuk tumbuh kembang, perilaku perokok tersebut di atas, dapat mengurangi kebutuhan gizi anak mereka. Kualitas SDM dalam jangka panjang tentu terdampak. Cukai rokok yang terus meningkat menjadi beban ganda bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Dilema Kebijakan dan Solusi Jangka Panjang

Dilema penanganan kemiskinan ini kian kompleks karena pemerintah tidak memiliki ruang gerak bebas untuk menghentikan produksi rokok secara total. Pertimbangan penyerapan tenaga kerja serta besarnya penerimaan negara dari sektor cukai membuat kebijakan konfrontatif terhadap industri tembakau sulit direalisasikan. Industri rokok yang padat karya menjadi penopang ekonomi di berbagai daerah.

“Hampir mustahil rokok dilarang diproduksi karena industri rokok yang padat karya dan penyumbang cukai yang signifikan,” pungkasnya.

Ia menilai intervensi pemerintah guna menekan angka kemiskinan harus ditopang oleh jaring pengaman sosial yang efektif, seperti bantuan operasi pasar pangan yang terarah by name and by address. Program-program ini perlu diperluas untuk menjangkau lebih banyak masyarakat yang terdampak.

Di samping itu, pembatasan ruang gerak perokok melalui pengetatan area bebas rokok, pembatasan iklan, serta sosialisasi dampak kesehatan secara masif menjadi jalur tidak langsung yang harus terus dipaksakan. Ekonomi keluarga akan lebih stabil jika ada keseimbangan antara kebijakan fiskal dan perlindungan sosial.

Sementara itu, BPS juga mengungkap penjualan truk hingga pikap melonjak 38,76%, menunjukkan adanya aktivitas ekonomi lain yang perlu dipantau dalam konteks pemulihan daya beli masyarakat. Sektor transportasi ini menjadi indikator positif bagi pemulihan ekonomi nasional.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Kenaikan Harga Beras dan Rokok

Apa yang menyebabkan Kenaikan Harga Beras dan Rokok? Kenaikan harga beras terutama disebabkan oleh ketergantungan impor dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Sementara itu, kenaikan harga rokok dipicu oleh peningkatan tarif cukai yang diterapkan pemerintah setiap tahunnya.

Bagaimana dampaknya terhadap masyarakat hampir miskin? Masyarakat hampir miskin yang sebelumnya berada di ambang garis kemiskinan kini terdorong masuk ke dalam kategori miskin. Daya beli mereka menurun karena sebagian besar anggaran dialokasikan untuk beras dan rokok, sehingga alokasi untuk kebutuhan lain seperti gizi anak berkurang.

Apakah pemerintah memiliki solusi untuk mengatasi masalah ini? Pemerintah dapat menerapkan jaring pengaman sosial yang lebih efektif, seperti operasi pasar pangan yang terarah. Selain itu, pembatasan area bebas rokok dan sosialisasi dampak kesehatan menjadi solusi jangka panjang yang perlu terus dipertahankan.

Bagaimana tren penjualan truk dan pikap terkait dengan kondisi ekonomi? Lonjakan penjualan truk hingga pikap sebesar 38,76% menunjukkan adanya aktivitas ekonomi yang meningkat. Hal ini menjadi indikator positif bahwa sektor transportasi dan logistik mengalami pemulihan, meskipun masih ada tantangan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Gabung diskusi