Skip to content
Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Internasional

Thailand Diteror Penembakan Massal, Kanapa Ini Bisa Terjadi dan Apa Akar Masalahnya?

Emily Moore - narakabar.com 3 mins read

Thailand diteror penembakan massal yang berulang kali melibatkan anak di bawah umur, memaksa pemerintah memperketat regulasi senjata api. Namun, para ahli

Thailand Diteror Penembakan Massal, Kanapa Ini Bisa Terjadi dan Apa Akar Masalahnya?

Thailand Diteror Penembakan Massal: Akar Masalahnya

Narakabar.com – Thailand diteror penembakan massal yang berulang kali melibatkan anak di bawah umur, memaksa pemerintah memperketat regulasi senjata api. Namun, para ahli menilai langkah-langkah darurat tersebut hanya menyentuh permukaan masalah tanpa mengatasi akar persoalan: lemahnya pengawasan pasca-penerbitan izin dan maraknya peredaran senjata ilegal di pasar gelap. Jutaan pucuk tanpa registrasi resmi beredar bebas di fasilitas publik, lingkungan sekolah, hingga jalan raya.

Gelombang Kekerasan dan Skala Kepemilikan Senjata

Tragedi terbaru mengguncang Provinsi Nonthaburi ketika seorang siswa berusia 14 tahun menembak mati kakek-neneknya, seorang staf sekolah, dan teman sekelas menggunakan pistol 9 mm milik sang kakek. Hanya berselang tiga hari, bentrokan antarpejabat daerah yang dipicu sengketa keuangan kembali menelan korban jiwa. Insiden-iniden ini bukan kasus terisolasi; pola serupa telah berulang sejak pembantaian 37 orang di penitipan anak Nong Bua Lamphu pada 2022, penembakan di mal Siam Paragon pada 2023, hingga insiden Nakhon Ratchasima pada 2020.

Data Small Arms Survey menunjukkan warga Thailand menguasai sekitar 10,3 juta pucuk senjata api, dengan 4,1 juta di antaranya berstatus ilegal tanpa registrasi resmi. Rasio tersebut menempatkan Thailand sebagai negara dengan tingkat kepemilikan senjata sipil tertinggi di Asia Tenggara. Aksesibilitas senjata tetap sangat mudah, terutama melalui pasar gelap dan senjata replika yang dimodifikasi, sementara batas negara yang terbuka lebar serta produksi lokal ilegal semakin memperparah penumpukan senjata tanpa identitas.

“Pihak berwenang segera mengeluarkan tindakan pasca-insiden menonjol, tetapi reformasi struktural terhenti begitu perhatian publik memudar,” ujar Trynh Phoraksa, kriminolog Universitas Mahidol.

Mengapa Reformasi Hukum Senjata Selalu Gagal?

Perdana Menteri Anutin Charnvirakul berjanji merombak total tata kelola dan pengawasan senjata api demi melindungi warga sipil. Langkah taktis yang disiapkan meliputi pembekuan izin pembelian baru, pengetatan pemeriksaan di jalan raya, hingga usulan amnesti senjata api. Namun, para pakar kriminologi menilai kebijakan tersebut bersifat reaktif dan berulang setiap kali tragedi besar terjadi tanpa menutup celah hukum utama.

Krisanaphong Poothakool, kriminolog independen, menyebut undang-undang senjata api Thailand sudah sangat ketinggalan zaman dan membutuhkan perombakan menyeluruh. Denda maksimal untuk kepemilikan ilegal berdasarkan undang-undang lama hanya sebesar 20.000 baht atau sekitar Rp9,3 juta, angka yang terlampau ringan untuk memberikan efek jera. Penelusuran media membuktikan bahwa transaksi senjata tanpa dokumen resmi dapat dilakukan dengan sangat cepat melalui aplikasi pesan instan dan media sosial. Sebuah akun daring bahkan menawarkan pistol tanpa registrasi seharga 5.500 baht dengan jaminan pengiriman kilat hanya dalam satu hingga dua hari.

“Saya tidak bisa memuaskan semua orang, tetapi kita harus memastikan keselamatan, terutama bagi korban yang tidak bersalah dan anak-anak,” kata Anutin, dilaporkan CNA.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Krisis Senjata di Thailand

Apakah Thailand memiliki tingkat kepemilikan senjata sipil tertinggi di Asia Tenggara? Ya. Berdasarkan data Small Arms Survey, sekitar 10,3 juta pucuk senjata api berada di tangan warga Thailand, menjadikannya negara dengan rasio kepemilikan tertinggi di kawasan tersebut.

Berapa jumlah senjata api ilegal di Thailand? Sekitar 4,1 juta pucuk tidak memiliki registrasi resmi, artinya hampir 40 persen dari total kepemilikan warga berstatus ilegal.

Apa langkah konkret yang diambil pemerintah setelah insiden Nonthaburi? Pemerintah mengumumkan pembekuan izin pembelian senjata baru, pengetatan razia di jalan raya, serta usulan program amnesti agar pemilik senjata ilegal dapat mendaftarkan pucuk mereka secara sukarela.

Mengapa para ahli menilai langkah pemerintah tidak memadai? Karena kebijakan tersebut bersifat reaktif, diterapkan hanya setelah tragedi besar terjadi, dan tidak menyentuh celah struktural seperti denda yang terlalu ringan, lemahnya penegakan hukum pasca-izin, serta kemudahan akses melalui pasar gelap dan transaksi daring.

Gabung diskusi