Skip to content
Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Bahas Nyali Bung Karno dan Megawati, Sekjen PDIP: Pemimpin Harus Berani Lawan Ketidakadilan

Sandra Martin - narakabar.com 4 mins read

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, memberikan pembekalan politik dan mental kepada puluhan anak muda dalam kegiatan Muda-Mudi di

Bahas Nyali Bung Karno dan Megawati, Sekjen PDIP: Pemimpin Harus Berani Lawan Ketidakadilan

Hasto Ajak Anak Muda Menyerap Keberanian Bung Karno dan Megawati

Narakabar.com – Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, memberikan pembekalan politik dan mental kepada puluhan anak muda dalam kegiatan Muda-Mudi di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (21/10/2026) petang. Dalam forum tersebut, ia menekankan bahwa keberanian menghadapi ketidakadilan merupakan unsur mendasar dalam kepemimpinan.

Hasto mengarahkan perhatian peserta pada perjalanan politik Bung Karno serta Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri. Keduanya dipaparkan sebagai figur yang membangun kepemimpinan melalui gagasan, keberpihakan kepada masyarakat kecil, dan kesediaan menghadapi kekuatan yang menindas.

Kepemimpinan yang Berangkat dari Gagasan

Bagi Hasto, pemimpin tidak cukup tampil tegas atau memiliki posisi kekuasaan. Seorang pemimpin perlu mempunyai kemampuan intelektual yang kemudian diterjemahkan menjadi kebijakan strategis untuk menjawab kebutuhan rakyat.

“Mengapa Bung Karno dan Ibu Megawati bisa menjadi pemimpin? Syarat menjadi pemimpin itu, Anda harus membangun intellectual leadership dan membumikannya dalam kebijakan strategis yang menjawab persoalan rakyat,” ujar Hasto.

Ia menilai kepemimpinan yang berpihak pada masyarakat dapat membangkitkan harapan. Dalam pandangannya, kekuasaan tidak seharusnya dipakai untuk menekan rakyat Marhaen, melainkan untuk menghadirkan jalan keluar dari persoalan yang mereka hadapi.

“Pemimpin yang seperti ini menggelorakan harapan dan tidak boleh menindas rakyat Marhaen,” Hasto menambahkan.

Pesan itu disampaikan kepada generasi muda sebagai penegasan bahwa politik tidak hanya berkaitan dengan jabatan atau persaingan kekuasaan. Politik juga berkaitan dengan keberanian mengambil sikap saat masyarakat menghadapi ketidakadilan, keterbatasan ruang demokrasi, maupun penyalahgunaan aturan.

Melawan Ketidakadilan, Bukan Menunjukkan Ketegasan Semu

Hasto turut mengkritik corak kepemimpinan yang hanya berani berhadapan dengan kelompok lemah, tetapi memilih tunduk ketika berhadapan dengan kekuatan yang lebih besar. Ia menempatkan keberanian Bung Karno dan Megawati sebagai pembeda dari pola tersebut.

“Bung Karno menjadi pemimpin karena berani melawan kolonialisme Belanda dan memiliki agenda dekolonialisasi yang mengguncangkan kemapanan negara-negara Barat. Ibu Mega menjadi pemimpin karena mendengarkan suara rakyat tertindas pada masa Orde Baru dan melakukan perlawanan terhadap Rejim Otoriter Orde Baru,” tegasnya.

Dalam uraian Hasto, keberanian itu bukan tindakan tanpa arah. Ia berhubungan dengan gagasan besar tentang bangsa, kehidupan rakyat, dan penolakan terhadap tatanan kekuasaan yang melanggengkan penindasan. Karena itu, nyali seorang pemimpin diuji ketika ia harus berhadapan dengan tekanan yang jauh lebih kuat.

“Syarat menjadi pemimpin, kata Bung Karno, digerakkan oleh ide-ide besar bagi rakyat dan bangsanya, dan memiliki nyali untuk melawan tatanan kekuasaan yang jauh lebih besar, namun menindas,” ujarnya.

Pandangan tersebut menempatkan kepemimpinan sebagai tanggung jawab moral. Ketegasan tidak semestinya berhenti pada penampilan atau retorika, melainkan terlihat dari keberpihakan ketika rakyat menghadapi situasi yang tidak adil.

Jejak Perjuangan Bung Karno

Hasto kemudian mengulas perjuangan Bung Karno sejak usia muda. Fokus perlawanannya disebut tertuju pada persoalan yang dirasakan masyarakat di bawah pemerintahan kolonial Belanda, termasuk ketidakadilan, kebodohan yang lahir dari sistem, penindasan, dan penyalahgunaan hukum.

“Yang dilawan oleh Bung Karno itu apa? Adalah apa yang dirasakan rakyat, ketidakadilan, kebodohan akibat sistem, penindasan, dan penyalahgunaan hukum. Itu yang dilawan. Meskipun lawannya adalah pemerintah kolonial Belanda,” beber Hasto.

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari pembacaan Hasto atas karakter Bung Karno. Perlawanan terhadap kolonialisme tidak diposisikan semata sebagai konflik dengan penguasa asing, melainkan sebagai perjuangan untuk membela martabat serta hak rakyat yang hidup dalam sistem penindasan.

Dalam konteks pembekalan bagi anak muda, gagasan tersebut memberi penekanan bahwa kepemimpinan perlu berangkat dari kemampuan memahami masalah publik. Keberanian akan memiliki arah apabila didasari kepekaan terhadap kondisi masyarakat dan kemauan untuk mencari perubahan yang adil.

Megawati dan Perjuangan Ruang Demokrasi

Nilai keberanian itu, dalam penjelasan Hasto, juga tampak pada perjuangan Megawati Soekarnoputri saat berhadapan dengan rezim Orde Baru. Ia menggambarkan keadaan ketika rakyat mengalami pembatasan dalam menyampaikan pendapat, berserikat, dan menjalankan kehidupan politik.

“Ibu Mega melihat rakyat terjajah, enggak bisa bersuara, enggak bisa berserikat, dan partai politik dibonsai,” kata Hasto.

Dalam kondisi itu, Megawati disebut memilih untuk mempertahankan perjuangan demokrasi. Hasto menyoroti gagasan bahwa kekuasaan presiden perlu dibatasi serta rakyat harus memiliki ruang untuk menentukan masa depannya melalui pemilihan umum yang berlangsung jujur dan adil.

“Bu Mega melawan dengan ide bahwa kekuasaan presiden itu tidak tak terbatas. Harus ada pemilu yang jujur dan adil. Ada kedaulatan rakyat untuk ikut menentukan nasibnya,” jelasnya.

Pesan yang dibawa Hasto kepada peserta Muda-Mudi menautkan pengalaman sejarah dengan kebutuhan kepemimpinan masa kini. Anak muda didorong untuk tidak memisahkan kemampuan berpikir dari keberanian bertindak, serta memahami bahwa keberpihakan kepada rakyat kecil harus tercermin dalam sikap dan kebijakan.

Melalui pembekalan di Sekolah Partai PDIP itu, Hasto menegaskan kembali bahwa pemimpin sejati tidak dibentuk oleh keberanian menghadapi pihak yang lemah. Ukurannya justru terletak pada kesediaan melawan ketidakadilan, menolak penindasan, dan menjaga harapan rakyat melalui gagasan yang dapat diwujudkan dalam tindakan nyata.

Frequently Asked Questions

What is Bahas Nyali Bung Karno dan Megawati?

Bahas Nyali Bung Karno dan Megawati is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Bahas Nyali Bung Karno dan Megawati matter?

Bahas Nyali Bung Karno dan Megawati matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Gabung diskusi