Anggaran Dipotong Pusat, Renovasi 11 Sekolah di Jakarta Terpaksa Mundur ke 2027
Anggaran Dipotong Pusat Renovasi 11 Sekolah menjadi sorotan utama di Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengonfirmasi bahwa keputusan pemerintah
Renovasi 11 Sekolah Jakarta Mundur ke 2027 Usai Anggaran Dipotong
Narakabar.com – Anggaran Dipotong Pusat Renovasi 11 Sekolah menjadi sorotan utama di Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengonfirmasi bahwa keputusan pemerintah pusat untuk memangkas anggaran menyebabkan penundaan proyek renovasi sebelas sekolah di wilayah Ibu Kota. Program rehabilitasi yang awalnya dijadwalkan rampung pada tahun 2026 ini kini harus menunggu hingga 2027. Dari keseluruhan 22 sekolah yang menjadi target perbaikan, separuh di antaranya terpaksa menunggu alokasi dana tambahan dari pemerintah pusat.
Pernyataan resmi tersebut disampaikan oleh Pramono saat melakukan kunjungan kerja ke SDN Kebayoran Lama Selatan 09 yang berlokasi di Jakarta Selatan pada hari Jumat, 24 Juli 2026. Ia menjelaskan bahwa faktor-faktor seperti pemotongan Dana Bagi Hasil (DBH) serta berbagai kebijakan efisiensi lainnya turut memengaruhi ketersediaan anggaran untuk sektor pendidikan di Jakarta.
Empat Sekolah Prioritas Dipercepat Renovasinya
Sebelumnya, hanya tujuh sekolah saja yang sudah mendapat jatah anggaran untuk rehabilitasi di tahun berjalan. Namun, situasi berubah drastis setelah kondisi bangunan SDN Kebayoran Lama Selatan 09 yang runtuh sejak tahun 2024 menjadi viral di platform media sosial. Melihat hal tersebut, Gubernur memerintahkan Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk melakukan pengecekan menyeluruh terhadap fasilitas pendidikan lainnya di seluruh wilayah Jakarta.
Hasil inspeksi lapangan menunjukkan adanya tiga sekolah tambahan yang kondisinya juga sangat memprihatinkan dan memerlukan penanganan segera. Pramono kemudian memutuskan untuk mempercepat pembangunan empat sekolah prioritas tersebut tanpa menunggu siklus anggaran reguler yang biasanya memakan waktu lebih lama. Keempat sekolah yang mendapat prioritas tinggi tersebut meliputi SDN Kebayoran Lama Selatan 09 dengan alokasi Rp48,1 miliar, SMAN 102 Jakarta sebesar Rp67,5 miliar, SDN Cempaka Putih Barat 03 senilai Rp48,4 miliar, serta gabungan SDN Papanggo 01 dan TKN Papanggo 01 dengan total Rp74,1 miliar.
Kenapa terjadi ini? Karena ada pemotongan DBH, efisiensi, dan sebagainya, jelas Pramono.
Gubernur menekankan bahwa kondisi fisik bangunan-bangunan ini sudah sangat memburuk sehingga tidak bisa ditunda lagi. Ia juga menambahkan bahwa keputusan untuk mempercepat renovasi empat sekolah tersebut diambil berdasarkan evaluasi komprehensif terhadap kondisi infrastruktur pendidikan di Jakarta.
Ada empat yang saya minta untuk dibangun sekarang juga. Di antaranya adalah tempat ini. Kenapa harus dibangun sekarang juga? Karena memang kondisinya sudah sangat memprihatinkan, tuturnya.
Strategi Pembiayaan Menggunakan Dana KLB dan APBD Perubahan
Dengan adanya tambahan tiga sekolah tersebut, jumlah total sekolah yang akan direnovasi pada tahun 2026 menjadi sebelas unit dengan kebutuhan anggaran mencapai sekitar Rp249 miliar. Untuk mempercepat proses pengerjaan, Pemprov DKI Jakarta memilih menggunakan kombinasi dana Kejadian Luar Biasa (KLB) dan APBD Perubahan. Langkah ini diambil agar tidak perlu menunggu pembahasan anggaran APBD reguler yang biasanya berlangsung hingga tahun berikutnya.
Dananya gabungan dari KLB dan juga APBD Perubahan. Kalau menunggu anggaran APBD kan harus tahun depan. Pembahasannya kan cukup panjang. Sehingga kami memutuskan, sebagian kami mulai dari KLB, ucap Pramono.
Sementara itu, sebelas sekolah lainnya yang belum mendapatkan jatah anggaran saat ini dipastikan akan memulai proses rehabilitasi pada tahun 2027. Penundaan ini diharapkan tidak berdampak signifikan terhadap kualitas pembelajaran siswa di sekolah-sekolah tersebut. Pemerintah DKI Jakarta juga berkomitmen untuk terus memantau perkembangan alokasi anggaran dari pusat agar renovasi dapat berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Kebijakan efisiensi yang diterapkan pemerintah pusat memang memberikan tantangan tersendiri bagi sektor pendidikan. Namun, dengan strategi pembiayaan yang tepat, Pemprov DKI Jakarta optimis bahwa renovasi 11 sekolah yang terdampak akan dapat diselesaikan dengan baik. Masyarakat Jakarta diharapkan dapat memberikan dukungan penuh terhadap program revitalisasi infrastruktur pendidikan ini demi masa depan generasi muda yang lebih baik.
