Skip to content
Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

IDAI Usul MBG di Kantin Sekolah, Utamakan Anak di Wilayah 3T

Robert Wilson - narakabar.com 4 mins read

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai perlu dirancang dengan perhatian besar pada keamanan pangan, suhu makanan, serta kebutuhan anak di daerah yang

IDAI Usul MBG di Kantin Sekolah, Utamakan Anak di Wilayah 3T

IDAI Dorong MBG Disalurkan Lewat Kantin Sekolah dan Memprioritaskan Wilayah 3T

Narakabar.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai perlu dirancang dengan perhatian besar pada keamanan pangan, suhu makanan, serta kebutuhan anak di daerah yang paling membutuhkan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengusulkan agar penyediaan makanan dilakukan melalui kantin sekolah, sehingga hidangan dapat diterima siswa dalam keadaan lebih hangat sebelum disantap.

Gagasan itu disampaikan Ketua Pengurus Pusat IDAI Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), dalam Media Briefing IDAI bertema “Keracunan Makanan pada Anak” pada Jumat, 11 September 2026. Selain mekanisme penyajian, IDAI juga mendorong agar anak-anak di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T menjadi kelompok yang didahulukan dalam pelaksanaan program tersebut.

Kantin Sekolah Dipandang Lebih Mendukung Makanan Hangat

Piprim menjelaskan bahwa usulan penggunaan kantin sekolah telah disampaikan IDAI sejak pembahasan awal MBG. Bagi IDAI, cara distribusi tidak dapat dipisahkan dari standar keamanan makanan yang harus dijaga secara ketat, terutama karena penerimanya adalah anak-anak usia sekolah.

“Jadi bagi kami, makanan yang dibagikan itu haruslah memenuhi standar keamanan yang ketat ya, dan kalau lihat konsepnya memang sejak awal, kami usulkan MBG itu dilakukan, diadakan oleh kantin sekolah, supaya makanan tetap hangat,” kata Piprim.

Penggunaan kantin berpotensi membuat penyajian makanan lebih dekat dengan waktu konsumsi siswa. Hal ini penting dalam pembahasan mutu hidangan sekolah karena makanan tidak hanya perlu memiliki nilai gizi, tetapi juga harus berada dalam kondisi layak ketika sampai ke tangan anak.

Keamanan pangan mencakup perhatian terhadap proses penyiapan, penyimpanan, pengiriman, hingga pembagian makanan. Setiap tahap perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan MBG agar tujuan menyediakan santapan bergizi tidak terganggu oleh persoalan mutu atau kondisi makanan saat dibagikan.

Usulan Prasmanan untuk Menyesuaikan Pilihan Anak

IDAI juga mengajukan pilihan penyajian berupa prasmanan. Konsep ini dipandang dapat memberi ruang bagi anak untuk memilih makanan yang lebih sesuai dengan selera mereka. Dalam praktik konsumsi di sekolah, penerimaan anak terhadap makanan menjadi unsur penting agar hidangan yang sudah tersedia benar-benar dimakan, bukan tersisa.

“Makanan tersebut bisa berupa prasmanan, sesuai dengan mana yang disukai oleh anak-anak, seperti di luar negeri,” ujarnya.

Penyajian prasmanan dalam usulan tersebut bukan sekadar soal bentuk pembagian makanan. Pendekatan ini berkaitan dengan pengalaman makan anak di lingkungan sekolah, termasuk kesempatan memilih jenis makanan yang tersedia. Namun, kualitas dan keamanan pangan tetap menjadi landasan utama dalam setiap bentuk penyajian yang digunakan.

Program pangan di sekolah memiliki tantangan tersendiri karena menyentuh banyak siswa dalam waktu yang berdekatan. Karena itu, penanganan makanan harus dilakukan secara konsisten, mulai dari kesiapan bahan hingga penyajian akhir. Perhatian tersebut selaras dengan pembahasan IDAI mengenai risiko keracunan makanan pada anak.

Anak di Wilayah 3T Didorong Menjadi Prioritas

Selain menyampaikan model distribusi, Piprim menekankan pentingnya arah prioritas penerima manfaat. IDAI mengusulkan agar pelaksanaan MBG lebih dahulu menyasar anak-anak yang tinggal di wilayah 3T. Kelompok ini disebut sebagai bagian dari konsep awal yang diajukan organisasi tersebut.

“Dan juga diutamakan untuk anak-anak yang 3T, seperti konsep awal ya,” katanya.

Prioritas bagi wilayah 3T menempatkan kebutuhan anak sebagai pertimbangan utama dalam pengembangan program. Pelaksanaan MBG tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan di sekolah, tetapi juga dengan upaya memastikan manfaat program dapat menjangkau anak-anak yang menghadapi kondisi wilayah berbeda.

Usulan IDAI menyoroti dua hal yang saling berkaitan: siapa yang perlu didahulukan dan bagaimana makanan disiapkan untuk mereka. Anak di wilayah 3T menjadi sasaran prioritas, sementara kantin sekolah dipandang sebagai tempat yang dapat membantu menjaga kondisi makanan sebelum dikonsumsi.

Keamanan Pangan Perlu Menjadi Bagian Inti Pelaksanaan

Dalam konteks MBG, makanan bergizi harus berjalan seiring dengan perlindungan kesehatan anak. Hidangan yang disajikan perlu memenuhi standar keamanan ketat, sebagaimana ditekankan Piprim. Penyelenggaraan program juga perlu mempertimbangkan kondisi makanan ketika dibagikan, termasuk kebutuhan untuk menjaga makanan tetap hangat.

Diskusi mengenai MBG melalui kantin sekolah menunjukkan bahwa pelaksanaan program perlu memperhatikan detail di lapangan, bukan hanya jumlah makanan yang tersedia. Cara penyajian, pilihan anak, kondisi hidangan, dan prioritas wilayah menjadi bagian yang dapat menentukan kualitas manfaat program bagi siswa.

Dengan fokus pada kantin sekolah, konsep prasmanan, serta prioritas bagi anak-anak di daerah 3T, IDAI menawarkan pendekatan yang berangkat dari kebutuhan penerima. Ke depan, aspek keamanan pangan tetap menjadi perhatian penting agar program makanan bergizi bagi anak sekolah dapat dijalankan dengan perlindungan yang memadai.

Frequently Asked Questions

What is IDAI Usul MBG di Kantin Sekolah?

IDAI Usul MBG di Kantin Sekolah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does IDAI Usul MBG di Kantin Sekolah matter?

IDAI Usul MBG di Kantin Sekolah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Gabung diskusi