Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Key Strategy: Kajian IESR: Indonesia Punya Potensi 77,8 GW PLTS Terapung, Apa Tantangan Pengembangannya?

Elizabeth Martin - narakabar.com 3 mins read 4 views

Key Strategy: Kajian IESR: Indonesia Berpotensi 77,8 GW PLTS Terapung, Tantangan Pengembangan Key Strategy - Dalam upaya mempercepat transisi energi nasional

Key Strategy: Kajian IESR: Indonesia Punya Potensi 77,8 GW PLTS Terapung, Apa Tantangan Pengembangannya?

Key Strategy: Kajian IESR: Indonesia Berpotensi 77,8 GW PLTS Terapung, Tantangan Pengembangan

Key Strategy – Dalam upaya mempercepat transisi energi nasional, Key Strategy mengidentifikasi PLTS terapung sebagai teknologi berpotensi besar untuk memenuhi target pemerintah pengembangan energi surya sebesar 100 GW. Kajian terbaru dari Institute for Essential Services Reform (IESR), yang diluncurkan di Denpasar selama Indonesia Solar Summit (ISS) 2026, menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi sekitar 77,8 gigawatt (GW) untuk mengembangkan PLTS terapung di 179 lokasi strategis. Proyek ini dianggap sebagai salah satu komponen penting dalam strategi kunci untuk mencapai kemandirian energi nasional.

Kelayakan Ekonomi dan Faktor Pendukung

Analisis kelayakan ekonomi dalam kajian tersebut menunjukkan bahwa PLTS terapung dapat memberikan keuntungan signifikan dengan membandingkan equity internal rate of return (EIRR) terhadap weighted average cost of capital (WACC). Metode ini membantu menilai apakah proyek akan menghasilkan keuntungan yang seimbang dengan biaya investasi. Dalam konteks Key Strategy, penggunaan teknologi ini tidak hanya mengandalkan keuntungan finansial, tetapi juga memperhatikan dampak lingkungan dan keberlanjutan.

Menurut CEO IESR, Fabby Tumiwa, PLTS terapung memiliki peran strategis dalam mendukung pertumbuhan energi terbarukan. “Key Strategy untuk energi surya tidak bisa hanya berupa pembangunan fisik, tetapi juga memastikan integrasi teknologi dengan kebijakan yang mendukung,” ujarnya. Ia menekankan bahwa PLTS terapung dapat memperkuat kemandirian energi nasional, terutama di wilayah pesisir dan perairan yang memiliki sumber matahari cukup.

Potensi dan Tantangan Pengembangan

Kajian ini menyoroti bahwa 77,8 GW potensi PLTS terapung tersebar di berbagai lokasi, termasuk perairan Jawa, Bali, dan Kalimantan. Tantangan utama yang dihadapi mencakup kebijakan yang belum konsisten, perizinan yang rumit, serta kebutuhan investasi besar. Dalam Key Strategy, perlu adanya koordinasi antara sektor publik dan swasta untuk mengatasi hambatan ini.

Selain itu, dampak lingkungan dan sosial juga menjadi pertimbangan kritis. PLTS terapung berpotensi mengganggu ekosistem perairan, sehingga perlu dilakukan studi lebih lanjut tentang interaksi dengan lingkungan sekitar. Fabby menambahkan bahwa Key Strategy harus mencakup pertimbangan teknis, ekonomis, dan ekologis untuk memastikan pengembangan berkelanjutan.

Menurut kajian, peningkatan kapasitas PLTS terapung bisa menjadi strategi utama dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Dengan Key Strategy yang terpadu, teknologi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pemanfaatan energi bersih, sambil memastikan keberlanjutan ekonomi dan lingkungan.

Rekomendasi dan Langkah Implementasi

IESR menyarankan agar pemerintah segera memasukkan potensi PLTS terapung ke dalam dokumen perencanaan energi nasional. Langkah ini penting untuk memastikan pengembangan teknologi mendapat prioritas dalam Key Strategy jangka panjang. Selain itu, pemerintah perlu memperbarui tata ruang darat dan laut agar memudahkan pemanfaatan lahan untuk proyek tersebut.

Sebagai bagian dari Key Strategy, IESR juga menekankan pentingnya penerapan mekanisme lelang terbalik. Metode ini memungkinkan pengembang berkompetisi berdasarkan harga, teknologi, dan kualitas pelaksanaan. Dengan pendekatan ini, pemerintah dapat memastikan pengembangan PLTS terapung berjalan efisien dan mendukung inovasi dalam sektor energi.

Para ahli menyoroti bahwa Key Strategy untuk PLTS terapung harus melibatkan masyarakat sekitar. Partisipasi masyarakat diperlukan agar proyek tidak hanya menjadi inisiatif teknis, tetapi juga mendapat dukungan sosial yang kuat. “Key Strategy ini adalah kesempatan untuk membangun ekosistem energi yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Sunandar, Asisten Deputi Pengembangan Ketenagalistrikan dan Geologi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Langkah Konkrit untuk Masa Depan Energi

Dalam rangka mewujudkan Key Strategy, pemerintah dan stakeholder perlu melakukan langkah konkrit seperti mempercepat regulasi, meningkatkan kerja sama antar sektor, dan memperluas keterlibatan masyarakat. Dengan 77,8 GW potensi, PLTS terapung dapat menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan, terutama di daerah dengan akses terbatas ke sumber daya energi konvensional.

Key Strategy juga membutuhkan investasi dalam R&D untuk mengoptimalkan teknologi PLTS terapung. Penelitian lebih lanjut dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya operasional, dan memperkuat daya tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem. “Pengembangan PLTS terapung adalah bagian dari Key Strategy untuk menciptakan solusi energi yang ramah lingkungan dan ekonomis,” jelas Fabby. Dengan kebijakan yang tepat, teknologi ini bisa menjadi pilar utama dalam transisi energi Indonesia.

Gabung diskusi