Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Mendag Klaim MBG Dongkrak Harga Telur, Kini Mendekati HET

Robert Wilson - narakabar.com 4 mins read 11 views

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengemukakan bahwa inisiatif Makan Bergizi Gratis (MBG) turut membantu menormalkan harga komoditas di pasaran Yogyakarta

Mendag Klaim MBG Dongkrak Harga Telur, Kini Mendekati HET

Program Makan Bergizi Gratis Diduga Mendorong Kenaikan Harga Telur Menuju HET

Narakabar.com – Menteri Perdagangan Budi Santoso mengemukakan bahwa inisiatif Makan Bergizi Gratis (MBG) turut membantu menormalkan harga komoditas di pasaran Yogyakarta. Berdasarkan data yang dihimpun, harga telur ayam ras mengalami peningkatan dari Rp26 ribu menjadi hampir Rp28 ribu per kilogram pada hari Kamis. Peningkatan ini menunjukkan tren positif dalam stabilisasi harga komoditas pangan strategis di tingkat nasional.

Upaya pemerintah ini dinilai berhasil meningkatkan penyerapan sekaligus memberikan kepastian permintaan, sehingga harga telur di tingkat nasional menjadi lebih stabil. Program MBG yang kembali dijalankan memberikan dampak signifikan terhadap keseimbangan pasar, terutama dalam hal permintaan dan penawaran yang lebih terprediksi.

Penjelasan Mendag Soal Dinamika Harga

Budi Santoso mengklaim bahwa implementasi kembali program MBG telah memberikan dampak positif terhadap perbaikan harga bahan pokok, khususnya telur ayam ras di pasar lokal. Ia menjelaskan bahwa kembalinya program tersebut meningkatkan penyerapan telur, sehingga harga yang sempat turun kini bergerak mendekati Harga Eceran Tertinggi (HET). Hal ini menunjukkan bahwa intervensi pemerintah melalui program makan bergizi gratis berhasil menciptakan efek domino positif bagi sektor peternakan.

Menurut Menteri Perdagangan, beberapa waktu lalu harga telur berada di kisaran Rp26 ribu per kilogram atau jauh di bawah HET yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp30 ribu per kilogram. Namun, kini harga telah naik mendekati Rp28 ribu per kilogram. Kenaikan ini tidak terlalu drastis dan masih dalam batas wajar yang menunjukkan stabilitas pasar yang baik.

“Ini saya kasih contoh harga telur ya, harga telur kemarin kan berapa? Rp26 (ribu). Rp26 (ribu) itu padahal HET-nya berapa? Rp30 ribu kan? Rp30.000 HET itu Harga Eceran Tertinggi,” kata Budi kepada wartawan di Yogyakarta, Kamis (23/7/2026).

Budi menjelaskan, HET ditetapkan untuk menjaga keseimbangan kepentingan antara produsen dan konsumen. Harga yang terlalu rendah dinilai berisiko membuat peternak merugi dan mengurangi produksi, yang pada akhirnya justru memicu kenaikan harga akibat pasokan berkurang. Dengan adanya HET, peternak memiliki kepastian harga minimum yang melindungi mereka dari kerugian.

“Kalau harga terlalu rendah, nanti produsennya rugi bisa tutup ya dan tidak produksi. Kalau tidak produksi, telur enggak ada, justru naik,” ujarnya.

MBG Sebagai Penyeimbang Permintaan dan Penawaran

Budi menyebut salah satu faktor yang mendorong membaiknya harga telur adalah meningkatnya penyerapan dari program MBG yang kini kembali berjalan. Kehadiran program tersebut menciptakan permintaan yang lebih pasti sehingga produk peternak dapat terserap secara berkelanjutan. Program makan bergizi gratis ini tidak hanya membantu petani, tetapi juga memastikan ketersediaan pangan berkualitas untuk masyarakat.

“Nah, memang sekarang penyerapannya lebih bagus karena salah satu faktornya ya MBG juga sudah berjalan kembali. Jadi sebenarnya MBG itu bisa menjadi penyeimbang antara permintaan dan penawaran,” ucapnya.

Sebelum MBG berjalan, kata Budi, pasar telur kerap mengalami fluktuasi karena tidak ada kepastian permintaan. Kondisi itu membuat produsen kesulitan menentukan volume produksi yang tepat sehingga sering terjadi ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan pasar. Fluktuasi harga yang terjadi sebelumnya berdampak langsung pada kesejahteraan peternak dan konsumen.

“Dulu ya, dulu itu harga itu sebelum ada MBG harga itu fluctuated banget. Kenapa? Karena tidak ada kepastian,” ungkapnya.

Menurutnya, keberadaan MBG membuat permintaan bahan pokok, termasuk telur, berlangsung lebih konsisten. Dengan adanya kepastian pasar, peternak dapat menyesuaikan produksi secara lebih terukur sehingga gejolak harga dapat ditekan. Konsistensi permintaan ini menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas harga komoditas pangan.

“Nah, ketika ada MBG ini justru stabil. Jadi permintaan terus ada, produksinya ini kan jadi konsisten dengan permintaan yang ada,” imbuhnya.

Surplus Telur Nasional Mencapai 12 Persen

Budi menambahkan, produksi telur nasional saat ini masih mencatat surplus sekitar 12 persen. Kondisi tersebut menunjukkan sektor peternakan mampu memenuhi kebutuhan pasar sekaligus menyokong kebutuhan bahan pangan untuk program MBG yang terus berjalan. Surplus ini menjadi indikator positif bahwa kapasitas produksi nasional sudah cukup untuk memenuhi permintaan domestik.

“Sehingga sekarang telur aja surplusnya 12 persen. Artinya untuk kebutuhan MBG, jadi semua berjalan dengan baik. Ya produksinya ikut terus meningkat, semua terlibat secara ekosistem ekonominya semua terlibat ya, baik dari produsen ya maupun dari sektor-sektor lain ya, tidak hanya peternakan tapi juga pertanian dan sebagainya. Jadi bagus sih,” tandasnya.

Dengan surplus yang mencapai 12 persen, Indonesia memiliki cadangan yang cukup untuk menghadapi berbagai kondisi pasar. Program MBG tidak hanya membantu menstabilkan harga, tetapi juga mendorong pertumbuhan sektor peternakan secara keseluruhan. Hal ini sejalan dengan klaim Mendag Klaim MBG Dongkrak Harga yang menunjukkan efektivitas program dalam meningkatkan nilai komoditas pangan strategis.

Gabung diskusi