Skip to content
Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Panas Bumi Jadi Andalan Transisi Energi, Pemerintah Dorong Pemanfaatannya Lebih Cepat

William Williams - narakabar.com 3 mins read

Sejak eksplorasi pertama dilakukan di Kamojang, Jawa Barat, pada tahun 1926, perjalanan energi geothermal di Indonesia telah memasuki abad keduanya. Momentum

Panas Bumi Jadi Andalan Transisi Energi, Pemerintah Dorong Pemanfaatannya Lebih Cepat

Panas Bumi Jadi Andalan Transisi Energi Nasional

Narakabar.com – Sejak eksplorasi pertama dilakukan di Kamojang, Jawa Barat, pada tahun 1926, perjalanan energi geothermal di Indonesia telah memasuki abad keduanya. Momentum bersejarah ini ditandai dengan penyelenggaraan Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta, Senin, 24 Agustus 2026. Dalam konteks percepatan dekarbonisasi yang semakin mendesak, panas bumi jadi andalan transisi energi yang tidak lagi bisa ditunda—karena Indonesia memegang cadangan terbesar di dunia namun tingkat utilisasinya baru menempati posisi kedua secara global. Kesenjangan antara potensi dan realisasi inilah yang menjadi fokus utama agenda IIGCE tahun ini.

Percepatan Regulasi dan Insentif Kebijakan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, selaku pembuka acara, menegaskan bahwa hambatan terbesar sektor ini bukan lagi soal ketersediaan sumber daya, melainkan lambatnya eksekusi kebijakan dan kerumitan regulasi perizinan. Ia menekankan bahwa pemerintah berkomitmen memangkas birokrasi serta mengalirkan insentif agar proyek-proyek geothermal dapat terealisasi lebih cepat dan kompetitif di pasar internasional.

“Tantangan terbesar kita ada pada kecepatan eksekusi dan regulasi. Kita punya cadangan nomor satu dunia, tapi utilisasi masih nomor dua.”

Langkah konkret yang diumumkan mencakup penyederhanaan prosedur perizinan, percepatan review teknis oleh otoritas terkait, serta skema insentif fiskal bagi investor asing maupun domestik. Target pemerintah adalah agar kontribusi energi geothermal terhadap bauran energi nasional mencapai minimal 15 persen pada tahun 2050, sejalan dengan komitmen net-zero emissions yang telah dicanangkan dalam dokumen perencanaan energi jangka panjang.

Eksplorasi di Luar Pembangkitan Listrik

Bahlil menegaskan bahwa nilai strategis teknologi ini tidak boleh dibatasi pada produksi listrik semata. Pemerintah mendorong pemanfaatan energi termal bawah permukaan untuk kebutuhan produktif lintas sektor, mulai dari pengolahan hasil pertanian hingga industri berat. Pendekatan ini membuka ruang ekonomi baru yang selama ini belum tergarap secara serius.

“Kita juga mendorong optimalisasi potensi beyond electricity, mulai dari pengeringan hasil tani seperti kopi hingga kebutuhan industri petrokimia.”

Pemanfaatan non-listrik tersebut mencakup pengeringan kopi dan tembakau, pemanasan proses industri, serta potensi aplikasi di sektor pariwisata dan akuakultur. Dengan memperluas spektrum pemanfaatan, pemerintah berharap nilai ekonomi dari setiap megawatt kapasitas terpasang dapat meningkat secara signifikan dan menciptakan lapangan kerja di daerah penghasil.

88 Persen Cadangan Masih Terkunci

Julfi Hadi, Presiden Asosiasi Panas Bumi Indonesia (INAGA/API), mengingatkan bahwa sebagian besar potensi nasional masih menganggur. Dari total cadangan yang tercatat secara geologis, sekitar 88 persen belum tersentuh oleh aktivitas eksploitasi komersial. Angka ini sekaligus menjadi bukti bahwa ruang pertumbuhan sektor masih sangat luas.

“Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia, namun sekitar 88 persen cadangannya belum termanfaatkan.”

Ia menilai peringatan satu abad harus menjadi katalis percepatan, bukan sekadar seremoni. Karakteristik baseload yang dimiliki teknologi geothermal—mampu beroperasi stabil sepanjang waktu tanpa bergantung pada kondisi cuaca—menjadikannya tulang punggung transisi dari ketergantungan energi fosil ke sistem yang lebih bersih, andal, dan berdaulat secara energi.

Julfi juga menyoroti bahwa percepatan eksploitasi harus diiringi penguatan kapasitas industri domestik, khususnya di bidang manufaktur komponen dan rantai pasok lokal. Tanpa ekosistem industri yang matang, manfaat ekonomi akan bocor ke luar negeri dalam bentuk impor peralatan dan jasa teknis bernilai tinggi.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Percepatan Energi Geothermal

Apa target kontribusi energi geothermal dalam bauran energi nasional?

Pemerintah menargetkan minimal 15 persen kontribusi terhadap bauran energi nasional pada tahun 2050. Saat ini, porsi tersebut masih jauh di bawah ambang target, sehingga percepatan regulasi, penyederhanaan perizinan, dan insentif fiskal menjadi prioritas utama agenda kebijakan energi tahun berjalan.

Apakah pemanfaatan energi geothermal terbatas pada pembangkit listrik?

Tidak. Pemerintah secara eksplisit mendorong pemanfaatan non-listrik, termasuk pengeringan hasil pertanian, pemanasan proses industri petrokimia, dan aplikasi di sektor pariwisata serta akuakultur. Pendekatan multi-sektor ini memperluas nilai ekonomi dari setiap unit kapasitas yang dikembangkan dan mengurangi ketergantungan pada satu model bisnis saja.

Bagaimana status cadangan yang belum dimanfaatkan?

Menurut data yang disampaikan oleh INAGA/API dalam forum IIGCE 2026, sekitar 88 persen dari total cadangan nasional belum dieksploitasi secara komersial. Angka ini menunjukkan ruang pertumbuhan yang sangat besar sekaligus urgensi percepatan investasi, penyederhanaan regulasi, dan penguatan kapasitas industri domestik agar manfaat ekonomi tetap berputar di dalam negeri.

Gabung diskusi