Skip to content
Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Satwa Endemik Kalimantan Terancam Punah Akibat Karhutla Berulang

Emily Moore - narakabar.com 3 mins read

Setiap musim kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, perhatian publik hampir selalu tertuju pada orang utan. Padahal, ancaman yang jauh lebih sunyet justru

Satwa Endemik Kalimantan Terancam Punah Akibat Karhutla Berulang

Api Berulang di Kalimantan: Spesies Endemik Gambut di Ambang Kepunahan Lokal

Narakabar.com – Setiap musim kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, perhatian publik hampir selalu tertuju pada orang utan. Padahal, ancaman yang jauh lebih sunyet justru menimpa kelompok satwa dengan ketergantungan ekstrem terhadap ekosistem gambut serta sebaran geografis yang sangat terbatas. Kerusakan habitat yang berulang membuat populasi-populasi kecil ini kehilangan kesempatan untuk pulih secara alami.

Pandangan Akademisi: Ancaman yang Terabaikan

Dwi Sendi Priyono, dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada sekaligus anggota Society for Wildlife Forensic Science (SWFS), menegaskan bahwa narasi karhutla selama ini terlalu sempit. Ia menjelaskan bahwa spesies stenotopik dengan distribusi sempit justru berada dalam posisi paling rentan ketika api melahap lahan gambut.

“Justru yang paling saya khawatirkan bukan cuma orang utan, yang justru rawan itu spesies dengan ketergantungan tinggi ke gambut dan sebaran sempit,” kata Sendi kepada Suara.com, Kamis (27/8/2026).

Ia menekankan bahwa risiko kepunahan lokal pada satwa-satwa tersebut jauh melampaui ancaman yang dihadapi megafauna populer, namun nyaris tidak pernah masuk dalam wacana publik tentang kebakaran hutan.

“Jadi risiko kepunahan lokalnya jauh lebih tinggi daripada megafauna, tapi hampir enggak pernah masuk narasi karhutla,” tegasnya.

Bekantan dan Rusaknya Lanskap Riparian

Bekantan (Nasalis larvatus) menjadi salah satu contoh nyata dampak kerusakan ekosistem gambut dan kawasan riparian. Aktivitas deforestasi yang berpadu dengan kebakaran menyebabkan fragmen habitat menyempit dan populasi terpecah menjadi kantong-kantong kecil yang terisolasi.

Ikan Endemik Air Asam: Habitat yang Hilang Total

Ancaman paling krusial mengintai sejumlah ikan endemik yang hanya mampu bertahan hidup di perairan asam khas gambut. Sendi merinci bahwa genus Parosphromenus, Betta, dan Encheloclarias bersifat stenotopik—mampu eksis semata-mata di air asam gambut. Ketika struktur hidrologi gambut hancur oleh api, habitat mereka lenyap secara menyeluruh.

“Yang lebih luput lagi, ikan blackwater gambut. Genus Parosphromenus, Betta, Encheloclarias, ini stenotopik, cuma bisa hidup di air asam gambut. Begitu gambut terbakar dan hidrologinya rusak, habitatnya hilang total, dan banyak dari spesies ini punya distribusi sangat sempit,” paparnya.

Sebagian spesies dalam kelompok ini sudah mengantongi status konservasi Endangered hingga Critically Endangered, sehingga setiap episode kebakaran menambah tekanan yang berpotensi mengakhiri keberadaan mereka di suatu wilayah.

Satwa Lain dengan Populasi Kecil dan Mobilitas Terbatas

Daftar ancaman tidak berhenti pada primata dan ikan. Kucing kepala datar (Prionailurus planiceps), musang air (Cynogale bennettii), hingga owa janggut putih turut terdampak. Ketiga kelompok ini memiliki populasi kecil, keterikatan habitat yang spesifik, dan kemampuan dispersal yang sangat terbatas.

“Populasinya kecil, habitatnya spesifik, dan gak punya kapasitas dispersal buat pindah ke habitat lain,” lugasnya.

Konektivitas Genetik dan Jendela Pemulihan yang Tak Pernah Terbuka

Dampak karhutla melampaui sekadar hilangnya vegetasi. Api memutus jalur pergerakan antarpopulasi dan mengganggu struktur genetik yang membutuhkan waktu sangat panjang untuk kembali normal. Sendi menjelaskan bahwa dengan panjang generasi orang utan sekitar 25 tahun, pemulihan aliran gen yang terputus memerlukan puluhan generasi—artinya ratusan tahun—dan itu pun dengan prasyarat konektivitas habitat benar-benar pulih.

“Kalau orang utan usia generasi sekitar 25 tahun, buat memulihkan aliran gen antarpopulasi yang terputus butuh puluhan generasi, artinya ratusan tahun, dan itupun dengan syarat konektivitasnya benar-benar pulih,” paparnya.

Realitas di lapangan justru sebaliknya. Interval antarkebakaran kini menyempit drastis, nyaris terjadi setiap tahun. Ekosistem tidak lagi memperoleh jendela pemulihan yang dibutuhkan.

“Masalahnya interval karhutla sekarang jauh lebih pendek dari itu, hampir tiap tahun. Jadi sistemnya gak pernah punya semacam jendela pemulihan. Populasi terus-terusan direset ke kondisi kecil dan terisolasi,” pungkasnya.

Frequently Asked Questions

What is Satwa Endemik Kalimantan Terancam Punah Akibat?

Satwa Endemik Kalimantan Terancam Punah Akibat is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Satwa Endemik Kalimantan Terancam Punah Akibat matter?

Satwa Endemik Kalimantan Terancam Punah Akibat matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Gabung diskusi