Special Plan: Disimpan Dalam Koper President! Don Ritto Tak Berani Ungkap Pengusaha Pemilik Duit di Cafe de’Clan
Special Plan: Don Ritto Tak Berani Ungkap Pengusaha Pemilik Duit di Cafe de'Clan Special Plan menjadi sorotan publik setelah pengacara Don Ritto, Handika
Special Plan: Don Ritto Tak Berani Ungkap Pengusaha Pemilik Duit di Cafe de’Clan
Special Plan menjadi sorotan publik setelah pengacara Don Ritto, Handika Hanggowongso, mengungkap bahwa dana miliaran rupiah yang disita oleh polisi di Jakarta Selatan dinyatakan sebagai investasi untuk pembangunan pelabuhan di Kalimantan Timur. Dana tersebut, menurut Handika, merupakan milik Don Ritto dan seorang pengusaha yang terlibat dalam proyek strategis tersebut. Kasus ini kini memicu perdebatan mengenai transparansi dana yang diduga terkait dengan kegiatan khusus yang sedang diteliti oleh penyidik.
Proses Verifikasi Barang Bukti
Penyidik Kortastipidkor Polri tengah memverifikasi keaslian barang bukti, termasuk uang asing dan emas, yang ditemukan di 13 lokasi penyitaan. Verifikasi ini melibatkan koordinasi dengan lembaga internasional seperti FBI dan USSS, serta otoritas lokal seperti Bank Indonesia dan PT Pegadaian. Proses ini penting untuk memastikan bahwa dana yang disita dalam Special Plan tidak terkait langsung dengan tiga dugaan korupsi yang menjerat Don Ritto dan Febrie Adriansyah.
“Kasus ini sudah dihubungkan dengan dana yang ditemukan oleh penyidik Kortas, tapi kita harus memastikan bahwa uang tersebut benar-benar merupakan bagian dari Special Plan,” jelas Handika saat diwawancara di Polda Metro Jaya, Selasa (14/7/2026). Ia menekankan bahwa uang yang disita di Cafe de’Clan dan Koin Money Changer tidak terkait langsung dengan tiga dugaan korupsi yang dituduhkan kepada kliennya.
Keterlibatan Alumni Fakultas Hukum
Don Ritto dan Febrie Adriansyah, yang keduanya merupakan alumni Universitas Jambi, memicu kecurigaan karena kedua pihak dianggap memiliki koneksi kuat di dunia hukum. Febrie, yang kini menjabat ketua dewan penasihat alumni, masuk dalam angkatan 1986, sedangkan Don Ritto merupakan alumni 1989. Keterlibatan mereka dalam proyek Special Plan membuat masyarakat mempertanyakan apakah ada konflik kepentingan atau penyimpangan dalam pengelolaan dana tersebut.
Dalam pemeriksaan, Handika menolak memberikan informasi spesifik mengenai identitas pengusaha yang menjadi pemilik dana dalam Cafe de’Clan. Ia mengatakan bahwa media harus mengajukan pertanyaan langsung kepada penyidik untuk memperoleh jawaban resmi. Meski demikian, ia menyatakan bahwa dana yang disita tidak terkait dengan tiga dugaan korupsi yang sedang diteliti, termasuk transaksi di tempat-tempat seperti Koin Money Changer.
Dampak atas Penyitaan dan Penanganan Kasus
Penyitaan dana dalam jumlah besar memperbesar tekanan terhadap Don Ritto dan Febrie. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka setelah proses verifikasi barang bukti selesai. Kasus ini kini menjadi bagian dari investigasi lebih luas terkait penggunaan dana dari Special Plan yang diduga tidak transparan. Handika menyatakan bahwa seluruh bukti yang disiapkan oleh penyidik akan diperiksa secara rinci sebelum diserahkan ke Kejaksaan Agung.
Sejumlah warga dan pengamat hukum mengkritik keputusan penyidik karena dana yang disita tidak sepenuhnya terkait dengan kasus korupsi yang dituduhkan. Mereka menilai bahwa transparansi dana dalam Special Plan harus menjadi prioritas utama. Handika menegaskan bahwa dana tersebut diperuntukkan untuk proyek pembangunan pelabuhan, tetapi masyarakat tetap mempertanyakan alur dana yang terkait dengan Cafe de’Clan dan Koin Money Changer.
Detil Dana yang Disita dalam Special Plan
Dari penyitaan di 13 lokasi, penyidik mengumpulkan berbagai jenis barang bukti, termasuk uang tunai, dokumen, dan perangkat elektronik. Di Cafe de’Clan, ditemukan dolar Singapura, dolar Amerika Serikat, dan rupiah sekitar Rp60 miliar. Di Koin Money Changer, 16 jenis mata uang asing diperoleh senilai Rp7,2 miliar. Dari rumah Febrie di Sentul, 74 kilogram emas batangan dan uang tunai Rp476 miliar juga disita. Dana-dana tersebut, menurut Handika, dinyatakan tidak terkait langsung dengan tiga dugaan korupsi dalam Special Plan.
Penyidik terus menyelidiki apakah ada indikasi penyalahgunaan dana dalam Special Plan yang digunakan untuk kegiatan non-terkait. Handika membenarkan bahwa dana yang disita di Cafe de’Clan adalah bagian dari rencana khusus tersebut, tetapi ia menegaskan bahwa ada bukti yang menunjukkan bahwa dana tersebut digunakan untuk pembangunan pelabuhan. Selain itu, ia menyoroti bahwa perusahaan pemilik duit di Cafe de’Clan akan terus diperiksa dalam rangka memastikan kesesuaian dengan rencana khusus tersebut.
