Tukang Becak Masuk Desil 9, DPR Desak Pemerintah Bentuk Tim Khusus
Sebuah anomali dalam sistem klasifikasi desil di Jakarta memicu desakan keras dari parlemen. Pada Selasa (25/8/2026), Selly Andriany Gantina, anggota Komisi
Desil Tukang Becak Melonjak ke Angka 9, DPR Tuntut Pembentukan Tim Evaluasi Khusus
Narakabar.com – Sebuah anomali dalam sistem klasifikasi desil di Jakarta memicu desakan keras dari parlemen. Pada Selasa (25/8/2026), Selly Andriany Gantina, anggota Komisi VIII DPR RI, mendesak pemerintah segera membentuk tim khusus guna mengevaluasi menyeluruh mekanisme pendataan desil. Langkah ini dinilai mendesak setelah terungkap sejumlah ketidaksesuaian antara kondisi riil masyarakat dan klasifikasi yang tercatat dalam sistem.
Kasus Timbul: Tukang Becak yang Tiba-Tiba Masuk Desil Tertinggi
Salah satu contoh paling mencolok datang dari Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Timbul, seorang pengemudi becak, tercatat mengalami perubahan status desil dari angka 1 melonjak ke angka 9. Pergeseran drastis semacam itu berpotensi memutus akses beasiswa anaknya yang sudah diterima di perguruan tinggi, sekaligus mengancam penerimaaan Kartu Indonesia Pintar (KIP) bagi keluarga tersebut.
Selly menegaskan bahwa perubahan status semacam ini bukan sekadar kesalahan administratif, melainkan persoalan yang langsung menyentuh hak masyarakat untuk memperoleh bantuan pemerintah.
“Hasil sistem bertentangan dengan fakta yang kasat mata di lapangan, yang harus diperiksa adalah kualitas datanya, metodologinya, pemutakhirannya, dan mekanisme verifikasinya,” kata Selly di Jakarta, Selasa (25/8/2026).
Ketimpangan Klasifikasi: Tukang Becak di Atas Lurah
Ia menyoroti ironi yang lebih luas: seorang tukang becak terklasifikasi di desil 9, sementara seorang lurah justru berada di desil 8. Bagi Selly, fenomena ini membuktikan bahwa data kemiskinan dan kerentanan sosial tidak dapat direduksi menjadi sekadar satu angka.
“Artinya, data kemiskinan dan kerentanan sosial memang tidak sesederhana angka desil. Karena itu, kasus seorang tukang becak yang masuk desil 9, sementara seorang lurah justru berada di desil 8, harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk mengevaluasi kualitas pemadanan dan pembaruan data,” ujarnya.
Desakan: Multi-Indikator, Bukan Satu Angka
Selly meminta agar pemerintah tidak menjadikan desil sebagai satu-satunya penentu kelayakan seseorang menerima perlindungan sosial. Kondisi ekonomi warga, menurutnya, harus diukur melalui berbagai variabel sekaligus, meliputi identitas keluarga, kondisi tempat tinggal, sanitasi, sumber air dan listrik, pendapatan, pengeluaran, kepemilikan aset, serta kondisi anggota keluarga.
“Jangan sampai kita memiliki sistem yang canggih, tetapi data yang masuk tidak menggambarkan kondisi masyarakat yang sebenarnya,” katanya.
Mekanisme Sanggah dan Perlindungan Sementara
Untuk mengatasi persoalan struktural tersebut, Selly menyerukan penguatan koordinasi antara Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Sosial, Badan Pusat Statistik (BPS), serta kementerian dan lembaga terkait dalam hal pemadanan dan pemutakhiran data. Ia menekankan pentingnya mekanisme sanggah yang cepat, gratis, sederhana, transparan, dan responsif, sehingga warga yang status bantuannya berubah dapat mengajukan koreksi tanpa menunggu berbulan-bulan.
Di samping evaluasi sistemik, Selly juga mengusulkan penerapan prinsip grandfathering: mempertahankan hak penerima bantuan yang sudah berjalan sementara proses verifikasi dan pemadanan data lanjutan masih berlangsung. Dengan demikian, masyarakat tidak kehilangan akses perlindungan sosial hanya karena kelambanan birokrasi dalam memperbarui data.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Tukang Becak Masuk Desil 9 DPR Desak?
Tukang Becak Masuk Desil 9 DPR Desak is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Tukang Becak Masuk Desil 9 DPR Desak matter?
Tukang Becak Masuk Desil 9 DPR Desak matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
