Special Plan: BEM UI Sindir BBM ‘Elite’ yang Turun: Rakyat dan Ojol Butuhnya Pertamax Murah!
Special Plan: Mahasiswa UI Kritik Kebijakan BBM 'Elite' di Jakarta, Tuntut Pertamax Lebih Murah!
Special Plan: Mahasiswa UI Kritik Kebijakan BBM ‘Elite’ di Jakarta, Tuntut Pertamax Lebih Murah!
Special Plan – Dalam rangka penerapan Special Plan, PT Pertamina melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi tertentu di Jakarta mulai 1 Juli 2026. Aksi ini diambil sesuai evaluasi harga minyak internasional, namun masih dianggap kurang memenuhi harapan oleh sejumlah kelompok mahasiswa. Mereka menilai harga Pertamax, BBM yang paling banyak digunakan masyarakat, masih terlalu tinggi dan belum berdampak signifikan bagi kebutuhan rakyat biasa serta pengemudi ojek online (ojol).
Special Plan dan Tuntutan Mahasiswa
Aliansi mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas Indonesia (UI) menuntut Pertamina untuk menurunkan harga Pertamax lebih lanjut. Tuntutan ini didasari keyakinan bahwa BBM ini digunakan oleh sebagian besar kalangan masyarakat, termasuk para pengemudi ojol. Meski Special Plan menyebabkan penurunan harga Pertamax Turbo dan Dexlite, mahasiswa berargumen bahwa perubahan ini belum cukup mengurangi beban ekonomi rakyat.
“Dalam Special Plan yang diumumkan Pertamina, kita lihat bahwa perubahan harga BBM nonsubsidi hanya berdampak pada kelompok tertentu. Pertamax, sebagai BBM yang paling dibutuhkan rakyat biasa dan ojol, justru masih dianggap belum sesuai dengan kebutuhan ekonomi masyarakat,” ungkap Yatalathof Ma’shum Imawan, Ketua BEM UI.
Kebijakan BBM dan Persepsi Masyarakat
Yatalathof menjelaskan bahwa Special Plan ini mengakui bahwa harga BBM nonsubsidi tidak lagi hanya ditentukan oleh kebutuhan industri, tetapi juga perlu mencerminkan kepentingan rakyat umum. Ia menekankan bahwa penurunan harga Pertamax Turbo dan Dexlite hanya sebagian kecil dari keseluruhan kebutuhan masyarakat, terutama bagi para pengguna ojol yang bergantung pada bahan bakar murah.
“Pertamax adalah BBM yang sangat urgent untuk diturunkan harga dalam Special Plan, karena bahkan ojol pun memakainya. Jadi, perubahan harga ini belum dirasakan secara luas oleh kalangan paling bawah,” tambahnya.
Dalam penyesuaian harga BBM nonsubsidi ini, Pertamax Turbo turun dari Rp20.750 menjadi Rp19.300 per liter, Dexlite dari Rp19.700 menjadi Rp19.300 per liter, dan Pertamina Dex tetap dijual Rp21.150 per liter. Sementara Pertalite dan BioSolar, yang bersubsidi, tidak mengalami perubahan. Mahasiswa mengkritik kebijakan ini karena dinilai tidak seimbang dalam distribusi manfaat kepada masyarakat.
“Dalam Special Plan ini, kita lihat bahwa kebijakan BBM nonsubsidi hanya berdampak pada kelompok tertentu, seperti mobil mewah dan kendaraan pribadi. Pertamax, yang digunakan oleh rakyat biasa, justru masih memerlukan penyesuaian lebih lanjut,” jelas Yatalathof.
Dampak dan Perspektif Lebih Luas
Menurut Yatalathof, penyesuaian harga BBM dalam Special Plan belum mampu menciptakan keseimbangan antara kenaikan harga minyak dunia dan daya beli masyarakat. Ia menyoroti bahwa kebijakan ini perlu diintegrasikan dengan kebutuhan sehari-hari, seperti biaya transportasi yang menjadi pengeluaran utama masyarakat menengah. Mahasiswa juga menyinggung potensi krisis minyak goreng dan dampak lingkungan akibat penggunaan BBM yang lebih mahal.
Aliansi mahasiswa menegaskan bahwa Special Plan ini bukan hanya tentang penyesuaian harga, tetapi juga tentang keadilan distribusi bahan bakar. Mereka berharap pemerintah dan Pertamina dapat berkoordinasi lebih baik untuk memastikan harga Pertamax tetap terjangkau, khususnya bagi para pekerja sektor transportasi dan masyarakat ekonomi rendah.
“Kita memandang bahwa Special Plan ini perlu mencerminkan kepentingan rakyat, bukan hanya kelompok tertentu. Jadi, kenaikan harga Pertamax Turbo dan Dexlite dianggap tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat umum,” tutup Yatalathof.
Dengan Special Plan yang berlaku, mahasiswa UI terus berkomitmen untuk memastikan kebijakan BBM tidak hanya menguntungkan kelompok elit, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi rakyat dan pengemudi ojol. Mereka menilai bahwa penurunan harga Pertamax justru menjadi prioritas dalam Special Plan ini, karena BBM ini menjadi tulang punggung kebutuhan transportasi sehari-hari masyarakat Indonesia.
