Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Key Issue: Bukan Cuma Rokok, Ini Alasan Kanker Paru Masih Sulit Ditangani di Indonesia

Sarah Martinez - narakabar.com 3 mins read 8 views

Kanker Paru: Tantangan Utama dalam Penanganan di Indonesia Key Issue dalam masalah kesehatan di Indonesia saat ini adalah kanker paru yang terus menjadi

Key Issue: Bukan Cuma Rokok, Ini Alasan Kanker Paru Masih Sulit Ditangani di Indonesia

Kanker Paru: Tantangan Utama dalam Penanganan di Indonesia

Key Issue dalam masalah kesehatan di Indonesia saat ini adalah kanker paru yang terus menjadi penyebab kematian terbesar akibat kanker. Data WHO menunjukkan bahwa jumlah kasus baru kanker paru global pada 2022 mencapai 2,4 juta, atau sekitar 12,4 persen dari total kasus kanker. Di Indonesia, penyakit ini menduduki peringkat kedua setelah kanker payudara dalam jumlah penderita. Menariknya, tren peningkatan kasus kanker paru di kalangan perempuan terus terjadi, dengan hampir 10 ribu wanita terdiagnosis pada 2022.

Keterbatasan Skrining dan Diagnosis Awal

Dalam Key Issue ini, keterbatasan skrining dan diagnosis dini menjadi faktor kritis yang memengaruhi hasil pengobatan. Banyak pasien hanya menyadari kondisi mereka saat penyakit sudah mencapai stadium lanjut, sehingga peluang kesembuhan berkurang. Meski teknologi seperti Low-Dose CT Scan (LDCT) dianggap efektif untuk mendeteksi kanker paru sejak tahap awal, implementasi skrining ini masih belum merata. Peraturan Menteri Kesehatan 2023 mengatur skrining rutin, tetapi kurangnya fasilitas dan tenaga ahli membuat proses diagnostik memakan waktu dan biaya lebih tinggi.

“Skrining yang tidak optimal menyebabkan banyak pasien terlambat mendeteksi kanker paru, memperburuk prognosis dan meningkatkan beban biaya pengobatan. Di Indonesia, Key Issue ini terutama terjadi di daerah terpencil dan kelas bawah, di mana akses ke pemeriksaan berkualitas terbatas,” kata Prof. Dr. dr. Laksmi Wulandari, Sp.P(K), FISCM, FISR.

Kendala dalam Pengobatan Inovatif

Kemajuan terapi kanker paru seperti imunoterapi dan terapi target memberikan harapan baru, tetapi akses ke pengobatan ini masih jauh dari merata. Untuk pasien non-sel kecil (NSCLC) dengan mutasi EGFR, terapi generasi ketiga seperti Osimertinib direkomendasikan dalam pedoman klinis internasional. Namun, di Indonesia, Key Issue utama adalah kurangnya dukungan finansial dan kebijakan untuk menjamin terapi ini tersedia ke semua kalangan. BPJS Kesehatan hanya menanggung terapi generasi pertama dan kedua, sementara negara-negara Asia seperti Jepang, Singapura, dan Korea Selatan sudah menerapkan terapi ketiga secara luas.

“Pengobatan inovatif dianggap sebagai Key Issue dalam penurunan angka kematian kanker paru, tetapi hambatan infrastruktur dan dana membuatnya sulit diakses oleh sebagian besar populasi. Tanpa perluasan akses, Key Issue ini akan terus menghambat kemajuan penanganan penyakit,” tambah pakar tersebut.

Pola Kebiasaan Hidup dan Risiko Lain

Secara umum, kanker paru dikaitkan dengan kebiasaan merokok, tetapi Key Issue ini tidak hanya terbatas pada faktor tersebut. Pola hidup sehat seperti polusi udara, pola makan tinggi lemak, dan kurangnya aktivitas fisik juga berkontribusi terhadap risiko kanker paru. Studi dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa 25 persen penderita kanker paru di Indonesia tidak memiliki riwayat merokok, menunjukkan peran faktor lingkungan dan genetik yang signifikan. Kondisi ini memperumit upaya pencegahan, terutama di kalangan masyarakat urban yang terpapar polusi industri.

“Selain rokok, faktor lingkungan dan gaya hidup seperti polusi udara dan kurangnya olahraga juga menjadi Key Issue dalam meningkatkan insidensi kanker paru. Dengan adanya faktor ini, pencegahan harus dilihat dari sudut pandang lebih luas,” ujar Dr. Dian Saputra, ahli onkologi.

Kurangnya Edukasi dan Kesadaran Masyarakat

Salah satu Key Issue dalam pengelolaan kanker paru adalah kurangnya kesadaran masyarakat tentang gejala dan risiko dini. Banyak orang mengabaikan tanda-tanda awal seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, atau penurunan berat badan karena tidak memahami hubungan antara pola hidup dan penyakit. Hal ini membuat penderita sering terlambat memeriksakan diri ke dokter, yang berdampak pada tingkat keterlambatan diagnosis. Edukasi terkait faktor risiko kanker paru perlu ditingkatkan, terutama di kalangan perempuan yang semakin rentan.

“Kurangnya edukasi tentang penyebab dan tanda kanker paru adalah Key Issue yang menghambat upaya pencegahan. Masyarakat perlu lebih awas dan memahami bahwa penyakit ini tidak hanya terkait dengan kebiasaan merokok,” jelas Dr. Rina Sari, konsultan penyakit dalam.

Langkah Pemecahan untuk Mengatasi Key Issue

Mengatasi Key Issue dalam penanganan kanker paru memerlukan kolaborasi antara pemerintah, institusi kesehatan, dan masyarakat. Peningkatan akses ke skrining LDCT, perluasan penggunaan terapi inovatif, serta edukasi tentang gaya hidup sehat dapat menjadi solusi. Pemerintah diusulkan untuk menyediakan subsidi atau insentif untuk program skrining di daerah-daerah yang kurang dilayani. Selain itu, penerapan kebijakan yang lebih inklusif dalam sistem pembiayaan kesehatan dapat mengurangi beban pasien dan meningkatkan kualitas pengobatan.

“Pemecahan Key Issue ini membutuhkan komitmen jangka panjang dan investasi dalam sistem kesehatan. Jika tidak segera diperbaiki, kanker paru akan terus menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Indonesia,” tegas Dr. Rina Sari.

Gabung diskusi