Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Key Discussion: Ini Lirik Lagu Lalaki Langit Ciptaan Bupati Purwakarta yang Tuai Kecaman, Dinilai Rendahkan Wanita

Sarah Martinez - narakabar.com 4 mins read 11 views

Lagu "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" Bupati Purwakarta Picu Kontroversi Peluncuran Lagu dan Konteks Awal Key Discussion - Lagu berbahasa Sunda yang ditulis

Key Discussion: Ini Lirik Lagu Lalaki Langit Ciptaan Bupati Purwakarta yang Tuai Kecaman, Dinilai Rendahkan Wanita

Lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” Bupati Purwakarta Picu Kontroversi

Peluncuran Lagu dan Konteks Awal

Key Discussion – Lagu berbahasa Sunda yang ditulis oleh Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau akrab disapa Om Zein pertama kali diperkenalkan dalam acara Hajat Bumi di Lingga Mukti. Lagu ini dianggap sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas keberadaan sebagai laki-laki. Namun, karya musik tersebut menimbulkan polemik setelah diunggah ke media sosial, terutama karena liriknya yang dinilai mengandung stereotip gender. Key Discussion mengungkap bahwa lirik lagu ini memicu perdebatan mengenai representasi perempuan dalam seni dan budaya lokal.

Peluncuran lagu ini terjadi di tengah upaya Om Zein untuk mempromosikan budaya Sunda melalui karya seni. Key Discussion menyebutkan bahwa lagu tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari inisiatif pemerintah daerah untuk membangkitkan kebanggaan lokal. Namun, kritik mulai muncul ketika beberapa bait lirik dianggap mengaitkan perempuan dengan sifat lemah atau tidak seimbang dibandingkan laki-laki. Key Discussion menjelaskan bahwa polemik ini menunjukkan ketidakseimbangan antara penciptaan seni dan kesadaran akan isu sosial.

Kontroversi dan Kritik Publik

Bupati Purwakarta menjadi sorotan media setelah lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” menuai kecaman dari berbagai kalangan. Key Discussion menyoroti pernyataan Anggota DPR RI Atalia Praratya yang menekankan bahwa lirik lagu tersebut menggambarkan pandangan bahwa perempuan lebih rendah dari laki-laki. Ia menyoroti bagaimana frasa seperti “Cacak mun jadi awewe, Andai saja jadi perempuan” bisa memperkuat prasangka dalam masyarakat.

“Lirik lagu itu menunjukkan stereotip bahwa perempuan lebih rendah dari laki-laki. Ini bisa memperkuat prasangka yang sudah ada dalam masyarakat,” ujar Atalia Praratya.

Kontroversi ini juga merambat ke berbagai forum diskusi dan media lokal. Key Discussion mencatat bahwa kebanyakan kritik datang dari komunitas perempuan dan aktivis kesetaraan gender. Mereka menilai bahwa lagu ini tidak hanya memperparah kesan bahwa laki-laki lebih unggul, tetapi juga mengabaikan peran penting perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Key Discussion menambahkan bahwa polemik ini menjadi contoh bagaimana seni bisa menjadi sarana menyampaikan pandangan, baik positif maupun negatif, tergantung interpretasi masyarakat.

Isi Lirik dan Makna

Lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” memiliki lirik yang menimbulkan perdebatan. Beberapa bait seperti:

“Cacak mun jadi awewe, Andai saja jadi perempuan”

“ES-Em-Pe kelas tilu, SMP kelas tiga”

“Tos Karuron tujuh kali, Sudah keguguran tujuh kali”

Menjadi sorotan karena dikaitkan dengan pelecehan terhadap perempuan. Frasa seperti “Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki, Sudah menciptakan aku jadi laki-laki” dinilai menggambarkan pandangan bahwa laki-laki lebih unggul dibandingkan perempuan. Key Discussion menyebutkan bahwa lirik-lirik ini mengandung implikasi bahwa perempuan harus “menjadi” sesuatu yang dianggap lebih rendah, sementara laki-laki memiliki keunggulan alami. Kritik terus berlanjut setelah Om Zein mengunggah lagu tersebut ke TikTok pribadinya pada 18 Januari 2026, memperbesar lingkup perdebatan publik.

“Lirik-lirik ini mengaitkan perempuan dengan kelemahan, sementara laki-laki digambarkan sebagai pihak yang lebih dominan. Ini menggambarkan pandangan gender yang masih kaku dan tidak seimbang,” kata salah satu pengamat kesetaraan gender.

Respons dan Perdebatan Budaya

Key Discussion mengungkapkan bahwa respons masyarakat terhadap lagu ini bervariasi. Sebagian menganggap lagu sebagai bentuk seni yang mencerminkan tradisi lama, sementara sebagian lain menilainya sebagai simbol penindasan terhadap perempuan. Diskusi ini memicu perdebatan tentang apakah seni bisa menjadi media untuk memperkuat stereotip atau sebaliknya, mengubah pola pikir masyarakat. Key Discussion juga menyoroti bagaimana budaya Sunda, yang terkenal dengan nilai-nilai tradisional, bisa menjadi sumber perdebatan dalam konteks modern.

Sejumlah tokoh masyarakat setempat mengatakan bahwa lagu ini muncul sebagai bentuk ekspresi kebanggaan akan keunggulan laki-laki dalam masyarakat. Namun, kritikus menegaskan bahwa tidak semua laki-laki memiliki sifat “langit” atau “bejat” yang disebut dalam lirik. Key Discussion menambahkan bahwa lagu ini menjadi bahan analisis dalam berbagai forum diskusi, termasuk di media sosial dan komunitas lokal, yang semakin memperluas wacana tentang peran gender dalam seni.

Kemungkinan Penyesuaian dan Dampak

Setelah kontroversi memanas, Bupati Purwakarta mengambil langkah untuk memperjelas maksud dari lagu tersebut. Key Discussion mencatat bahwa Om Zein berusaha menjelaskan bahwa lirik lagu ini bukan untuk menyerang perempuan, tetapi sebagai bentuk penghargaan terhadap peran laki-laki dalam kehidupan. Namun, penjelasan ini tidak sepenuhnya menenangkan kritikus yang menilai bahwa frasa-frafa seperti “Lalanang Bejat” tetap memicu persepsi negatif terhadap perempuan.

Kritik terus berlanjut setelah Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jabar mengambil langkah tegas dengan melayangkan somasi terbuka kepada Om Zein. Key Discussion menyebutkan bahwa LBH Jabar meminta pemimpin daerah tersebut menghapus lagu dari platform media sosial agar tidak menyebarkan stereotip yang dinilai merendahkan perempuan. Sejumlah akademisi juga menyarankan agar lagu ini direvisi untuk memperkuat kesetaraan gender dalam ekspresi seni.

Gabung diskusi