Bobby Nasution Resmikan BRT Mebidang, Dorong Integrasi Transportasi Publik Mebidang
Kepadatan lalu lintas di Kota Medan telah menyentuh 54,2 persen berdasarkan data TomTom Traffic Index, angka yang mengubah perjalanan sepuluh menit menjadi
Bobby Nasution Resmikan BRT Mebidang
Narakabar.com – Kepadatan lalu lintas di Kota Medan telah menyentuh 54,2 persen berdasarkan data TomTom Traffic Index, angka yang mengubah perjalanan sepuluh menit menjadi jam-jam terjebak di jalan. Di tengah persoalan struktural itu, Bobby Nasution Resmikan BRT Mebidang menjadi langkah konkret pemerintah daerah dan pusat untuk mengubah wajah mobilitas perkotaan di Sumatera Utara. Program Bus Rapid Transit ini merupakan proyek percontohan Kementerian Perhubungan yang mendapat dukungan pendanaan Bank Dunia, mencakup dua koridor utama di kawasan metropolitan Medan, Binjai, dan Deli Serdang.
Peristiwa Peresmian dan Rincian Operasional
Pada Rabu, 19 Agustus 2026, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution secara resmi mengoperasikan armada bus listrik BRT Mebidang. Dua koridor layanan — Medan–Binjai dan Medan–Lubukpakam — dibuka sebagai tulang punggung transportasi publik berbasis energi listrik di kawasan yang mencakup tiga wilayah administratif. Peresmian ini menandai transisi dari tahap uji coba ke layanan publik yang dapat diakses masyarakat secara langsung.
Operasi penuh dengan 30 unit bus listrik dijadwalkan aktif pada 8 Desember 2026. Skema tarif dirancang agar terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk pekerja harian dan pelajar. Seusai prosesi peresmian, gubernur beserta rombongan langsung menaiki bus dari Terminal Lubukpakam menuju Pos Blok Lapangan Merdeka di pusat Kota Medan, membuktikan kelayakan dan kenyamanan layanan secara nyata di hadapan awak media dan warga.
Visi Integrasi: Lebih dari Sekadar Peluncuran Armada
Gubernur menegaskan bahwa keberhasilan sistem ini tidak ditentukan oleh jumlah armada atau panjang jalur semata. Konsistensi jadwal keberangkatan, standar keselamatan penumpang, kenyamanan kabin, serta kemudahan akses antarmoda menjadi tolok ukur sesungguhnya yang harus dipertahankan setiap hari.
“Semakin banyak kendaraan pribadi, semakin sulit pemerintah memberikan pelayanan. Karena itu pemerintah harus menyiapkan transportasi umum.”
Ia menyerukan seluruh kepala daerah di kawasan Mebidang untuk menanggalkan ego sektoral dan membangun integrasi lintas wilayah tanpa memandang batas administratif. Pesan utamanya jelas: perubahan budaya mobilitas dari ketergantungan kendaraan pribadi ke angkutan umum harus menjadi agenda bersama yang berkelanjutan, bukan sekadar seremoni peluncuran.
“Ini bukan launching bus, tapi transportasi yang terkoneksi dan terintegrasi, sekaligus mendorong perubahan budaya mobilitas masyarakat dari kendaraan pribadi menuju transportasi umum.”
Konteks Kebijakan Nasional dan RPJMN 2025–2029
Muiz Thohir, Direktur Angkutan Jalan di Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, menjelaskan bahwa kehadiran koridor BRT ini merupakan bagian dari strategi nasional membangun sistem transportasi perkotaan yang modern, saling terhubung, dan ramah lingkungan. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025–2029, pembangunan kawasan perkotaan ditetapkan sebagai salah satu prioritas nasional; sekitar 20 kota atau kawasan perkotaan masuk daftar prioritas, termasuk Medan dan sekitarnya.
Muiz menambahkan bahwa transportasi publik massal berperan menekan konsumsi energi fosil dan emisi karbon, sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat pada kendaraan bermotor pribadi. Investasi pada infrastruktur angkutan umum, menurutnya, merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas hidup dan produktivitas ekonomi warga.
“Pembangunan bukan semata proses fisik. Ada investasi bagi kualitas hidup masyarakat, produktivitas ekonomi serta masa depan yang lebih hijau.”
FAQ: Informasi Praktis BRT Mebidang
Kapan operasi penuh dimulai? Jadwal penuh 30 unit bus listrik aktif pada 8 Desember 2026. Layanan percontohan sudah berjalan sejak peresmian 19 Agustus 2026 dengan armada terbatas.
A
