Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA

William Williams - narakabar.com 3 mins read 2 views

Ancaman Belum Usai menjadi peringatan penting bagi masyarakat Jakarta. Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, mengingatkan bahwa bentrokan di

Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA

Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Peringatan Bentrokan Matraman

Narakabar.com – Ancaman Belum Usai menjadi peringatan penting bagi masyarakat Jakarta. Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, mengingatkan bahwa bentrokan di kawasan Matraman masih memiliki potensi untuk berkembang. Insiden yang terjadi pada hari Minggu, 26 Juli 2026, ini awalnya dipandang sebagai konflik ketertiban umum dan solidaritas antar-kampung. Namun, menurutnya, ancaman belum sepenuhnya usai karena adanya kerentanan struktural terhadap pembajakan isu SARA.

Kedua lokasi utama yang menjadi pusat kerusuhan adalah Jalan Matraman Dalam dan Jalan Tambak di Jakarta Pusat. Kejadian ini memicu banyak pertanyaan dari masyarakat luas. Banyak yang mempertanyakan apakah motif suku, agama, ras, maupun antargolongan berperan dalam keributan tersebut. Rakhmat menjelaskan bahwa pendekatan komprehensif diperlukan untuk menjawab pertanyaan ini.

Akar Konflik Bukan SARA, Tapi Kerentanan Struktural

Menurut Rakhmat, akar permasalahan yang teridentifikasi sejauh ini berkaitan erat dengan ketertiban umum dan solidaritas teritorial antar kampung. Ia menegaskan bahwa unsur SARA bukanlah faktor utama dalam insiden tersebut. Namun, konflik horizontal berbasis teritori memiliki kerentanan struktural tersendiri yang perlu diwaspadai.

“Sejauh ini kan akar konfliknya adalah soal ketertiban umum ya dan solidaritas teritorial antar kampung, bukan isu identitas suku, agama, ras atau golongan,” kata Rakhmat kepada Suara.com, Selasa (28/7/2026).

Ia menekankan bahwa konflik di kawasan seperti Tambak berpotensi untuk dibajak atau diframing menjadi isu SARA setelah kejadian berlangsung. Hal ini terutama terjadi jika ada perbedaan komposisi etnis atau agama antar kampung yang terlibat. Selain itu, adanya aktor yang punya kepentingan untuk memperbesar isu juga menjadi faktor risiko.

“Konflik horizontal berbasis teritori secara struktural rentan, seperti yang di Tambak ini gitu ya, itu memang secara struktural rentan dibajak atau di-framing narasinya menjadi isu SARA setelah kejadian, terutama kalau ada perbedaan komposisi etnis atau agama yang antar kampung yang terlibat atau kalau ada aktor yang punya kepentingan memperbesar isu untuk tujuan lain,” jelasnya.

Momentum Sensitif dan Tipologi Aktor Konflik

Rakhmat menambahkan bahwa yang perlu diwaspadai bukan hanya akar konflik saat ini, melainkan potensi penyusupan isu SARA ke depan. Hal ini mengingat momentum kejadian yang berdekatan dengan bulan Agustus. Periode ini secara historis dikenal rawan terhadap gesekan sosial. Rakhmat menyebutkan bahwa kejadian serupa pernah terjadi pada Agustus 2025.

“Misalnya, periode yang disebut sensitif seperti Agustus ya, yang mana kejadian seperti tahun lalu, Agustus 2025,” ungkapnya.

Dalam paparannya, Rakhmat mengidentifikasi empat kategori aktor sosiologis yang berpotensi masuk ke dalam celah konflik horizontal. Kategori tersebut meliputi makelar konflik, buzzer, kelompok berbasis identitas atau organisasi kemasyarakatan, serta sosok yang berpeluang menciptakan prakondisi. Keempatnya adalah kategori umum dalam kajian eskalasi konflik, bukan tuduhan terhadap pihak-pihak spesifik dalam kasus Matraman ini.

Di sisi lain, kabar baik datang dari proses penanganan kasus. Mediasi yang dilakukan aparat kepolisian telah berhasil menghasilkan perdamaian antarwarga. Keberhasilan ini menjadi sinyal positif bahwa ruang bagi penyusupan isu SARA relatif tertutup. Selama narasi resmi tetap dijaga oleh aparat dan tokoh masyarakat setempat, ancaman belum usai namun dapat dikelola dengan baik.

“Sepanjang ada aparat dan tokoh masyarakat setempat, konsisten menjaga narasi, tetap pada persoalan aslinya,” pungkas Rakhmat.

Gabung diskusi