Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Bukan Sekadar Salah Ketik, Komentar Nirempati Nakes Dinilai Cerminan Krisis Literasi Media

Robert Wilson - narakabar.com 4 mins read 4 views

Bukan Sekadar Salah Ketik Komentar yang muncul dari para tenaga kesehatan di media sosial. Fenomena ini bukan sekadar kesalahan teknis atau kecerobohan biasa

Bukan Sekadar Salah Ketik, Komentar Nirempati Nakes Dinilai Cerminan Krisis Literasi Media

Komentar Nirempati Nakes: Bukan Sekadar Salah Ketik

Narakabar.com – Bukan Sekadar Salah Ketik Komentar yang muncul dari para tenaga kesehatan di media sosial. Fenomena ini bukan sekadar kesalahan teknis atau kecerobohan biasa, melainkan cerminan dari krisis literasi media yang lebih mendalam. Menurut Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, komentar bernada nirempati tersebut menunjukkan adanya kelemahan dalam pemahaman media digital. Kondisi ini menjadikan ruang online sebagai tempat pelampiasan emosi tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat.

Jumat (7/8/2026), Fajar menyampaikan pandangannya kepada Suara.com. Ia menolak anggapan bahwa kasus ini semata-mata mencerminkan rendahnya literasi digital di kalangan masyarakat luas. Sebaliknya, ia melihat akar masalah yang lebih dalam terkait bagaimana tenaga kesehatan berinteraksi di dunia maya. Banyak yang belum menyadari bahwa setiap unggahan turut membangun persepsi publik terhadap profesi mereka.

Teori James Potter tentang Literasi Media

Melalui lensa teori James Potter, literasi media memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kemampuan mengoperasikan perangkat atau membuat konten. Seorang yang melek media harus mampu berpikir kritis untuk memahami pembentukan pesan, dampaknya terhadap persepsi publik, serta tanggung jawab atas setiap unggahan yang dibuat. Pemahaman ini menjadi kunci dalam mengatasi fenomena nirempati di media sosial.

Saya tidak setuju jika fenomena ini hanya dibaca sebagai cerminan lemahnya literasi digital masyarakat kita secara umum.

Fajar menjelaskan bahwa masih banyak pengguna media sosial, termasuk sebagian tenaga kesehatan, yang memperlakukan platform digital layaknya ruang curhat pribadi. Mereka belum sepenuhnya menyadari bahwa setiap postingan turut membangun persepsi masyarakat terhadap profesi mereka. Hal ini menjadi lebih krusial mengingat posisi strategis tenaga kesehatan yang memiliki otoritas keilmuan.

Banyak dari kita, termasuk sebagian nakes, masih memperlakukan media sosial seperti ruang curhat pribadi tanpa menyadari bahwa setiap unggahan adalah konstruksi yang membentuk persepsi publik.

Tekanan Profesi dan Dampak Empati

Dalam perspektif Potter, kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara aktivitas memproduksi konten dengan kemampuan menganalisis dampaknya. Tenaga kesehatan yang aktif berkomentar di media sosial belum tentu memiliki kapasitas untuk mengevaluasi efek emosional dari pesan yang mereka sampaikan. Ketika kelelahan, frustrasi, dan tekanan kerja dibawa ke media sosial tanpa pengelolaan emosi yang baik, unggahan tersebut dapat disalahartikan sebagai bentuk penghakiman.

Tanpa kemampuan memproses secara sadar seperti yang ditekankan Potter, pelampiasan itu berubah menjadi nirempati yang terlihat publik. Mereka lupa bahwa pasien dan keluarga pasien sedang dalam posisi rentan, dan setiap kalimat di media sosial bisa terasa seperti penghakiman.

Perlu dicatat bahwa kasus Yurizal menjadi salah satu contoh nyata di mana nakes di Jakarta dilarang keras mencibir pasien BPJS. Hal ini menunjukkan betapa sensitifnya interaksi antara tenaga kesehatan dan masyarakat di era digital. Kasus ini menjadi pengingat penting bagi seluruh tenaga kesehatan untuk lebih bijak dalam berkomunikasi.

Solusi melalui Pelatihan Institusional

Fajar menekankan bahwa akar masalah bukan hanya pada rendahnya literasi digital masyarakat secara umum. Ada dinamika khas dalam profesi tenaga kesehatan, seperti ketimpangan relasi kuasa, tekanan pekerjaan tinggi, dan beban layanan yang besar. Faktor-faktor ini membuat sikap nirempati lebih mudah muncul di ruang digital dan berdampak signifikan terhadap kepercayaan publik.

Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan bukan sekadar himbauan untuk bijak bermedia. Fajar menyarankan agar institusi kesehatan segera menyelenggarakan pelatihan literasi media secara sistematis. Tujuannya adalah memastikan tenaga kesehatan mampu menganalisis, mengevaluasi, dan menyusun komunikasi yang tetap empatik di ruang digital.

Yang dibutuhkan bukan hanya himbauan ‘bijak bermedia’, melainkan pelatihan literasi media yang serius di level institusi.

Menurut Fajar, tanpa langkah-langkah konkret tersebut, media sosial akan terus memperlebar jarak antara pihak yang melayani dan yang dilayani. Pelatihan yang komprehensif diharapkan dapat membantu tenaga kesehatan menjaga empati di tengah tantangan dunia digital yang semakin kompleks.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Krisis Literasi Media

Apa yang dimaksud dengan literasi media menurut James Potter? Literasi media menurut Potter adalah kemampuan berpikir kritis untuk memahami pembentukan pesan, dampaknya terhadap persepsi publik, serta tanggung jawab atas setiap unggahan yang dibuat di media digital.

Mengapa komentar nirempati nakes menjadi masalah serius? Komentar nirempati menjadi masalah serius karena tenaga kesehatan memiliki posisi strategis dengan otoritas keilmuan. Ketika mereka melontarkan komentar tanpa empati, hal tersebut dapat disalahartikan sebagai penghakiman oleh masyarakat.

Apa solusi yang disarankan untuk mengatasi masalah ini? Solusi yang disarankan adalah pelatihan literasi media secara sistematis di tingkat institusi kesehatan. Hal ini memastikan tenaga kesehatan mampu mengelola emosi dan berkomunikasi dengan lebih empatik di media sosial.

Bagaimana hubungan antara tekanan kerja dan komentar nirempati? Tekanan kerja yang tinggi membuat tenaga kesehatan cenderung menggunakan media sosial sebagai ruang curhat. Tanpa pengelolaan emosi yang baik, pelampiasan ini berubah menjadi komentar nirempati yang terlihat publik.

Gabung diskusi