Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Nasional

Dari Pencurian Ayam hingga Bentrok Jalanan: Mengapa Amuk Massa Terus Berulang?

Christopher Williams - narakabar.com 3 mins read 4 views

Dalam kurun waktu satu minggu terakhir, Indonesia menyaksikan setidaknya tiga peristiwa kekerasan kolektif yang berakhir tragis. Lokasi-lokasi yang

Dari Pencurian Ayam hingga Bentrok Jalanan: Mengapa Amuk Massa Terus Berulang?

Amuk Massa: Dari Pencurian Ayam hingga Bentrok Jalanan

Polanya Sama, Pemicunya Berbeda

Narakabar.com – Dalam kurun waktu satu minggu terakhir, Indonesia menyaksikan setidaknya tiga peristiwa kekerasan kolektif yang berakhir tragis. Lokasi-lokasi yang berbeda—Bali, Morowali, hingga Matraman—namun memiliki kesamaan pola yang mengkhawatirkan. Ketika emosi massa menguasai situasi, hukum dan nalar sering kali tersingkir hanya dalam hitungan menit. Fenomena ini menunjukkan bahwa amuk massa bukan sekadar reaksi spontan, melainkan akumulasi dari berbagai tekanan sosial yang telah lama menumpuk di masyarakat.

Meskipun masing-masing kasus dipicu oleh masalah yang berbeda-beda, ketiganya menunjukkan transformasi konflik yang awalnya terbatas menjadi kekerasan massal yang berujung pada hilangnya nyawa. Masyarakat yang seharusnya mengandalkan sistem hukum justru memilih jalan main hakim sendiri ketika merasa keadilan tidak kunjung datang.

Tiga Kasus yang Mengguncang

Di Tabanan, Bali, seorang pria dengan inisial KD menjadi korban pengeroyokan warga. Kematian ini terjadi setelah ia dituduh hendak mencuri ayam pada hari Jumat, tanggal 24 Juli 2026. Warga setempat yang sedang merasa frustrasi akibat maraknya kehilangan ternak ayam di wilayah mereka, langsung mengambil tindakan. Sepeda motor yang digunakan KD juga ikut dibakar dalam kemarahan tersebut. Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana Dari Pencurian Ayam hingga Bentrok dapat terjadi dalam waktu singkat.

Sementara itu, di Morowali, Sulawesi Tengah, kejadian serupa menimpa seorang pria berusia 33 tahun dengan inisial S. Pada Sabtu, 25 Juli 2026, ia diduga mencuri sepeda motor di depan sebuah minimarket. Warga setempat menangkapnya dan melakukan pengeroyokan yang menyebabkan luka serius. Korban kemudian meninggal dunia setelah sempat mendapatkan perawatan medis. Ketiganya menunjukkan bahwa amuk massa tidak mengenal batas wilayah atau jenis kejahatan.

Kasus ketiga terjadi di Matraman, Jakarta Timur. Konflik antarkelompok yang awalnya terkait dengan masalah makan usut punya usut, ternyata dipicu oleh suara knalpot brong. Perselisihan kecil ini kemudian berkembang menjadi bentrokan jalanan yang memakan korban jiwa. Berbeda dengan dua kasus sebelumnya, bentrokan ini tidak berawal dari tindak pencurian melainkan dari gesekan sehari-hari yang membesar.

Psikologi di Balik Amuk Massa

Mengapa massa begitu mudah bergerak dari kemarahan menuju tindakan brutal? Guru Besar Psikologi UGM, Koentjoro, menjelaskan fenomena ini melalui teori frustrasi-agresi. Menurut teori ini, ketika seseorang mengalami frustrasi yang menumpuk, ia akan cenderung menunjukkan perilaku agresif sebagai respons. Frustrasi tersebut tidak berdiri sendiri dan dapat dipengaruhi oleh berbagai persoalan sosial maupun ekonomi.

“Kunci teori yang bisa digunakan adalah teori frustrasi-agresi. Jadi, semakin seseorang itu frustrasi, numpuk-numpuk-numpuk, nah agresivitasnya muncul,” jelas Koentjoro kepada Suara.com pada Selasa, 28 Juli 2026.

Kenaikan harga dan menurunnya daya beli, misalnya, dapat memperbesar tekanan psikologis masyarakat. Dalam kerumunan, frustrasi yang semula dirasakan secara pribadi dapat berubah menjadi emosi bersama. Koentjoro menambahkan bahwa kehadiran banyak orang yang merasakan tekanan serupa membuat satu pemantik cukup untuk menyatukan kemarahan dan mendorong tindakan agresif.

“Kumpulan ini kan banyak yang mereka itu pada frustrasi kan. Lah masing-masing frustrasi ada satu pemantik-nya ya udah mangkel (emosi) bareng,” ucapnya.

Hilangnya Kepercayaan pada Hukum

Sosiolog UGM menyatakan bahwa aksi main hakim sendiri terjadi karena hilangnya kepercayaan publik terhadap hukum. Dalam situasi seperti itu, dugaan pelanggaran tidak lagi diproses melalui jalur hukum, melainkan dijawab dengan penghukuman di tempat. Masyarakat cenderung merasa bahwa proses hukum terlalu lambat dan tidak memberikan keadilan yang mereka harapkan.

Pada kasus Tabanan dan Morowali, korban bahkan belum tentu terbukti bersalah ketika kekerasan terjadi. Namun, tuduhan dan kemarahan kolektif sudah cukup untuk mengubah warga menjadi pihak yang menangkap, mengadili, sekaligus menjatuhkan hukuman. Hal ini menunjukkan bahwa Dari Pencurian Ayam hingga Bentrok sering kali terjadi tanpa verifikasi fakta yang memadai.

Sementara itu, bentrokan Matraman memperlihatkan bahwa kekerasan massa tidak selalu berawal dari tindak kriminal. Gesekan sehari-hari yang seharusnya dapat diredam justru membesar ketika identitas kelompok, solidaritas, dan dorongan membalas ikut masuk ke dalam konflik. Situasi tersebut diperkuat oleh sifat emosi yang mudah menular di tengah massa.

Ketika satu orang mulai berteriak, memprovokasi, atau melakukan kekerasan, tindakan itu dapat memicu orang lain untuk ikut bergerak tanpa mempertimbangkan dampaknya secara utuh. Kekerasan massa tidak selalu lahir secara tiba-tiba. Dalam banyak kasus, emosi yang telah menumpuk dapat menemukan pemantik ketika seseorang berada di tengah kerumunan yang memiliki kemarahan atau rasa frustrasi serupa.

Gabung diskusi